Adversity quotient dikembangkan pertama kali oleh Stoltz (Seorang
konsultan yang sangat terkenal dalam topik-topik kepemimpinan di dunia
kerja dan dunia pendidikan berbasis skill. Ia menganggap bahwa IQ dan EQ
yang sedang marak dibicarakan itu tidaklah cukup dalam meramalkan
kesuksesan seseorang (Stoltz, 2000).
Adversity quotient mempunyai tiga bentuk konsep. Pertama, adversity
quotient adalah suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami
dan meningkatkan semua segi kesuksesan. Kedua, adversity quotient adalah
suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang terhadap kesulitan. Ketiga,
adversity quotient adalah serangkaian peralatan yang memiliki dasar untuk
memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan, yang akan berakibat
memperbaiki efektifitas pribadi dan profesional secara keseluruhan. Ketiga
konsep ini merupakan sebuah paket yang lengkap sebagai pengetahuan, tolak
ukur, dan peralatan yang praktis untuk memahami dan memperbaiki
kehidupan seseorang dalam sehari-hari dan seumur hidup.
Berdasarkan pengamatan Stoltz di dunia ini banyak orang dengan
intellegence quotient (IQ) yang tinggi akan tetapi tidak mampu mewujudkan
potensinya, oleh karena itu diperkenalkanlah konsep emotional quotient (EQ)
yang dianggap lebih penting dari IQ. Namun kemudian tidak semua orang
mampu menarik manfaat dari kapasitas IQ dan EQ, dan pada akhirnya Stoltz
menawarkan konsep adversity quotient (AQ) dan menyatakan bahwa adversity
quotient merupakan jawaban mengapa seseorang tetap melanjutkan pendakian
disaat yang lain menyerah.
Stoltz (2000) mengelompokkan individu berdasarkan pengalamannya
ketika meilihat para pendaki Mount Everest sehingga membaginya menjadi
tiga tipe: quitter, camper, dan climber. Penggunaan istilah ini memang
berdasarkan pada sebuah kisah ketika para pendaki gunung yang hendak
menaklukkan Everest. Ia melihat ada pendaki yang menyerah sebelum
pendakian selesai, ada yang merasa cukup puas sampai pada ketinggian
tertentu, dan ada pula yang benar-benar berkeinginan menaklukkan puncak
tersebut. Dari pengalaman tersebut kemudian Stoltz mengistilahkan orang
yang berhenti di tengah jalan sebelum usai sebagai quitter, kemudian mereka
yang merasa puas berada pada posisi tertentu sebagai camper, sedangkan yang
terus ingin meraih kesuksesan ia disebut sebagai climber, sehingga menurut
Stoltz (2000) berpendapat bahwa adversity quotient adalah variabel yang
menentukan apakah seseorang tetap menaruh harapan dan terus memegang
kendali dalam situasi yang sulit.
Menurut Supardi (2001) “adversity quotient adalah kecerdasan yang
dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan bertahan hidup”. Secara
sederhana adversity quotient dapat didefinisikan sebagai kecerdasan individu
dalam menghadapi kesulitan dan bertahan dari kesulitan tersebut. Jika
seseorang berhadapan dengan berbagai kesulitan hidup, maka kecerdasan yang
digunakan adalah adversity quotient
Sabtu, 15 April 2023
Pengertian Adversity Quotient
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar