Metode
dalam bahasa Yunani disebut methodos yaitu jalan atau cara. Pengertian
metode dalam filsafat dan ilmu pengetahuan berarti cara memikirkan dan
memeriksa suatu hal menurut rencana tertentu. Di dalam dunia pengajaran Subana
(2018:20) menyatakan, metode adalah rencana penyajian bahan yang menyeluruh
dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan tertentu. Menurut Suyatno
(2004:15) metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian
tujuan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah rencana
prosedural proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Di
dalam proses pembelajaran terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan. Salah
satu metode yang ada adalah metode mind map. Metode mind mapdikembangkan
sebagai metode efektif untuk mengembangkan gagasan-gagasan melalui rangkaian
peta-peta. Salah satu penggagas metode ini adalah Tony Buzan (dalam Huda
2013:307). Untuk membuat mind map, menurut Buzan, seseorang biasanya
memulainya dengan menulis gagasan utama di tengah halaman dari situlah, ia bisa
membentangkannya ke seluruh arah untuk menciptakan semacam diagram yang terdiri
atas kata kunci- kata kunci, frasa-frasa, konsep-konsep, fakta-fakta, dan
gambar-gambar.
Huda
(2013:307) menarik simpulan bahwa metode mind map bisa digunakan untuk
membentuk, menvisualisasi, mendesain, mencatat, memecahkan masalah, membuat
keputusan, merevisi, dan mengklarifikasi topik utama, sehingga siswa bisa
mengerjakan tugas-tugas yang banyak sekalipun. Pada hakikatnya, mind map digunakan
untuk membrainstorming suatu topik sekaligus menjadi strategi ampuh bagi
belajar siswa.
Berbeda
dengan Huda, Olivia (2013:vii-ix) menarik simpulan bahwa kurikulum di sekolah
saat ini cenderung membuat anak berpikir rutin. Hal tersebut disebabkan anak
harus mengerjakan berbagai latihan soal dan lembar kerja siswa. hal ini membuat
anak menjadi malas dan lebih suka menyontek hasil kerja temannya. Hal tersebut
disebabkan rutinitas yang sangat membosankan. Akibatnya penggunaan otak tidak
optimal yang disebut sebagai mismanajemen otak. Tanda-tandanya dapat berupa
mudah lupa, sulit konsentrasi, sulit memahami penjelasan orang tua, sulit
mengingat atau menghafal, dan lain-lain. Mismanajemen otak terjadi karena
banyak hal, salah satunya adalah ketidakseimbangan penggunaan otak kiri dan
kanan dalam aktivitas keseharian manusia. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari,
kebanyakan anak “terpaksa” menitikberatkan pada aktivitas mental otak kiri.
Contoh, belajar dengan cara menghafal, mendikte, mengenalkan sesuatu dengan
angka dan nama, dan lainnya.
Semua
itu merupakan aktivitas yang banyak menggunakan otak kiri. Sementara otak kanan
jarang dipakai untuk kegiatan produktif. “Kepincangan” beban kedua otak yang
tidak seimbang inilah yang tidak memungkinkan kita menggunakan secara optimal
potensi atau kehebatan otak kita. Kondisi ini dapat diibaratkan orang yang
berlari hanya dengan satu tangan atau satu kaki, pastinya kemampuannya akan
pincang. Demikian pula dengan otak yang kita miliki. Ketika hanya menggunakan
satu bagian saja, misal, otak bagian kanan saja, maka kemampuan otaknya menjadi
“pincang”. Hal ini pula yang menyebabkan potensi otak manusia tidak digunakan
secara maksimal. Agar fungsi otak maksimal, gunakan kedua belahan otak. Ketika
keduanya digunakan bersamaan, maka akan timbul sinergi antar keduanya yang
memungkinkan kekuatan yang tidak terbatas dari otak kita. Contoh, kegiatan yang
menggunakan kedua belah otak seperti menonton film, main games, membaca komik,
umumnya lebih disukai anak-anak daripada kegiatan satu otak saja yaitu belajar
dengan membaca buku yang isinya hitam putih tanpa gambar.
Menurut
Tony Buzan (dalam Olivia 2013:ix), dengan memanfaatkan gambar dan teks ketika
seseorang mencatat atau mengeluarkan suatu ide yang ada dalam pikiran, kita
telah menggunakan dua belahan otak secara sinergis. Apalagi jika dalam peta
pikiran itu ditambahkan warna-warna dan hal-hal yang memperkuat emosi. Dengan
kata lain, mind mapping atau peta pikiran merupakan sebuah jalan pintas
yang bisa membantu siapa saja untuk mengefektifkan waktu sampai setengahnya
untuk menyelesaikan tugas. Bahkan metode temuan Buzan ini bisa dilakukan dalam
aktivitas apa pun dan saat belajar mata pelajaran apa pun.
Mind
mapping atau peta pikiran
dibentuk oleh kata, warna, garis, dan gambar. Menyusunnya pun tak sulit, bisa
dilakukan anak hingga dewasa dan diterapkan untuk keperluan apa saja. Mind
mapping dapat melatih keterampilan motorik halus anak. Sebab, kegiatan
menulis yang dilakukan anak ketika membuat mind mapping adalah gerakan
otot-otot halus yang merupakan perwujudan “Ideo Motor Responses” (IMR). IMR
ialah proses gerakan reflex otot-otot halus yang merupakan reaksi atas stimulasi
bawah sadar (sub-conscious) seseorang. Gerakan ini terjadi secara otomatis,
sehingga tulisan tangan akan secara “jujur” mengungkapkan apa yang ada dalam
pikiran bawah sadar penulisnya, tanpa ia sadari.
Penerapan
mind mapping sebenarnya melatih anak untuk berpikir analitis. Dengan
begitu ia mampu menjelaskan sesuatu dengan sistematika yang baik. Bahkan, cara
itu juga melatih anak agar bisa mengambil keputusan menggunakan logika yang
tepat. Apalagi pada dasarnya anak-anak memang lebih senang dengan sesuatu yang
dapat dilihat dan dipraktikkan secara langsung. Belajar melalui skema sering
kali lebih disenangi sehingga pelajaran jadi lebih mudah ditangkap. (Olivia:
2013:ix-x)
Olivia
(2013:xxi-xxii) menyatakan bahwa di dalam kegiatan mind mapping terdapat
beberapa komponen yang harus ada, sebagai berikut.
a. Gambar
Otak
memanggil gambar lebih baik daripada kata. Gambar mengaktifkan otak kanan dan
lebih “menempel” di otak. Gambar juga bisa membantu mengurangi jumlah kata yang
harus diingat.
b. Asosiasi
Dengan
menggunakan panah, garis, dan boks, catatan seluruh otak membantu anak membuat
asosiasi anatar informasi. Ini sangat membantu pemahaman dan mengingat kembali.
c. Warna
Warna
mengaktifkan otak kanan dan dapat meningkatkan daya ingat sampai 50%.
d. Luar biasa
Otak
cenderung melupakan informasi yang membosankan dan mengingat informasi yang
disajikan secara luar biasa, kreatif atau dengan cara lucu. Catatan seluruh
otak membuat anak menggunakan gambar berbeda, warna, bentuk, dan jenis huruf
yang bervariasi untuk membuat fakta jadi menonjol.
e. Gambaran besar
Catatan
seluruh otak memberi anak gambaran besar bagaimana seluruh poin saling
berhubungan satu sama lain dalam satu halaman. Bukankah lebih mudah untuk
memahami segala yang dipelajari jika bisa ditunjukkan dalam satu halaman
dibanding dua puluh halaman.
f. Kata kunci
Kata
kunci merupakan kata-kata tertentu yang penting diingat dan bagaikan “jalan
tol” bisa cepat sampai ke otak anak. gunakan hanya kata kunci saat membuat mind
mapping atau catatan seluruh otak untuk memangkas waktu belajar anak sampai
80%.
Persiapan
untuk membuat mind mapping menurut Olivia (2013:xxiii-xxix) diantaranya
sebagai berikut.
a. Sediakan kertas HVS kuarto, A4, atau folio atau buku
gambar A3. Gunakan lembaran kertas kosong tersebut tanpa garis.
b. Beberapa spidol aneka warna, pensil warna, atau
bolpoin.
c. Lakukan hal-hal sebagai berikut ini:
1) Mulai dari tengah
Pastikan posisi kertas tersebut horizontal. Lalu
buatlah sebuah gambar yang melambangkan subjek utama di tengah-tengah kertas.
2) Tambahkan cabang
Buatlah beberapa garis tebal berlekuk-lekuk yang
menyambung dari gambar di tengah kertas, garis ini mewakili ide utama mengenai
suatu subjek. Cabang-cabangnya melambangkan subtopik asal. Ingat cabang utama
ini harus tebal (seperti halnya saat membuat cabang berpikir memencar yang juga
harus tebal).
3) Gunakan huruf kapital dan sedikit kata
Berilah nama pada setiap ide yang keluar dari
subtopik utama tersebut. Dan bila anak suka buatlah gambar-gambar kecil
mengenai masing-masing ide tersebut.
4) Kertasnya jangan diputar-putar
Setiap kata dalam mind mapping akan
digarisbawahi atau berada di atas garis karena merupakan kata-kata kunci.
Pemberian garis bawah menunjukkan tingkat kepentingannya.
5) Dengan penambahan subtopik lanjutan, maka dari
setiap ide yang ada, anak bisa menarik garis penghubung lainnya yang menyebar
seperti cabang-cabang pohon. Jadi hanya kata kunci saja yang diletakkan pada mind
mapping, karena dengan membacanya kembali anak bisa merangkai kata-kata
yang merupakan penjelasan dari tema dan subtopik tersebut.
6) Tambahkan lebih banyak buah pikiran anak ke setiap
ide tadi. Cabang-cabang tambahan ini melambangkan detail-detail yang ada.
Huda
(2013:307-308) menyatakan bahwa penggunaan mind map, ada beberapa
langkah persiapan yang harus dilakukan, antara lain 1) mencatat hasil ceramah
dan menyimak poin-poin atau kata kunci-kata kunci dari ceramah tersebut; 2)
menunjukkan jaringan-jaringan dan relasi-relasi diantar berbagai poin/ gagasan/
kata kunci ini terkait dengan materi pelajaran; 3) membrainstorming semua
hal yang sudah diketahui sebelumnya tentang topik tersebut; 4) merencanakan
tahap-tahap awal pemetaaan gagasan dengan memvisualisasikan semua aspek dari
topik yang dibahas; 5) menyusun gagasan dan informasi dengan membuatnya bisa
diakses pada satu lembar saja; 6) menstimulasi pemikiran dan solusi kreatif
atas permasalahan-permasalahan yang terkait dengan topik bahasan; dan 7)
mereview pelajaran untuk mempersiapkan tes atau tujuan.
Ada
tahap-tahap penting yang harus dilalui untuk melalui mind maping, antara
lain sebagai berikut.
a. Letakkan gagasan/ tema/ poin utama di tengah-tengah
halaman kertas. Akan lebih mudah jika posisi kertas tidak dalam keadaan tegak
lurus (portrait), melainkan dalam posisi terbentang (landscape).
b. Gunakan garis, tanda panah, cabang-cabang, dan warna
yang berbeda-beda untuk menunjukkan hubungan antara tema utama dan
gagasan-gagasan pendukung lain. hubungan-hubungan ini sangat penting, karena ia
bisa membentuk keseluruhan pemikiran dan pembahasan tentang gagasan utama tersebut.
c. Hindari untuk bersikap latah, lebih menampilkan
karya bagus daripada konten di dalamnya. Mind map harus dibuat dengan
cepat tanpa ada jeda dan editing yang menyita waktu. Untuk itulah, sangat
penting untuk mempertimbangkan setiap kemungkinan yang harus dan tidak harus
dimasukkan ke dalam peta tersebut.
d. Pilihlah warna-warna yang berbeda untuk
menyimbolisasi sesuatu yang berbeda pula. Misalnya, warna biru untuk sesuatu
yang wajib muncul dalam peta tersebut, hitam untuk gagasan lain yang bagus, dan
merah untuk sesuatu yang masih perlu diteliti lebih lanjut. Tidak ada teknik
pewarnaan yang pasti, namun pastikan warna-warna yang ditentukan konsisten
sejak awal.
e. Biarkan beberapa ruang kosong dalam kertas. Ini
dimaksudkan agar memudahkan penggambaran lebih lanjut ketika ada gagasan baru
yang harus ditambahkan. (Huda, 2013:308)
Jadi
dapat disimpulkan dari pendapat Huda dan Olivia bahwa mind mapping adalah
metode pembelajaran dengan cara mengembangkan gagasan melalui rangkaian
peta-peta dari objek utama yang dapat bermanfaat sebagai penyeimbang penggunaan
otak kanan dan kiri. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah subjek utama di
letakkan di tengah kertas, lalu gambar garis tebal yang menyambung dari subjek
utama sebagai wakil ide utama dari objek, ide yang keluar tulis dengan huruf
kapital, kemudian beri penambahan untuk subtopik lanjutan, dan perhatikan bahwa
yang ditekankan adalah konten bukan sebuah karya yang bagus.
Menurut
Warsono dan Haryanto (2013:126-127) Langkah-langkah pembelajaran mind map adalah
sebagai berikut.
a. Bentuk kelompok kolaboratif yang heterogen. Jumlah
siswa per kelompoknyadisesuaikan dengan jumlah siswa dalam kelas. Upayakan
tidak melebihi 7 orang per kelompok.
b. Latihlah para siswa dengan membuat peta konsep yang
sederhana.
c. Mula-mula setiap siswa diberi kesempatan membuat
peta konsepnya secara individual.
d. Selanjutnya siswa melakukan tinjauan (review)
terhadap peta konsep yang dibuatnya sendiri dalam kelompok kolaboratif.
e. Laksanakan suatu diskusi kelas dengan memberikan
kesempatan kepada setiap kelompok untuk melakukan presentasi di depan kelas
terkait proposisi penting yang dicoba digambarkannya dalam peta konsep.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar