Menurut Morgan dan King (1986) dalam Waluyo (2009) stres kerja adalah
suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik
(badan) atau lingkungan, dan situasi sosial yang berpotensi merusak dan tidak
terkontrol. Sedangkan menurut Cooper dan Hager (1994) dalam Waluyo (2009)
stres kerja didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal
yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau
melebihi batas kemampuan subyek.
Menurut Selye (1956) dalam Waluyo (2009) stres kerja diartikan sebagai
sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi
fisiologis, psikologis, dan perilaku. Lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai
stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang
dipersepsikan pegawai sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.
Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk
menghadapi lingkungan. Sebagai hasilnya, pada diri pegawai berkembang
berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan
mereka (Rivai, 2009).
Perbedaan individu memiliki konsekuensi adanya perbedaan tingkat stres
yang dialami karyawan. Dengan kata lain, untuk tingkat stres yang sama, belum
tentu masing-masing karyawan merasakan efek yang sama. Faktor individu yang
umum mempengaruhi respon stres terhadap seseorang antara lain: keturunan, usia,
jenis kelamin, dukungan sosial, dan kepribadian (Kreitner & Kinicki, 2005).
Persepsi, locus of control, pengalaman kerja, dan keyakinan diri merupakan
faktor-faktor individu yang dapat mempengaruhi respon seseorang terhadap stres
yang dialami (Robbins & Judge, 2008)
Rabu, 26 April 2023
Stres Kerja
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar