Selasa, 30 Mei 2023

Jenis Loyalitas


Menurut Griffin (2003 : 22) terdapat empat jenis loyalitas yang muncul
bila keterikatan rendah dan tinggi diklasifikasikan silang dengan pola
pembelian ulang, yang rendah dan tinggi. Adapun jenis – jenis loyalitas
yaitu :
a) Tanpa Loyalitas
untuk berbagai alasan tertentu, ada beberapa konsumen yang tidak
mengembangkan loyalitas atau kesetiaan kepada suatu produk
maupun jasa tertentu. Tingkat ketertarikan yang rendah dengan
tingkat pembelian ualng yang rendah menunjukkan absennya suatu
kesetiaan. Pada dasarnya, suatu usaha harus menghindari
kelompok no loyalty ini untuk dijadikan target pasar, karena
mereka tidak akan menjadi konsumen yang setia.
b) Loyalitas yang lemah (Inertia Loyality)
Loyalitas yang lemah atau Inertia loyality merupakan sebuah jenis
loyalitas konsumen yang dimana adanya keterikatan yang rendah
dengan pembelian ulang yang tinggi. Konsumen yang memiliki sikap ini
biasanya membeli berdasarkan kebiasaan. Dasar yang digunakan untuk
pembelian produk atau jasa disebabkan oleh faktor kemudahan
situasional. Kesetiaan semacam ini biasanya banyak terjadi terhadap
produk atau jasa yang sering dipakai. Contoh dari kesetiaan ini terlihat
dari kegiatan pembelian bensin yang dilakukan konsumen di dekat
daerah rumahnya dan sebagainya. Pembeli dengan loyalitas yang lemah
rentan beralih ke produk pesaing yang dapat menunjukkan manfaat
yang jelas.
Meskipun demikian, perusahaan masih memiliki kemungkinan untuk
mengubah jenis loyalitas ini kedalam bentuk loyalitas yang lebih tinggi
melalui pendekatan yang aktif ke pelanggan dan peningkatan nilai
perbedaan positif yang diterima konsumen atas produk maupun jasa
yang ditawarkan kepadanya dibabandingkan dengna yang ditawarkan
para pesaing lain. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan
keramahan dalam pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada
konsumen.
c) Loyalitas Tersembunyi (Laten Loyalty)
Jenis loyalitas tersembunyi merupakan sebuah kesetiaan atau keterikatan
yang relatif tinggi yang disertai dengan tingkat pembelian ulang yang
rendah. Konsumen yang mempunyai sikap laten loyalty pembelian ulang
juga didasarkan pada pengaruh faktor situasional daripada sikapnya.
Sebagai contoh, seorang suami menyukai masakan Eropa, tetapi
mempunyai istri yang kurang menyukai masakan Eropa. Maka suami
tersebut hanya sesekali saja mengunjungi restoran Eropa dan lebih
sering pergi ke restoran yang dimana masakan yang ditawarkan dapat
dinikmati bersama.
d) Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
Loyalitas ini merupakan yang terjadi bilamana suatu tingkat keterikatan
tinggi yang berjalan selaras dengan aktivitas pembelian kembali. Setiap
perusahaam tentunya sangat mengharapkan kesetiaan jenis ini dari
setiap usaha preference yang tinggi. Contoh jenis loyalty premium
adalah rasa bangga yang muncul ketika konsumen menemukan dan
menggunakan produk atau jasa tersebut dan dengan senang hati
membagi pengetahuan dan merekomendasikannya kepada teman,
keluarga maupun orang lain.

Tidak ada komentar: