Jumat, 31 Mei 2024

Hubungan antara Kepemimpinan Transformasional dengan Perilaku Inovatif


Perusahaan atau organisasi khususnya yang bergerak dibidang industri
kreatif memiliki tuntutan untuk selalu berinovasi. Hal tersebut berdampak
pada produktivitas perusahaan atau organisasi dan menjadikan organisasi atau
perusahaan tersebut dapat tetap berjalan untuk mencapai target perusahaan
atau organisasi. Namun, masih ada perusahaan atau organisasi yang belum
menjadikan inovasi sebagai kunci dari produktivitas perusahaan atau
organisasi. Hal tersebut berdampak pada produktivitas perusahaan yang
menurun.
Perilaku inovatif adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh individu
atau kelompok untuk menemukan solusi dari sebuah masalah dengan cara
menemukan ide-ide baru yang diterapkan pada perusahaan atau organisasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan faktor yang dapat mendorong inovasi yang ada
pada diri karyawan. Penelitian yang dilakukan oleh De Jong dan Kemp
(2003) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku
inovatif adalah otonomi. Seseorang akan lebih berinovatif apabila mereka
memiliki pemimpin yang cukup mengawasi dan mengontrol ketika mereka
bekerja.
Robbins dan Judge (2008) dan Cavazotte (2012), terdapat empat
aspek kepemimpinan transformasional. Aspek pertama adalah idealized
influence (pengaruh ideal) yaitu perilaku pemimpin yang memberikan visi
dan misi, memunculkan rasa bangga, serta mendapatkan respek dan
kepercayaan bawahan. Aspek kedua adalah inspirational motivation
(motivasi inspirasional) yaitu perilaku pemimpin yang mampu
mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menyampaikan visi bersama
secara menarik, dan menginspirasi bawahan untuk mencapai tujuan yang
menghasilkan kemajuan penting bagi organisasi.
Aspek ketiga adalah intellectual stimulation (stimulasi intelektual)
yaitu perilaku pemimpin yang mampu meningkatkan kreativitas dan
inovasi bawahan, meningkatkan rasionalitas, dan pemecahan masalah secara
cermat. Aspek keempat adalah individualized consideration (pertimbangan
individual) yaitu perilaku pemimpin yang memperlakukan masing-masing
bawahan sebagai seorang individu dengan kebutuhan, kemampuan, dan
aspirasi yang berbeda, serta melatih dan memberikan arahan.
Pengaruh ideal (idealized influence) mengacu kepada kemampuan
untuk mengartikulasikan visi dengan jelas, memotivasi pengikutnya dengan
melakukan hal yang sesuai atau benar, dan dapat menunjukkan standar etika
yang tinggi, sehingga pengikutnya termotivasi untuk dapat memiliki inovasi
untuk mewujudkan visi, misi, serta harapan perusahaan. Pemimpin
transformasional mampu untuk menginduksikan pengikutnya, melalui
intelectual stimulation, untuk mengevaluasi kembali masalah-masalah
potensial dan lingkungan kerja mereka, sehingga ide-ide inovatif dapat
berkembang (Reuvers, dkk., 2008).
Pemimpin transformasional mampu untuk menginduksi pengikutnya
dengan menggunakan inspirational motivation sehingga pengikutnya
memiliki keyakinan dalam kemampuan diri mereka, sehingga pengikutnya
sukses mengimplementasikan kompetensi mereka dan mudah untuk
menunjukan perilaku kerja inovatif (Reuvers, dkk., 2008). Melalui
individualized consideration, pemimpin transformasional dapat membuat
pengikutnya berperilaku kerja inovatif karena memberikan penekanan pada
keberagaman bakat.
Berdasarkan gambaran diatas dapat diasumsikan bahwa
kepemimpinan transformasional mampu untuk meningkatkan perilaku
inovatif di perusahaan atau organisasi. Sebaliknya, apabila pemimpin
diperusahaan kurang mampu menerapkan gaya kepemimpinan
transformasional maka kecenderungan dalam melakukan proses inovasi akan
menjadi hal yang sulit dilakukan

Tidak ada komentar: