Pada tahun 1955, obat-obat sulfonilurea tersedia luas untuk pengobatan DMTTI. Senyawa ini merupakan arilsulfonilurea dengan penggantian pada gugusan benzena dan urea.
- Mekanisme Kerja
Paling sedikit ditemukan tiga mekanisme kerja sulfonilurea: (1) penglepasan insulin dari sel B, (2) pengurangan kadar glukagon dalam serum, dan (3) efek ekstra pankreas untuk memperkuat kerja insulin pada jaringan target (Katzung,1998).
- Penglepasan Insulin dari Sel B Pangkreas: Sulfonilurea terikat pada reseptor spesifik yang berhubungan dengan saluran kalium pada membran sel B. pengikatan sulfonilurea menghambat keluarnya kalium melalui saluran dan menghasilkan depolarisasi. Depolaris, pada gilirannya, membuka saluran pintu kalsium bermuatan listrik yang mengakibatkan masuknya kalsium dan penglepasan prabentuk insulin. Penghambatan saluran kalsium dapat mencegah kerja sulfonilurea in vitro, tetapi ini memerlukan konsentrasi penghambat kalsium 100-1000 kali kadar terapeutik untuk mencapai hambatan tersebut, mungkin karena saluran kalsium berhubungan dengan sel B yang tidak identik dengan saluran kalsium tipe-L sistem kardiovarkular. Lebih lanjut, diazoksid suatu tiazid mirip pembuka saluran kalium, menghalangi efek insulinotropik sulfonilurea. Penyelidikan ini juga memberikan suatu penjelasan mengenai efek hiperglikemik diuretik tiazid (Katzung,1998).
- Penuruanan Konsentrasi Glukagon Serum: Sekarang telah ditetapkan bahwa pemberian sulfonilurea menahun pada penderita diabetes yang tidak tergantung insulin akan menurunkan kada glukadon serum. Hal ini dapat menyokong efek hipoglikemik obat ini. Mekanisme efek penekanan sulfonilurea ini terhadap kadar glukosa belum jelas, tetapi mungkin melibatkan penghambatan langsung yang disebabkan karena pengingkatan pengelepasan insulin dan somatostatin (Katzung,1998).
- Potensi Kerja Insulin pada Jaringan Target: Terdapat bukti bahwa peningkatan insulin ke jaringan reseptor terjadi selama pemberian sulfonilurea pada penderita diabetes tipe II. Peningkatan dalam jumlah reseptor yang dapat meningkatkan efek, dicapai dengan konsentrasi agonis tertentu; suatu kerja sulfonilurea seperti itu akan menambah potensi efek insulin penderita dalam kadar rendah maupun eksogen. Walaupun begitu, efek in vivo ini tidak terjadi jika insulin in vitro ditambah pada jaringan target. Lebih lanjut, pada penderita diabetes yang bergatung insulin tanpa sekresi insulin endogen, maka terapi sulfonilurea belum terbukti memperbaiki kontrol glukosa darah, meningkatkan senstivitas terhadap pemberian insulin, atau meningkatkan peningkatan insulin oleh reseptor (Katzung,1998).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar