Pengenalan dan pengingat merek kepada masyarakat merupakan hal yang sengat
penting bagi perusahaan, karena dengan hal ini akan menentukan langkah
perusahaan selanjutnya dalam menetapkan strategi pasar.
Durianto (2004) menjelaskan bahwa kesadaran menggambarkan
keberadaan merek didalam pikiran konsumen yang dapat menjadi penentu dalam
beberapa kategori dan biasanya mempunyai peranan kunci dalam brand equity. Meningkatkan kesadaran adalah suatu mekanisme untuk memperluas
pasar merek. Kesadaran juga mempengaruhi persepsi dan tingkah laku. Jadi jika
kesadaran itu sangat rendah maka hampir dipastikan bahwa ekuitas mereknya juga
rendah. Peran brand awareness dalam keseluruhan brand equity tergantung dari
sejauh mana tingkatan kesadaran yang dicapai oleh suatu merek. Tingkatan
kesadaran merek secara berurutan dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi
sebagai berikut:
a) Tidak menyadari merek (unware of brand)
Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek,
29
dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.
b) Pengenalan merek (brand recognition)
Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat pembeli
memilah suatu merek pada saat melakukan pembelian.
c) Pengingatan kembali terhadap merek (brand recall)
Pengingatan kembali terhadap merek berdasarkan pada permintaan
seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk. Hal
ini di istilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda
dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan
merek tersebut.
d) Puncak pikiran (top of brand)
Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan
dan ia dapat menyebutkan satu nama merek yang paling banyak disebutkan
pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut
merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada didalam benak
konsumen.
Kesadaran merek menggambarkan kesanggupan seorang calon pembeli untuk
mengenali, mengingat kembali suatu brand sebagai bagian dari suatu kategori
produk tertentu. Pada umumnya konsumen cenderung membeli produk dengan
brand yang sudah dikenalnya atas dasar pertimbangan kenyamanan, keamanan
dan lain-lain. Bagaimanapun juga, merek yang sudah dikenal menghindarkan
konsumen dari risiko pemakaian dengan asumsi bahwa merek yang sudah dikenal
dapat diandalkan Durianto (2004 : 29) Kesadaran merek (brand awareness)
30
adalah kemampuan konsumen untuk mengindentifikasi merek dalam berbagai
kondisi, seperti yang dicerminkan oleh pengenalan merek atau ingatan atas kinerja
merek Kotler dan Keller (2009 : 403). Peran kesadaran merek dalam ekuitas
merek tergantung pada tingkat akan pencapaian kesadaran yang ada dibenak
konsumen. Fandy Tjiptono (2011 : 111) ukuran pada kesadaran merek yang
banyak dipakai adalah recall dan recognition, baik menggunakan alat bantu
(aided) maupun tanpa menggunakan alat bantu (aided).
Hal ini bukanlah sekedar menjadi merek pertama yang disebut atau
yang di ingat konsumen (name awareness), namun terciptanya asosiasi khusus
antara nama merek dengan produk tertentu. Hanya saja, kelemahan utama
kesadaran merek terletak pada dampak ukuran merek dan skala aktivitas promosi
yang sangat dominan, sementara brand strength dalam konteks preferensi atau
sikap positif konsumen terhadap merek yang bersangkutan tidak banyak
terungkap. Menurut Erna Ferrinadewi (2008 : 174) merek yang sering dibeli oleh
keluarga biasanya akan membuat seluruh anggota keluarga memiliki kesadaran
yang tinggi akan keberadaan merek. Walaupun merek tersebut adalah merek yang
tidak terpikirkan oleh konsumen, namun nama merek akan menetap dalam ingatan
konsumen karena tingginya frekuensi anggota keluarga melihat merek yang sama.
Semakin sering merek tersebut dilihat dan digunakan oleh seluruh anggota
keluarga maka ingatan pada konsumen semakin kuat. Aaker (2013:205) juga
menjelaskan bahwa di dalam kesadaran merek terdapat tiga dimensi yang
menyediakan sejumlah besar keunggulan kompetitif, diantaranya :
31
1. Kesadaran menyediakan merek dengan rasa keakraban atau dikenal, dan orang
menyukai hal yang dikenal atau akrab. Untuk produk dengan keterlibatan yang
rendah keakraban dapat mendorong keputusan pembelian.
2. Kesadaran nama dapat menjadi sinyal kehadiran, komitmen, dan substansi,
atribut yang dapat menjadi sangat penting bahkan bagi pembeli industri untuk
barang dengan tiket besar dan pembeli konsumen untuk barang tahan lama.
3. Keunggulan merek akan menentukan apabila diingat pada waktu penting
dalam proses pembelian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar