Senin, 21 November 2022

Prinsip Rancangan MMR (skripsi, tesis, disertasi)


 Ilmuwan berpengaruh, Morse (2010), mengeluarkan empat prinsip dalam MMR. Namun dalam bagian ini, penulis hanya memberikan dua prinsip yang kemudian penulis kaitkan dengan konteks olahraga. Pertama, mengenali arah teoretis proyek penelitian. Semua proyek penelitian memiliki tujuan akhir berupa penemuan ataupun pengujian. Cara utama yang ditempuh peneliti dalam mengkaji secara tuntas tema penelitian di sebut dengan arah teoretis. Arah teoretis tersebut dapat berciri induktif (untuk tujuan penemuan) atau deduktif (untuk tujuan pengujian). Arah teoretis induktif adalah ketika peneliti bekerja dengan tujuan untuk menemukan jawaban, misalnya, Kenapa pelatih yang satu lebih sukses dibanding dengan pelatih yang lain? Apakah yang membuat seorang atlet lebih berprestasi dibanding dengan atlet lainnya? Faktor apa yang menyebabkan itu terjadi? Seluruh arah induktif tidak berubahah meskipun terdapat bagian-bagian kecil dalam penelitian yang berusaha untuk melakukan konfirmatoris seperti dalam arah deduktif.
Jikalau semangat utama penelitiannya adalah untuk menguji suatu teori atau hipotesis, untuk menjawab seberapa besar, untuk menentukan hubungan dan tujuan sejenis lainnya maka arah teoretisnya berciri deduktif. Pertanyaan yang biasa diajukan dengan arah teoretis seperti ini antara lain: Apakah ada perbedaan kemampuan motorik antara anak yang tinggal di daerah pesisir dengan di gunung? Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan pelatih dengan disiplin atlet? Sekali lagi, meskipun arah utama teoretisnya adalah berciri deduktif namun dalam penelitianya, seorang peneliti dapat memasukkan arah induktif untuk mendapat pemahaman yang lebih komprehensif. Misalnya, bertalian dengan budaya hidup masyarakat, kebiasaan masyarakat dalam beraktivitas fisik, dan konstruk-konstruk lain yang relevan. Kedua, menyadari akan dominasi yang ada dalam proyek penelitian. Dalam rancangan mixed methods kita akan menemui istilah dominan (dominant) seperti yang digunakan Morse (2010) serta Tashakkori & Teddlie (2010) atau prioritas (priority) dari Morgan (1998) yang menunjukkan tentang kadar atau bobot dalam desain penelitian. Kesadaran akan bobot tersebut menjadi penting agar proyek penelitian dapat berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan kerancuan dalam praktiknya. Morse (2010), Creswell (2010; 2012), dan Creswell at al (2010) memberikan notasi huruf besar dan kecil untuk menunjukkan metode mana yang lebih dominan atau yang memiliki bobot (weighting) lebih tinggi. Ketika peneliti menggunakan metode kualitatif lebih dominan sedangkan kuantitatif sebagai suplementer maka peneliti dapat memberikan notasi KUAL + kuan atau . Sebaliknya, ketika metode kuantitatif lebih dominan dibanding dengan kualitatif maka kita dapat memberikan notasi KUAN + kual atau Kual ---->Kuan

Tidak ada komentar: