Selasa, 16 Maret 2021

Analisis Pengambilan Keputusan Konsumen (skripsi dan tesis)


Empat sudut pandang dalam menganalisis pengambilan keputusan konsumen menurut Ristiyanti dan Ihalauw (2005:228): 1. Sudut Pandang Ekonomis Pandangan ini melihat konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional. Ini berarti para konsumen harus mengetahui semua alternatif produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkat dari setiap alternatif yang ditentukan, dilihat dari kegunaan dan kerugiannya dan harus bisa mengidentifikasi satu alternatif terbaik. Menurut para ahli ilmu sosial, model economic man ini tidak realistis karena: a) Manusia memiliki kemampuan, kebiasaan, dan gerak. b) Manusia dibatasi oleh nilai-nilai dan tujuan. c) Manusia dibatasi oleh pengetahuan yang mereka miliki. 2. Sudut Pandang Positif Sudut pandang ini berlawanan dengan sudut pandang ekonomis. Pada sudut pandang ini mengatakan jika konsumen pada dasarnya pasrah kepada kepentingannya sendiri dan menerima secara pasif usaha-usaha promosi dari para pemasar. Kelemahan sudut pandang ini adalah bahwa pandangan ini tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa konsumen memainkan peranan penting dalam setiap pembelian yang mereka lakukan, baik dalam hal mencari informasi tentang berbagai alternatif produk, maupun dalam menyeleksi produk yang dianggap akan memberikan kepuasan terbesar.  3. Sudut Pandang Kognitif Sudut pandang ini menganggap bahwa konsumen sebagai cognitive man atau sebagai penyelesai masalah. Menurut pandangan ini, konsumen merupakan pengolah informasi yang senantiasa mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk. Pengolahan informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, selanjutnya terjadi inisiatif untuk membeli atau menolak produk. 4. Sudut Pandang Emosional Sudut pandang ini menekankan emosi sebagai pendorong utama sehingga konsumen membeli suatu produk. Seseorang berusaha mendapatkan barangbarang favoritnya merupakan salah satu contoh sudut pandang emosional. Membeli benda-benda yang menimbulkan kenangan juga berdasarkan emosi. Misalnya orang-orang yang gemar mengoleksi atau biasa disebut kolektor yang mengumpulkan seragam sepak bola dengan harga yang tidak murah serta mencari dengan susah payah karena didorong oleh emosi belaka. Jadi, perasaan dan hati berperan dalam pembelian emosional

Tidak ada komentar: