Sabtu, 13 Maret 2021

Agency Theory (Teori Agensi) (skripsi dan tesis)

 

Teori keagenan digunakan pada perusahaan mengenai praktik yang diimplikasikan di perusahaan. Teori keagenan (Agency Theory) merupakan teori mengenai hubungan antara pemegang saham dengan mendelegasikan pengambilan keputusan kepada agen/manajemen penerima pendelagasian (Antonius dan Subarto, 2004:6). Pembahasan teori ini mengenai pemegang saham yang mengimplikasikan pemberian wewenang diberikan ke pengelola perusahaan yaitu manajemen dalam membuat keputusan dan mengelola kegiatan perusahaan. 

Manajemen adalah pihak yang bekerja dan mengelola perusahaan demi kepentingan pemegang saham dan nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2011:26). Seseorang yang sudah dipilih sebagai pimpinan perusahaan, maka harus mempunyai rasa tanggung jawab dari seluruh pekerjaaan yang dilakukan demi kepentingan pemegang saham. Tujuan manajemen pada perusahaan mengelola perusahaan dengan strategi yang baru, inovasi, mengevaluasi dan mengatasi permasalahan di perusahaan untuk meningkatkan perusahaan agar terus berkembang sesuai lingkungan. Manajemen memiliki peranan dan tugas yang harus dilakukan dalam memperoleh pendanaan untuk perusahaan dari sumber perusahaan sendiri atau dari luar perusahaa seperti hutang. Serta manajemen melakukan penggunaan dan pengelolaan dana perusahaan dalam pengambilan keputusan aktivitas operasi perusahaan yang tepat pada tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan itu sendiri ialah memaksimalkan keuntungan perusahaan dan kemakmuran pemegang saham. Pemegang saham merupakan individu atau kelompok yang memiliki jumlah saham pada suatu perusahaan. Saham perusahaan yang dimiliki yang ditawarkan melalui penawaran saham dan perusahaan sudah terdaftar di bursa efek. Hal ini perusahaan harus memiliki tanggung jawab pada pemegang saham dan pemilik perusahaan guna untuk keuntungan pemegang saham. Pemegang saham pada perusahaan ini memiliki kekuasaan dan pengendalian di perusahaan berdasarkan jenis saham dan jumlah persentase yang dimiliki perusahaan tersebut. Apabila pemegang saham memiliki jumlah persentase yang besar mempunyai hak dalam memberikan suara seperti halnya pada saat rapat umum pemegang saham  dalam pemilihan pimpinan dewan direksi. Pemegang saham juga berhak dalam pembagian keuntungan perusahaan serta pembagian aset perusahaan ketika perusahaan mengalami likuidasi atau bangkrut. Hubungan antara pemegang saham dengan pihak manajemen saling terkait dalam kemajuan perusahaan. Kepemilikan jumlah saham yang dimiliki pemegang saham cukup besar pada perusahaan membuat perusahan dapat meningkatkan produktivitas dan layanan perusahaan. Perusahaan juga memberikan dengam memaksimalkan keuntungan untuk kesejahteraan kepada pemegang saham. Perusahaan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengelola perusahaan yang strategis agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Kewenangan pengelolaan perusahaan diberikan pada pihak pimpinan atau manajer perusahaan agar bertanggung jawab dan sesuai dengan tujuan perusahaan melakukan aktivitas perusahaan. Hubungan antara pemegang saham dengan manajer perusahan terkadang memiliki harapan dan tujuan yang berbeda pada perusahaan. Misalnya pemegang saham mengharapkan pembagian keuntungan perusahaan, sedangkan pihak manajemen keuntungan digunakan untuk proyek baru atau peningkatan produktivitas dan layanan perusahaan. Pada praktik bisnis peran pihak manajemen mengelola perusahaan yang diberi wewenang sehingga teori ini dapat memunculkan adanya agency problem dan agency cost. Timbulnya konflik keagenan dikarenakan adanya perbedaan kepentingan antara prinsipal dengan keagenan sehingga menimbulkan agency cost dalam mengatasi dan mengurangi konflik keagenan dengan penjelasan sebagai berikut:  a. Agency Problem Agency problem merupakan masalah dalam teori agensi yang ditimbulkan dari jumlah kepemilikan manajerial yang lebih sedikit dari kepemilikan institusional dan mengakibatkan manajer lebih mementingkan dirinya sendiri dan kurang dalam mengoptimalkan nilai dalam membuat keputusan perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Menurut Antonius dan Subarto (2004: 7) agency problem timbul dari kesenjangan antara pemegang saham dengan manajemen. Masalah keagenan ini dapat muncul karena manajemen yang ingin mendapatkan keuntungan lebih atas jasa yang diberikan untuk mengelola perusahaan. Perusahaan bisa mengurangi masalah keagenan dengan melakukan kebijakan hutang pada kreditur dalam mendanai perusahaan dan dari pendanaan tersebut pemilik dapat berharap mendapatkan keuntungan. Hutang yang besar bisa membuat pihak pengelola bisa lebih disiplin dalam mengelola perusahaan. 

Menurut Irham (2014:21) dalam mengatasi masalah keagenan persuhaan bisa menggunakan strategi kebijakan, yaitu: 1. Penerapan mekanisme manajemen dengan jelas dan tegas pada pembagian job dibidang masing-masing. 2. Melakukan penerapan hasil tes kompetensi untuk mengetahui kapabilitas seseorang. 3. Melakukan pengawasan dan berbagai koordinasi lainnya yang dilakukan oleh perusahaan. 4. Mematuhi aturan dan standar yang berlaku di dalam organisasi maupun diluar organisasi. b. Agency Cost Biaya keagenan dapat muncul dari masalah keagenan. Masalah keagenan diakibatkan dari masalah kepentingan antara investor dengan manajer. Untuk dapat mengatasi masalah dalam keagenan antara pemilik perusahaan dengan manajer perusahaan maka dibuat tingkatannya sama. Tingkatan yang sama antara manajer dengan pemilik pemilik perusahaan menimbulkan suatu biaya keagenan. Jensen dan Meckling (1976) mengemukakan bahwa adanya perbedaan dalam struktur kepemilikan dan pengawasan (control) dapat menimbulkan peningkatan biaya keagenan (agency cost). Biaya keagenan dapat dikurangi dengan kebijakan hutang membuat perusahaan melunasi hutangnya secara periodik yang menjadikan prinsipal sebagai pengawas agar perusahaan dapat efektif dan efesien dalam mengelola perusahaan. Terdapat dua jenis biaya keagenan pada hutang yaitu asset subtitution dan under investment (Sugiarto, 2009:64). Asset subtitution merupakan suatu masalah yang muncul pada pemegang saham yang mempunyai insentif dalam penggunaan pengeksploitasian kebijakan hutang saat hutang diberikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan hutang perusahaan dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan yang dihasilkan serta dapat memakmurkan pemberi hutang kepada pemegang saham sehingga meningkatkan nilai saham yang miliki. Underinvestment merupakan suatu permasalahan yang timbul dari pemegang saham yang tidak menguntungkan dalam perolehan investasi, namun lebih  menguntungkan pihak kreditur. Hal tersebut menunjukkan jika investasi suatu perusahaan gagal dalam peningkatan keuntungan perusahaan maka dapat merugikan pihak pemegang saham dan kreditur. Hubungan penelitian ini mengenai kebijakan hutang dengan teori agensi dapat mengurangi permasalahan dalam teori keagenan melalui kebijakan hutang yang dilakukan oleh perusahaan. Menurut Sugiarto (2009:66) kebijakan hutang yang dilakukan perusahan pada hutang jangka pendek untuk pertumbuhan perusahaan dapat meningkatkan jumlah yang lebih besar pada kepemilikan pemegang saham. Perusahaan yang meningkatkan pertumbuhan perusahaan dalam kebijakan hutang saat mengahadapi biaya yang lebih tinggi membuat pemegang saham mengawasi perusahaan agar tidak terjadinya kegagalan investasi. Perusahaan yang melakukan pertumbuhan tinggi dengan kebijakan hutang membuat pemegang saham lebih sulit mengamati penggunaan aset perusahaan karena tercampur pendanaan dari saham dan hutang. Manajer dalam mengelola perusahaan diharapkan melakukan kebijakan hutang yang rendah untuk mengurangi biaya keagenan

Tidak ada komentar: