Persepsi sendiri diartikan Kotler (2006:189) sebagai proses seseorang
memilih, mengatur, dan mengartikan informasi yang didapat untuk
menggambarkan makna utuh suatu objek. Keputusan pembelian didasari oleh
bagaimana seorang konsumen memiliki persepsi terhadap suatu objek. Penyebab
munculnya persepsi negatif seseorang adalah karena adanya ketidakpuasaan
individu terhadap objek, adanya ketidaktahuan individu serta tidak adanya
pengalaman individu terhadap objek yang dipersepsikan. Begitu pula sebaliknya
bahwa seseorang memiliki persepsi positif karena merasakan kepuasan pada objek,
25
adanya pengetahuan mengenai objek dan karena adanya pengalaman individu
terhadap objek yang dipersepsikan.
Fungsi pemasaran suatu perusahaan adalah untuk menyampaikan produk
yang sesuai dengan target pasar, sehingga persepsi seseorang pada suatu produk
mengenai kualitas produknya dan seberapa besar konsumen mau mengorbankan
materi saat pembelian menjadi bahan evaluasi untuk menghasilkan pembelian dan
kepuasan konsumen. Persepsi konsumen akan kualitas produk dibanding dengan
nilai pengorbanan dibahas oleh para ahli pemasaran sebagai persepsi nilai.
Persepsi nilai yang dirasakan pelanggan didefinisikan sebagai penilaian
keseluruhan konsumen terhadap utilitas dari suatu produk berdasarkan persepsi
tentang nilai yang diterima dan pengorbanan yang diberikan (Zeithaml, 2013:14).
Sementara Kotler (2016:60) mendefinisikan persepsi nilai sebagai
perbandingan perspektif (pandangan/pendapat) konsumen mengenai keuntungan
dan biaya pada sebuah penawaran alternatif.
Indikator persepsi nilai menurut Kotler yaitu: (1) manfaat total pelanggan
(image benefit, personnel benefit, services benefit, dan product benefit), (2) biaya
total pelanggan (psychological cost, energy cost, time cost, monetary cost).
Sehingga tenaga pemasaran dapat meningkatkan persepsi nilai dengan
meningkatkan nilai ekonomi, fungsi, dan nilai emosional dan/atau mengurangi nilai
biaya (Kotler 2016:150)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar