Kesediaan individu untuk mengambil risiko diartikan sebagai keinginan dari individu untuk terlibat dengan risiko potensial untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas tinggi untuk mencapai tujuannya dengan lebih baik (Dewett, 2006, 2007). MacCrimmon dan Wehrung (1990) juga mendefinisikan kecenderungan risiko sebagai kesediaan umum untuk mengambil risiko. Hal ini menjelaskan bahwa meskipun kecenderungan risiko paling baik didefinisikan sebagai sifat individu, faktor kontekstual akan berdampak pada perilaku pengambilan risiko (March & Shapira, 1987).Weber dkk (2002) mengklaim bahwa setiap individu mampu melihat risiko dalam situasi yang sama, tetapi perbedaannya setiap individu memiliki toleransi akan risiko yang berbeda. Hal ini serupa dengan pendapat Kiprotich dkk (2015) yang mengkonsepkan pengambilan risiko sebagai bagian dari karakteristik individu yang cenderung untuk mengambil atau menghindari risiko. Kecenderungan individu ini dapat berbentuk penghindaran atau penerimaan atas risiko ketika dihadapkan dengan situasi yang berisiko (Littunen, 2000). Kecenderungan individu dalam mengambil risiko juga dapat diubah melalui serangkaian pengalaman meskipun karakteristik dari individu tersebut sudah cukup stabil.
Kecenderungan pengambilan risiko pada dasarnya dapat dikonseptualisasikan secara efektif sebagai orientasi individu terhadap peluang dalam keadaan pengambilan keputusan apapun.Setiap individu memiliki perbedaan sikap apabila dihadapkan dengan risiko (Lion, Meertens & Bot, 2002). Telah banyak penelitian serupa yang memfokuskan penelitiannya pada perbedaan individu dalam pengambilan risiko (Harrison dkk, 2005). Beragamnya ciri kepribadian yang dimiliki individu menjadikannya sebagai sumber pengaruh pada kecenderungan untuk mengambil risiko.Cloninger (1987) juga mengemukakan pendapatnya bahwa individu yang menghindar dari bahaya adalahperencana yang matang karena mempertimbangkan seluruh aspek sebelum terlibat dalam suatu keputusan. Ini menunjukkan adanya kebutuhan akan kognisi terkait dengan kecenderungan untuk mengambil risiko. Asumsinya, pengambil dan penghindar risiko adalah individu yang cenderung menggunakan kognitif mereka. Kebutuhan akan kognisi dibuktikan individu dengan menyusun situasi yang relevan dengan cara yang efektif (Cohen, Stotland & Wolfe, 1955).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar