Biaya modal ekuitas merupakan sebuah perhitungan tingkat diskonto
yang dikenakan pada saham perusahaan oleh pelaku pasar atas dasar
perkiraan arus kas masa depan perusahaan untuk menetukan harga saham
saat ini (Mangena et al., 2010).
Menurut Botosan dan Plumlee (2000) dalam Kharisma (2006)
pengukuran biaya modal ekuitas dipengaruhi oleh model penilaian
perusahaan yang digunakan, yaitu:
a. Model penilaian pertumbuhan konstan (Constant of Growth Valuation
models)
Dasar pemikiran yang digunakan dalam model penilaian pertumbuhan
konstan ini adalah nilai saham sama dengan nilai tunai (present value)
dari semua deviden yang akan diterima di masa yang akan datang
(diasumsikan pada tingkat pertumbuhan konstan) dalam waktu yang
tidak terbatas.
Penentuan biaya laba ditahan dengan pendekatan ini mengacu pada
penilaian saham biasa dengan pertumbuhan konstan atau normal.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah bahwa tingkat pertumbuhan
deviden konstan ini dalam kenyataannya mungkin tidak selalu tepat.
b. Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Berdasarkan model CAPM, biaya modal saham biasa adalah tingkat
return yang diharapkan oleh investor sebagai kompensasi atas resiko
yang tidak dapat didiversifikasi yang diukur dengan beta.
c. Model Ohlson
Model Ohlson digunakan untuk mengestimasi nilai perusahaan dengan
berdasarkan pada nilai buku ekuitas ditambah dengan nilai tunai dari
laba abnormal. Dalam mengestimasi biaya modal ekuitas Botosan
(1997) dalam Utami (2005) pada dasarnya memakai model Ohlson.
Model ini akan digunakan dalam proksi biaya modal ekuitas dimana
berdasarkan penelitian Botosan (1997) menghitung ekspektasi biaya
modal ekuitas dengan menggunakan estimasi laba per lembar saham
untuk periode lima tahun ke depan (t=5) dan memakai data forecast
laba per saham yang dipublikasikan oleh Value Line. Di Indonesia
publikasi data forecast laba per saham tidak ada. Oleh karena itu,
estimasi laba per lembar saham penelitian ini menggunakan model
random walk. Alasan untuk menggunakan estimasi model random
didasarkan pada hasil penelitian Rini (2002) dalam Utami (2005) yang
menyimpulkan bahwa model tersebut dapat digunakan sebagai
alternatif dalam mengukur prakiraan laba. Hal ini sejenis dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh Qizam (2001) dalam Utami
(2005) yang menyimpulkan bahwa laba tahunan Indonesia mengikuti
random walk. Model random walk ini digunakan sebagai alternatif
dalam mengukur prakiraan laba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar