Sepuluh perintah emotional branding berikut ini mengilustrasikan perbedaan
antara konsep kepedulian merek yang tradisional dengan dimensi emosional
yang diperlukan oleh merek untuk mengekspresikan dirinya sehingga menjadi
disukai (Gobe, 2005).
1. Dari konsumen menuju manusia
Konsumen membeli, manusia hidup. Dalam lingkaran komunikasi
konsumen sering dianggap musuh secara tak langsung. Hal yang baik
digunakan dalam menumbuhkan kesan positif di benak konsumen adalah
dengan melakukan pendekatan yang didasari pada hubungan saling
menghormati karena konsumen merupakan sumber informasi terbaik bagi
perusahaan.
2. Dari produk menuju ke pengalaman
Produk memenuhi kebutuhan, pengalaman memenuhi hasrat. Pembelian
memenuhi kebutuhan melalui harga dan kenyamanan. Bagi produk yang
sudah mapan, untuk menarik dan mempertahankan minat konsumen
dibutuhkan penjualan yang inovatif, iklan, dan peluncuran produk baru
yang dapat menangkap imajinasi konsumen. Sebuah produk dapat menjadi
baru dan lama pada saat yang bersamaan jika produk tersebut terus
mempunyai relevansi emosional terhadap konsumen.
3. Dari kejujuran menuju kepercayaan
Kejujuran diharapkan. Kepercayaan bersifat melekat. Oleh karena itu,
untuk memperoleh kejujuran dan kepercayaan dibutuhkan perjuangan
yang keras. Keperayaan merupakan salah satu nilai pokok dari suatu merek yang memerlukan usaha keras dari sebuah perusahaan. Salah satu
gerakan terkuat dalam membangun kepercayaan adalah pelaksanaan “tidak
adanya pertanyaan yang ditanyakan” kembali (konsumen dengan
mudahnya membeli kembali tanpa adanya pertanyaan mengenai kondisi
produk). Strategi ini memberikan kenyamanan sepenuhnya bagi para
konsumen yang mana mereka bisa mendapatkan manfaat dari pilihan
mereka sendiri.
4. Dari kualitas menuju preferensi
Saat ini kualitas dengan harga yang tepat sudah menjadi hal biasa.
Preferensi menciptakan penjualan. Kualitas merupakan hal yang penting
bagi perusahaan untuk bertahan dalam dunia bisnis yang sebaiknya
diwujudkan, sedangkan preferensi terhadap merek merupakan hubungan
yang nyata dengan kesuksesan. Levi’s adalah suatu merek yang
berkualitas, nmun kini ia telah kehilangan status preferensinya.
5. Dari kemasyuran menuju aspirasi
Menjadi terkenal bukan berarti dicintai. Kemasyuran merupakan apa yang
menjadikan sesuatu terkenal. Untuk menjadi sesuatu yang didambakan
maka sesuatu tersebut harus diekspresikan sesuai aspirasi konsumen.
6. Dari identitas menuju kepribadian
Identitas adalah pengakuan. Kepribadian adalah mengenai karakter dan
kharisma. Identitas adalah penggambaran dari karakter dan kharisma.
Identitas merek adalah sesuatu yang unik, dan mengekspresikan suatu
pembedaan. Kepribadian merek adalah hal yang sangat spesial yang merepresentasikan karakter kharismatik dan mendorong terjadinya
tanggapan emosional.
7. Dari fungsi menuju ke perasaan
Fungsionalitas hanya mengacu pada kegunaan dan kualitas dari produk
saja, sedangkan desain penginderaan adalah mengenai pengalaman.
Fungsionalitas akan menjadi usang apabila penampilan dan kegunaannya
tidak didesain berdasarkan pertimbangan perasaan konsumen. Banyak
perusahaan yang mendesain produk mereka hanya pada pemaksimalan
fungsi produk saja, bukan pada pembentukan pengalaman bagi para
konsumennya. Desain adalah tentang solusi manusia, atas dasar inovasi
yang menghadirkan suatu rangkaian pengalaman panca indera yang baru
.
8. Dari ubikuitas menuju keberadaan
Ubikuitas (keberadaan yang sangat umum) dapat dilihat, sedangkan
kehadiran emosional dapat dirasakan. Merek dapat membentuk hubungan
yang permanen dan kuat dengan manusia jika merek tersebut disiasatkan
menjadi sebuah gaya hidup.
9. Dari komunikasi menjadi sebuah percakapan
Komunikasi adalah pemberitahuan, sedangkan percakapan adalah berbagi.
Banyak perusahaan yang melakukan komunikasi satu arah, yakni seperti
melakukan pengiklanan dengan mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit
demi menarik perhatian konsumen. Padahal dengan sebuah
dialog/percakapan dapat merepresentasikan hubungan dua arah antara
konsumen dengan perusahaa
10. Dari pelayanan menuju suatu hubungan
Pelayanan adalah menjual, sedangkan hubungan adalah penghargaan.
Pelayanan adalah apa yang menghasilkan, sedangkan hubungan adalah
orang-orang yang berusaha untuk memahami dan menghormati
konsumen.
Menurut Morrison dan Crane dalam Mutyalestari (2009) pada umunya
apabila berbicara tentang emotional branding, maka sebagian besar akan
membahas ke arah product brand (tangibles) dan service brand (intangibles).
Namun dalam pelayanan marketing, permainan emosi merupakan kunci
dalam keputusan dan perilaku konsumsi konsumen.
Berdasarkan teori perilaku
emosi Ajzen, dan O’Shaughnessy dalam Mutyalestari (2009) membuat
kerangka untuk memahami bagaimana konsumen melihat produk dan jasa
saat proses keputusan pembelian terdapat enam kriteria, yaitu:
1. Technical Criteria
Berbicara mengenai elemen fungsional dari sebuah produk. Jika tambahan
fungsi dan fitur produk dapat membuat pengoperasian menjadi mudah
dilaksanakan, maka produk tersebut akan diterima secara luas atas barang
pengganti lainnya. Technical criteria, meliputi desain produk, atmosfir
toko, dan perlengkapan toko.
2. Economic/Sacrifice Criteria
Manfaat yang diterima dibandingkan pengeluaran (biaya) dan pemakaian
uang.
3. Legalistic Criteria
Meliputi pemenuhan produk atau jasa terhadap keinginan dan permintaan
konsumen.
4. Integrative Criteria
Menciptakan mimpi pada pikiran konsumen bahwa orang-orang suka
melihat keindahan suatu objek. Apabila mereka melihat sesuatu yang
menarik hati, mereka akan mengasosiasikannya terhadap produk tersebut
dan mereka akan semakin menyukainya sehingga memberikan mereka
rasa penerimaan di masyarakat dengan keyakinan yang lebih besar
misalnya kepercayaan sosial, status, visi, fashion produk atau jasa dalam
satu lingkungan.
5. Adaptive Criteria
Sesuatu yang meminimalisir resiko, seperti kekhawatiran, ketidakpastian,
dan penyesalan saat membeli produk atau jasa.
6. Intrinsic Criteria
Menyoroti fakta bahwa produk harus menarik rasa pelanggan. Pelanggan
didorong oleh perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman.
Mereka ingin mengasosiasikannya melalui kesenangan, keindahan,
kebanggaaan, dan kepercayaan diri. Hal itu berupa bentuk produk,
perasaan, wangi/bau, dan musik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar