Jumat, 28 April 2023

Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen


Menurut Fadah (2013:149) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi
kebijakan dividen antara lain sebagai berikut. 
1. Undang-undang, undang-undang menentukan bahwa dividen harus dibayar dari
laba, baik laba tahun berjalan maupun laba tahun lalu yang ada dalam pos “laba
ditahan” (retairned earnings) dalam neraca.
2. Posisi likuiditas, meskipun suatu perusahaan mempunyai catatan mengenai
laba, perusahaan mungkin tidak dapt membayar dividen kas karena posisi
likuiditasnya, biasanya perusahaan mempunyai kebutuhan dana yang sangat
mendesak sehingga perusahaan dapat memutuskan untuk tidak membayar
dividen.
3. Kebutuhan untuk melunaskan hutang, apabila perusahaan mengambil hutang
untuk membiayai ekspansi atau mengganti jenis pembiayaan yang lain,
perusahaan tersebut menghadapi 2 pilihan. Perusahaan dapat membayar hutang
itu pada saat jatuh tempo dan menggantikannya dengan jenis surat berharga
lain, atau perusahaan dapat memutuskan untuk melunaskan hutang tersebut.
Jika keputusannya adalah membayar hutang tersebut, maka ini biasanya
memerlukan penyimpanan laba.
4. Larangan dalam perjanjian hutang, pada umumnya perjanjian hutang antara
perusahaan dengan kreditor membatasi pembayaran dividen. Misalnya, dividen
hanya dapat diberikan jika kewajiban hutang telah dipenuhi perusahaan dan
atau rasio-rasio keuangan menunjukkan perusahaan dalam kondisi sehat.
5. Tingkat ekspansi aktiva, semakin cepat suatu perusahaan berkembang, semakin
besar kebutuhannya untuk membiayai ekspansi aktivanya. Kalau kebutuhan
dana di masa depan semakin besar, perusahaan akan cenderung untuk menahan
laba dari pada membayarkannya. 
6. Tingkat laba, tingkat hasil pengembalian atas aktiva yang diharapkan akan
menentukan pilihan relatif untuk membayar laba tersebut dalam bentuk dividen
pada pemegang saham atau menggunakan di perusahaan tersebut.
7. Stabilitas laba, suatu perusahaan yang mempunyai laba stabil sering kali dapat
memperkirakan berapa besar laba di masa yang akan datang. Perusahaan
seperti ini biasanya cenderung membayarkan laba dengan presentase yang
lebih tinggi daripada perusahaan yang labanya berfluktuasi.
8. Peluang ke pasar modal, suatu perusahaan besar dan telah berjalan baik, dan
mempunyai catatan profitabilitas dan stabilitas laba akan mempunyai peluang
besar untuk masuk ke pasar modal dan bentuk-bentuk pembiayaan eksternal
lainnya.
9. Kendali (control), jika manajemen ingin mempertahankan kontrol terhadap
perusahaan, ia cenderung untuk segan menjual saham baru sehingga lebih suka
menahan laba guna memenuhi kebutuhan dana baru. Akibatnya dividen yang
dibayar menjadi kecil.
10. Posisi pemegang saham sebagai pembayar pajak, posisi pemilik perusahaan
sebagai pembayar pajak sangat mempengaruhi keinginanya untuk
memperoleh dividen. Suatu perusahan yang dipegang hanya oleh beberapa
pembayar pajak dalam golongan berpendapatan tinggi, cenderung untuk
membayar dividen yang rendah. Pemilik memilih untuk mengambil
pendapatan mereka dalam bentuk peningkatan modal daripada dividen,
karena dividen akan terkena pajak penghasilan pribadi yang lebih tinggi. 
Akan tetapi, pemegang saham dari perusahaan yang dimiliki oleh orang
banyak akan memilih pembayaran dividen yang tinggi.
11. Pajak atas laba yang diakumulasikan secara salah, untuk mencegah pemegang
saham hanya menggunakan perusahaan sebagai suatu “perusahaan penyimpan
uang (incorporated pocket book) yang dapat digunakan untuk menghindari
tarif pajak penghasilan pribadi yang tinggi, peraturan perpajakan perusahaan
menentukan suatu pajak tambahan khusus terhadap penghasilan yang
diakumulasikan secara tidak benar.

Tidak ada komentar: