Kamis, 28 Oktober 2021

Teori Keagenan (Agency Theory) (skripsi dan tesis)


Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan sebagai
“agency relationship as a contract under which one or more person (the
principals) engage another person (the agent) to perform some service on
their behalf which involves delegating some decision making authority to
the agent”. Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu
atau lebih orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk
melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta memberi wewenang kepada
agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Jika kedua belah
pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan nilai
perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai
dengan kepentingan prinsipal.
Teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi (Eisenhardt, 1989
dalam Emirzon, 2007). Asumsi-asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi keorganisasian dan
asumsi informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa manusia
memiliki sifat mementingkan diri sendiri (self-interest), manusia memiliki
daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu menghindari resiko (risk averse). 
Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota
organisasi, efisiensi sebagai kriteria efektivitas dan adanya asimetri
informasi antara principal dan agent. Asumsi informasi adalah bahwa
informasi sebagai barang komoditi yang dapat diperjualbelikan.
Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia dijelaskan bahwa masing-masing
individu lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri sehingga hal ini
dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak
pemilik (principal) termotivasi mengadakan kontrak untuk
mensejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat.
Sedangkan manajer (agent) termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan
ekonomi dan psikologinya, antara lain dalam hal memeroleh investasi,
pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Dengan demikian terdapat dua
kepentingan yang berbeda didalam perusahaan yang masing-masing ingin
mempertahankan dan mencapai kemakmuran atau keuntungan yang
dikehendaki.
Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk
memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agent memanfaatkan
adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan
beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Asimetri informasi dan
konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong
agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada
principal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran
kinerja agent. Hal ini memacu agent untuk memikirkan bagaimana angka 
akuntansi tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan
kepentingannya. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut adalah yang
disebut sebagai manajemen laba (Widyaningdyah, 2001 dalam Edgina,
2008).
Biaya modal ekuitas merupakan tingkat pengembalian yang
diharapkan investor atas investasi mereka dalam perusahaan. Salah satu
faktor penting dalam menentukan biaya modal ekuitas suatu perusahaan
adalah resiko yang berkaitan dengan infomasi perusahaan. Informasi laba
menjadi salah satu faktor resiko dari infomasi perusahaan yang
dipublikasikan. Dalam hal ini, keagenan berkaitan dengan kebijakan dan
keputusan agent yang sangat penting karena menentukan tingkat resiko
investasi dalam penanaman saham oleh investor (Pratista, 2013).
Di era globalisasi seperti saat ini, persaingan dalam dunia bisnis
begitu ketat. Maksimalisasi laba sudah menjadi suatu keharusan bagi
perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya,
bersaing dengan kompetitor, dan menguasai pasar. Perusahaan dapat
melakukan maksimalisasi laba dengan cara meningkatkan pendapatan
dan/atau mengurangi biaya-biaya. Untuk mencapai tujuan perusahaan,
perusahaan dalam hal ini agen maupun prinsipal harus saling bekerjasama
agar tujuan itu dapat tercapai. Salah satu strategi atau cara yang dapat
dilakukan yaitu melalui pengungkapan corporate social responsibility
(CSR) dalam laporan tahunan.

Tidak ada komentar: