Jumat, 31 Mei 2024

Pengertian manajemen Laba


Manajemen laba dapat didefinisi sebagai íntervensi manajemen dengan
sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi tujuan pribadi,
Schipper (1989) dalam Subramanyam, (2012:145). Sering kali proses ini
mencakup mempercantik laporan keuangan, terutama angka yang paling bawah
yaitu laba. Menurut Sulistiawan dkk (2011:46) Manajemen laba merupakan
salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan. Menurut
Sulistyanto (2010:26) Manajemen laba adalah upaya manajer perusahaan untuk
mempengaruhi informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk
mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan.
Menurut Angruningrum dan Wirakusuma (2013) Manajemen laba adalah
suatu proses yang disengaja, dengan batasan standar akuntansi keuangan untuk
mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu. Menurut Schipper dalam
Riske dan Basuki (2013:1) Manajemen laba merupakan suatu kondisi dimana
manajemen melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan
bagi pihak eksternal sehingga dapat menaikkan, meratakan, dan menurunkan
laba. Manajemen laba adalah salah satu faktor yang dapat mengurangi
kredibilitas laporan keuangan, dan menambah bias dalam laporan keuangan serta
dapat menggangu pemakai laporan keuangan yang percaya pada angka hasil
rekayasa tersebut sebagai angka real atau tanpa rekayasa.
Manajemen laba merupakan hasil dari kebebasan dalam aplikasi akuntansi
akrual yang mungkin terjadi. Standar akuntansi dan mekanisme pengawasan
mengurangi kebebasan ini. Namun, tidak mungkin untuk meniadakan pilihan
karena kompleksitas dan keragaman aktivitas usaha. Lagipula, akuntansi akrual
membutuhkan estimasi dan penilaian. Hal ini menyebabkan kebebasan manager
dalam menetapkan angka akuntansi. Meskipun kebebasan ini memberi
kesempatan bagi manajer untuk menyajikan gambaran aktivitas usaha
perusahaan yang lebih informatif, kebebasan ini juga memungkinkan mereka
mempercantik laporan keuangan dan melakukan manajemen laba.
Menurut Sulistyanto (2010:26), manajemen laba merupakan upaya manajer
perusahaan untuk mempengaruhi informasi dalam laporan keuangan dengan
tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi
perusahaan. Manajemen laba (earnings management) dilakukan dengan
mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab
akrual merupakan komponen yang mudah untuk dipermainkan sesuai dengan
keinginan orang yang melakukan pencatatan transaksi dan menyusun laporan
keuangan. Alasannya, komponen akrual merupakan komponen yang tidak
memerlukan bukti kas secara fisik sehingga upaya mempermainkan besar
kecilnya komponen akrual tidak harus disertai dengan kas yang diterima atau
dikeluarkan perusahaan.
Manajemen laba dilakukan oleh manajer dengan merekayasa laba
perusahaannya menjadi lebih tinggi, rendah ataupun selalu sama selama
beberapa periode. Secara umum ada beberapa motivasi yang mendorong
manajer untuk berperilaku oportunis. Menurut Scott (2012:167) motivasi
tersebut adalah:

  1. Motivasi bonus
    Bonus plan hypothesis menegaskan bahwa ceteris paribus, manajer
    perusahaan cenderung untuk memilih prosedur akuntansi yang menggeser
    earnings yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode sekarang.
    Manajer melakukan manajemen laba untuk kepentingan bonusnya.
  2. Motivasi kontraktual lainnya
    Hipotesis debt/equity yaitu ceteris paribus, suatu perusahaan yang rasio
    debt/equity besar cenderung memilih prosedur akuntansi yang menggeser
    earnings yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode sekarang.
    Manajemen melakukan manajemen laba untuk memenuhi perjanjian
    utangnya agar meloloskan perusahaan dari kesulitan keuangan.
  3. Motivasi politik
    Perusahaan besar cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat
    mengurangi laba periodiknya dibanding perusahaan yang kecil. Hal ini
    dilakukan untuk memperoleh kemudahan dan fasilitas dari pemerintah.
  4. Motivasi pajak
    Manajer termotivasi melakukan manajemen laba karena income taxation.
    Karena semakin tinggi labanya maka semakin besar pajak yang
    dikenakannya. Sehingga manajer melakukan manajemen laba untuk
    mengurangi pajak tersebut.
  5. Pergantian CEO
    Motivasi manajemen laba ada di sekitar pergantian CEO. Hipotesis rencana
    bonus menjelaskan bahwa CEO yang akan diganti melakukan pendekatan
    strategi untuk memaksimalisasi laba agar menaikkan bonusnya.
  6. Motivasi pasar modal
    Motivasi ini muncul karena informasi akuntansi digunakan secara luas oleh
    investor dan para analis keuangan untuk menilai saham. Dengan begitu,
    kondisi ini menciptakan kesempatan bagi manajer untuk memanipulasi
    earnings dengan cara mempengaruhi performa harga saham jangka pendek.
    Menurut Scott (2012:169) pola manajemen laba dapat dilakukan dengan cara:
  7. Taking a Bath
    Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru
    dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan
    dapat meningkatkan laba di masa datang.
  8. Income Minimization
    Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat laba yang tinggi
    sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat
    diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.
  9. Income Maximization
    Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization ber-
    tujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang
    lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan
    pelanggaran perjanjian hutang.
  10. Income Smoothing
    Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan
    sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada
    umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

Tidak ada komentar: