Esensi dasar dari
evaluasi ergonomi dalam proses perancangan desain adalah sedini mungkin mencoba
memikirkan kepentingan manusia agar bisa terakomodasi dalam setiap kreativitas
dan inovasi sebuah ‘man made object’ (Sritomo, 2000). Fokus perhatian dari sebuah
kajian ergonomis akan mengarah ke upaya pencapaian sebuah perancanganan desain
suatu produk yang memenuhi persyaratan ‘fitting
the task to the man’ (Granjean,1982), sehingga setiap rancangan desain
harus selalu memikirkan kepentingan manusia, yakni perihal keselamatan,
kesehatan, keamanan maupun kenyamanan. Sama seperti yang diungkapkan Sritomo
(2000), desain sebelum dipasarkan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan
kajian/evaluasi/pengujian yang menyangkut berbagai aspek teknis fungsional, maupun
kelayakan ekonomis seperti analisis nilai, reliabilitas, evaluasi ergonomis,
dan marketing.
Untuk melaksanakan
kajian atau evaluasi (pengujian) bahwa desain sudah memenuhi persyaratan
ergonomis adalah dengan mempertimbangkan faktor manusia, dalam hal ini ada
empat aturan sebagai dasar perancangan desain, yakni :
1.
Memahami
bahwa manusia merupakan fokus utama perancangan desain, sehingga hal-hal yang
berhubungan dengan struktur anatom (fisiologik) tubuh manusia harus diperhatikan,
demikian juga dengan dimensi ukuran tubuh (anthropometri).
2.
Menggunakan
prinsip-prinsip kinesiologi dalam perancangan desain (studi mengenai gerakan
tubuh manusia dilihat dari aspek biomechanics), tujuannya untuk menghindarkan
manusia melakukan gerakan kerja yang tidak sesuai, tidak beraturan dan tidak
memenuhi persyaratan efektivitas efisiensi gerakan.
3.
Pertimbangan
mengenai kelebihan maupun kekurangan (keterbatasan) yang berkaitan dengan
kemampuan fisik yang dimiliki oleh manusia di dalam memberikan respon sebagai
kriteria-kriteria yang perlu diperhatikan pengaruhnya dalam perancangan desain.
4.
Mengaplikasikan
semua pemahaman yang terkait dengan aspek psikologik manusia sebagai prinsip-prinsip
yang mampu memperbaiki motivasi, attitude,
moral, kepuasan dan etos kerja.
Selain hal-hal
tersebut di atas, unsur lain yang juga penting untuk diperhatikan dalam perancangan
adalah hubungan antara lingkungan, manusia, alat-alat atau perangkat kerja,
dengan produk fasilitas kerjanya. Satu sama lain saling berinteraksi dan
memberi pengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi,
keselamatan, kesehatan, kenyamanan maupun ketenangan orang bekerja sehingga
menghindarkan diri dari segala bentuk kesalahan manusiawi (human error) yang berakibat kecelakaan kerja. Lingkungan
fisik tempat kerja bagi manusia dipengaruhi antara lain oleh:
1)
Cahaya
Dalam faktor cahaya,
kemampuan mata untuk melihat obyek dipengaruhi oleh ukuran obyek, derajat
kontras antara obyek dan sekelilingnya, luminensi (brightness), lamanya melihat, serta warna dan tekstur yang
memberikan efek psikologis pada manusia. Mata diharapkan memperoleh cahaya yang
cukup, pemandangan yang menyenangkan, menenangkan pikiran, tidak silau, dan
nyaman. Pencahayaan yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan pada mata.
2)
Kebisingan
Aspek yang menentukan
tingkat gangguan bunyi terhadap manusia adalah lama waktu bunyi terdengar,
intensitas (dalam ukuran desibel/dB, besarnya arus energi per satuan luas), dan
frekuensi (dalam Hertz/Hz, jumlah getaran per detik). Usaha-usaha pengurangan
kebisingan dapat dilakukan dengan pengurangan kegaduhan pada sumber,
pengisolasian peralatan penyebab kebisingan, tata akustik yang baik/ memberikan
bahan penyerap suara, memberikan perlengkapan pelindung.
3)
Getaran
mekanis
Getaran mekanis dapat
diartikan sebagai getaran-getaran yang ditimbulkan oleh alat-alat mekanis. Biasanya
gangguan yang dapat ditimbulkan dapat mempengaruhi kondisi bekerja, mempercepat
datangnya kelelahan dan menyebabkan timbulnya beberapa penyakit. Besaran
getaran ditentukan oleh lama, intensitas, dan frekuensi getaran. Sedangkan
anggota tubuh mempunyai frekuensi getaran sendiri sehingga jika frekuensi alami
ini beresonansi dengan frekuensi getaran mekanis akan mempengaruhi konsentrasi
kerja, mempercepat kelelahan, gangguan pada anggota tubuh seperti mata, syaraf,
dan otot.
4)
Temperatur
Temperatur yang
terlalu panas akan mengakibatkan cepat timbulnya kelelahan tubuh, sedangkan
temperatur yang terlalu dingin membuat gairah kerja menurun. Kemampuan adaptasi
manusia dengan temperatur luar adalah jika perubahan temperatur luar tersebut
tidak melebihi 20 % untuk kondisi panas dan 35 % untuk kondisi dingin (dari
keadaan normal tubuh). Dalam kondisi normal, temperatur tiap anggota tubuh
berbeda-beda. Tubuh manusia bisa menyesuaikan diri karena kemampuannya untuk
melakukan proses konveksi, radiasi dan penguapan.Produktivitas manusia paling
tinggi pada suhu 24 – 27° C.
5)
Kelembaban
Kelembaban diartikan
sebagai banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasanya dinyatakan dalam
persentase. Jika udara panas dan kelembaban tinggi, terjadi pengurangan panas
dari tubuh secara besar-besaran dan denyut jantung makin cepat.
6)
Warna.
Permainan warna dalam
desain memberi dampak psikologis bagi pengamat dan pemakainya, misalnya warna
merah memberi kesan merangsang, kuning memberi kesan luas dan terang, hijau
atau biru memberi suasana sejuk dan segar, gelap memberi kesan sempit,
permainan warna-warna terang memberi kesan luas.
Selain hal-hal
tersebut di atas, kemampuan untuk meningkatkan produktivitas kerja manusia
dipengaruhi pula oleh sikap, gerakan, aktivitas, struktur fisik tubuh
manusia,struktur tulang, otot rangka, sistem saraf dan proses metabolisme.
Sikap yang tidak tepat menyebabkan gangguan, stress, rasa malas bekerja,
ketidaknyamanan dan kelelahan (kelelahan pada seluruh tubuh, mental, urat
syaraf, bahkan menyebabkan rasa sakit dan kelainan pada struktur tubuh manusia.
Aktivitas kerja
manusia, baik fisik maupun mental mempunyai tingkat intensitas yang berbeda.
Intensitas tinggi berarti energi tinggi, intensitas rendah berarti energi rendah.
Mengeluarkan energi dalam jumlah besar untuk periode yang lama bisa menimbulkan
kelelahan fisik dan mental, sedangkan kelelahan mental lebih berbahaya dan
kadang-kadang menimbulkan kesalahan-kesalahan kerja yang serius. Selain itu, posisi
tubuh yang tidak alami atau sikap yang dipaksakan berakibat pada pengurangan produktivitas
manusia, hal ini berkaitan dengan dengan sejumlah tenaga yang harus dikeluarkan
akibat beban tambahan.
Bagas (2000)
mengatakan, apabila antara manusia (pemakai) dan kondisi hasil desain yang
sifatnya fisik atau mekanismenya tidak aman, itu berarti terjadi ketidakmampuan
pelaksanaan fungsi secara baik, sehingga berakibat pada kesalahan manusiawi
(human errors), kegagalan akhir pada desain yang tidak baik, kesulitan dalam produksi,
kegagalan produk, bahkan menimbulkan kecelakaan kerja. Hal yang sama diungkapkan
oleh Cormick dan Sanders (1992) ‘ it is
easier to bend metal than twist arms’, yang bisa diartikan merancang produk
untuk mencegah terjadinya kesalahan akan jauh lebih mudah bila dibandingkan
mengharapkan orang atau operator jangan sampai melakukan kesalahan pada saat
mengoperasionalkan produk tersebut. Memperhatikan hal tersebut, diperlukan
pengetahuan dan penyelidikan tentang ketepatan atau kepresisian, kesesuaian,
kesehatan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan manusia dalam bekerja.
Faktor perbedaan
ukuran atau postur dan berat badan manusia, kebiasan, perilaku, sikap manusia
dalam beraktivitas, serta kondisi lingkungan juga memerlukan penyelidikan lebih
lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia antara lain umur, jenis
kelamin (dimensi tubuh laki-laki umumnya lebih besar dari wanita), suku bangsa,
dan posisi tubuh. Sedangkan dalam perancangan desain, pertimbangan ergonomi
yang nyata dalam aplikasinya untuk mendapatkan data ukuran tubuh yang akurat
menggunakan pengukuran anthropometri
(a) Normal (Kelenturan normal/alami, tidak
ada tekanan pada cakram tulang belakang
(b) Kifosis (tulang punggung terlalu
bengkok kebelakang, cakram terjepit),
(c) Lordosis (tulang punggung bengkok
ke depan, cakram terjepit),
(d) Skoliosis (tulang punggung bengkok
ke kiri dan kanan, cakram terjepit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar