Kamis, 30 Mei 2024

Faktor Penghambat Inovasi

  1. Keengganan menutup program yang gagal (Reluctance to close down
    failing program or organization)
  2. Sebuah program atau bahkan unit organisasi yang sudah jelas
    menunjukkan kegagalan akan lebih baik ditutup dan diganti dengan
    program atau unit baru yang lebih menjanjikan. Kegagalan memang hal
    yang lumrah dalam berinovasi, namun keengganan menghentikan
    kegagalan sama artinya dengan menutup peluang meraih perubahan yang
    lebih baik.
  3. Ketergantungan berlebihan pada high performer (Over-reliance on high
    performers as source of innovation)
  4. Ketergantungan terhadap figur tertentu yang memiliki kinerja tinggi,
    sehingga kecenderungan kebanyakan pegawai di sektor publik hanya
    menjadi follower.Ketika figur tersebut hilang, maka yang terjadi adalah
    stagnasi dan kemacetan kerja.
  5. Teknologi ada, terhambat budaya & penataan organisasi (Technologies
    available but constraining cultural or organizational arrangement)
  6. Seringkali inovasi gagal bukan karena tidak adanya dukungan teknologi,
    namun lebih karena tradisi atau kebijakan organisasi yang tidak
    proinovasi.
  7. Tidak ada penghargaan atau insentif (No rewards or incentives to innovate
    or adopt innovations)
    21
  8. Kemampuan berinovasi tidak dapat dianggap sebagai sebuah hal yang
    biasa-biasa saja atau kinerja normal, namun harus dipandang sebagai
    sesuatu yang istimewa sehingga layak diberikan penghargaan.
  9. Ketidakmampuan menghadapi resiko & perubahan (Poor skills in active
    risk or change management)
  10. Bagaimanapun, aspek keterampilan memegang perang penting untuk
    keberhasilan inovasi. Sebesar apapun motivasi pegawai dan lingkungan
    yang kondusif namun tidak ditunjang oleh keterampilan yang memadai,
    maka tetap saja inovasi akan berhenti sebagai wacana.
  11. Anggaran jangka pendek & perencanaan (Short-term budget and planning
    horizons)
  12. Pengembangan inovasi baik dalam sakala organisasional maupun
    nasional haruslah direncanakan dengan baik bukan hanya dalam
    perspektif tahunan, namun juga perspektif jangka menengah dan panjang.
  13. Tekanan & Hambatan Administratif (Delivery pressures and
    administrative burdens)
  14. Relasi antara negara dengan masyarakat atau antara pimpinan dengan
    pegawainya sering didasarkan pada basis ketidakpercayaan
    (distrust).Akibatnya, untuk sebuah urusan kecil saja (misalnya pelayanan
    perijinan) harus menyertakan persyaratan yang banyak, prosedur yang
    panjang, dan melibatkan aktor yang berlapis. Hal seperti ini menimbulkan
    tekanan bagi siapa saja yang berkepetingan dan menghilangkan hasrat
    untuk berinovasi.
  15. Budaya Risk Aversion (Culture of risk aversion)
  16. Resiko dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari bahkan dijauhi,
    bukan sesuatu yang justru memberi tantangan baru yang lebih berenergi
    sehingga harus dihadap

Tidak ada komentar: