Desain dapat diartikan
sebagai salah satu aktivitas luas dari inovasi desain dan teknologi yang
digagaskan, dibuat, dipertukarkan (melalui transaksi jual-beli) dan fungsional.
Desain merupakan hasil kreativitas budi-daya (man-made object) manusia yang
diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang memerlukan perencanaan,
perancangan maupun pengembangan desain, yaitu mulai dari tahap menggali ide
atau gagasan, dilanjutkan dengan tahapan pengembangan, konsep perancangan,
sistem dan detail, pembuatan prototipe dan proses produksi, evaluasi, dan
berakhir dengan tahap pendistribusian. Jadi dapat disimpulkan bahwa desain
selalu berkaitan dengan pengembangan ide dan gagasan, pengembangan teknik,
proses produksi serta peningkatan pasar.(Bagas, 2000)
Ruang lingkup kegiatan
desain mencakup masalah yang berhubungan dengan sarana kebutuhan manusia, di
antaranya desain interior, desain mebel, desain alat-alat lingkungan, desain
alat transportasi, desain tekstil, desain grafis, dan lain-lain. Memperhatikan
hal-hal tersebut, desainer dalam analisis pemecahan masalah dan perencanaannya
atau filosofi rancangan desain bekerja sama dengan masyarakat dan disiplin ilmu
lain seperti arsitek, psikolog, dokter atau profesi yang lain. Misalnya, dalam
merancang desain kursi pasien gigi, dibutuhkan kerja sama dari dokter dan
pasien, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang aktivitas dan posisi duduk
pasien sebagai pemakai, yang efektif, efisien, aman, nyaman dan sehat, sehingga
desainer dapat menyatukan bentuk dengan memusatkan perhatian pada estetika
bentuk, konstruksi, sistem dan mekanismenya. Selain itu, desainer dapat membuat
suatu prediksi untuk masa depan, serta melakukan pengembangan desain dan
teknologi dengan memperhatikan segala kelebihan maupun keterbatasan manusia
dalam hal kepekaan inderawi (sensory), kecepatan, kemampuan penggunaan sistem
gerakan otot, dan dimensi ukuran tubuh, untuk kemudian menggunakan semua
informasi mengenai faktor manusia ini sebagai acuan dalam perancangan desain
yang serasi, selaras dan seimbang dengan manusia sebagai pemakainya.(Bagas,
2000)
Untuk menilai suatu
hasil akhir dari produk sebagai kategori nilai desain yang baik biasanya ada
tiga unsur yang mendasari, yaitu fungsional, estetika, dan ekonomi. Kriteria
pemilihannya adalah function and purpose,
utility and economic, form and style, image and meaning. Unsur fungsional dan estetika sering disebut
fit-form-function, sedangkan unsur ekonomi lebih dipengaruhi oleh harga dan
kemampuan daya beli masyarakat.
(Bagas, 2000)
mengemukakan desain yang baik berarti mempunyai kualitas fungsi yang baik,
tergantung pada sasaran dan filosofi mendesain pada umumnya, bahwa sasaran
berbeda menurut kebutuhan dan kepentingannya, serta upaya desain berorientasi
pada hasil yang dicapai, dilaksanakan dan dikerjakan seoptimal mungkin.
Ergonomi merupakan
salah satu dari persyaratan untuk mencapai desain yang qualified, certified, dan customer need. Ilmu ini akan menjadi
suatu keterkaitan yang simultan dan menciptakan sinergi dalam pemunculan
gagasan, proses desain, dan desain final
Ergonomi adalah ilmu
yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan,
keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan,
sistem kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman dan efektif bagi
manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan
informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk
merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan
efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979).
Fokus utama
pertimbangan ergonomi menurut Cormick dan Sanders (1992) adalah mempertimbangkan
unsur manusia dalam perancangan objek, prosedur kerja dan lingkungan kerja.
Sedangkan metode pendekatannya adalah dengan mempelajari hubungan manusia,
pekerjaan dan fasilitas pendukungnya, dengan harapan dapat sedini mungkin
mencegah kelelahan yang terjadi akibat sikap atau posisi kerja yang keliru.
Untuk itu, dibutuhkan
adanya data pendukung seperti ukuran bagian-bagian tubuh yang memiliki
relevansi dengan tuntutan aktivitas, dikaitkan dengan profil tubuh manusia,
baik orang dewasa, anak-anak atau orang tua, laki-laki dan perempuan, utuh atau
cacad tubuh, gemuk atau kurus. Jadi, karakteristik manusia sangat berpengaruh
pada desain dalam meningkatkan produktivitas kerja manusia untuk mencapai
tujuan yang efektif, sehat, aman dan nyaman. Tujuan tersebut dapat tercapai
dengan adanya pengetahuan tentang kesesuaian, kepresisian, keselamatan,
keamanan, dan kenyamanan manusia dalam menggunakan hasil produk desain, yang
kemudian dikembangkan dalam penyelidikan di bidang ergonomi. Penyelidikan
ergonomi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu :
1) Penyelidikan tentang
tampilan/display
Penyelidikan pada
suatu perangkat (interface) yang menyajikan informasi tentang lingkungan dan
mengkomunikasikannya pada manusia antara lain dalam bentuk tanda-tanda, angka,
dan lambang,
2) Penyelidikan tentang kekuatan
fisik manusia
Penyelidikan dengan
mengukur kekuatan serta ketahanan fisik manusia pada saat kerja, termasuk
perancangan obyek serta peralatan yang sesuai dengan kemampuan fisik manusia
beraktivitas.
3) Penyelidikan tentang ukuran tempat
kerja
Penyelidikan ini
bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan ukuran
atau dimensi tubuh manusia. Penyelidikan tentang lingkungan kerja Meliputi
penyelidikan mengenai kondisi lingkungan fisik tempat kerja dan fasilitas kerja,
misalnya pengaturan cahaya, kebisingan, temperatur, dan suara.
4) Penyelidikan tentang lingkungan
fisik
Lingkungan fisik
meliputi ruangan dan fasilitas-fasilitas yang biasa digunakan oleh manusia,
serta kondisi lingkungan kerja, kedua-duanya banyak mempengaruhi tingkah laku
manusia.
Berkenaan dengan
penyelidikan tersebut, beberapa disiplin ilmu ergonomi yang terlibat antara
lain anatomi dan fisiologi (struktur dan fungsi pada manusia), antropometri (ukuran-ukuran
tubuh manusia), fisiologi psikologi (sistim syaraf dan otak manusia), dan psikologi
eksperimen (perilaku manusia). Studi tentang psikologi eksperimen dalam desain
diperlukan untuk mengetahui kebutuhan dimensi/ukuran tubuh manusia (misalnya saja
kebiasaan, perilaku dan budaya manusia duduk, berdiri, mengambil sesuatu, dan bergerak),
sehingga didapatkan ukuran yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan data dalam perencanaan
desain. Psikologi dijadikan studi karena dianggap penting untuk menelaah perilaku
dan hal-hal yang dipikirkan oleh manusia sebagai pengguna desain. Seperti yang diungkapkan
Ching (1987) dalam perencanaan desain mebel, manusia adalah faktor utama yang
mempengaruhi bentuk, proporsi dan skala mebel. Untuk memperoleh manfaat dan
kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas, mebel harus dirancang sesuai dengan
ukuran tubuh manusia, jarak bebas yang diperlukan oleh pola aktivitas dan sifat
aktivitas yang dijalani.
Pengambilan data
ukuran yang keliru mengakibatkan kegagalan desain, struktur dan fungsi tubuh
manusia terganggu dan berubah, bahkan yang paling vital mengakibatkan terganggunya
sistem otak dan saraf. Misalnya dalam perancangan desain kursi, Suparto (2003)
mengungkapkan hal penting yang diperhatikan dalam perancangan yaitu memperhatikan
kemampuan elemen-elemen kursi untuk menanggapi dan membentuk keseimbangan dan
kestabilan pada saat orang duduk di atasnya. Pusat gravitasi tubuh pada saat
duduk tegak berada sekitar 22 cm di muka dan 24 cm di atas titik acuan duduk (titik
acuan duduk adalah perpotongan bidang sandaran dan alas duduk), sedangkan pada saat
berdiri tegak pusat gravitasi akan berada 10 cm di depan dan sekitar 15 cm di
atas titik acuan duduk. Jadi perancangan dudukan yang terlalu tinggi atau
rendah akan berpengaruh buruk pada kenyamanan, mengurangi keseimbangan duduk,
kelelahan pada daerah punggung khususnya tulang belakang, bahkan bahaya yang
lebih besar adalah terjadinya hambatan dalam sirkulasi darah atau gumpalan
darah (thrombophlebitis).Ringkasnya, ergonomi merupakan faktor penting yang
harus diperhatikan dalam perancangan desain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar