Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan KB pada pasangan usia subur, yaitu (Endah, 2005):
- Pendidikan
Pendidikan selain memberikan fasilitas kepada seseorang untuk mempermudah mendapatkan lapangan pekerjaan juga dapat membentuk sikap dan pandangan. Orang yang berpendidikan biasanya akan punya wawasan lebih luas dalam menentukan sesuatu. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan non formal.
Pengaruh faktor pendidikan seseorang terhadap kesadaran berkeluarga berencana dapat dijelaskan melalui sikap atau pilihan orang tersebut dalam menilai tentang ukuran keluarga dan pemakaian alat kontrasepsi. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tingi pula keinginan untuk mengikuti program KB.
- Status ekonomi keluarga
Menurut hasil penelitian di Jawa Tengah, telah terbukti bahwa wanita-wanita dengan tingkat sosial ekonomi rendah punya tingkat kesuburan yang rendah dibanding dengan wanita dengan golongan sosial ekonomi menengah. Keadaan ini disebabkan karena wanita golongan sosial ekonomi rendah punya waktu pantang berkumpul lebih lama dibanding dengan yang memiliki golongan sosial ekonomi menengah.
Semakin tinggi status ekonomi keluarga, makin tinggi pula prosentase wanita yang menggunakan kontrasepsi modern.
Pendapatan keluarga berpengaruh terhadap partisipasi akseptor dan pemakaian kontrasepsi jangka panjang sehubungan dengan biaya yang dikeluarkan dalam pemakaian metode kontrasepsi dan pelayanan KB. Pendapatan keluarga yang tinggi maka mampu sediakan biaya yang cukup dalam pemakaian kontrasepsi dan pelayanannya, sedangkan pendapatan keluarga yang rendah menimbulkan kecenderungan untuk menggunakan metode kontrasepsi yang lebih murah (Yuarsi, 1997)
- Pekerjaan ibu
Umumnya pengetahuan tentang KB pada wanita yang punya pekerjaan diperoleh dari lingkungan kerjanya.
Penelitian Resusrin (1981) di Ambon, mendapatkan hasil bahwa wanita yang mempunyai pekerjaan terutama sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta lebih banyak tahu tentang KB dengan jenis kontrasepsinya serta telah menjadi akseptor dibanding dengan pedagang.
Biasanya wanita yang punya pekerjaan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya Dharma Wanita, arisan, olah raga, dan aktivitas diluar rumah yang merupakan lingkungannya. Kelompok wanita tersebut dapat informasi tentang KB dan kontrasepsi yang diharapkan akan bertambah banyak.
- Faktor suami / istri
Orang yang paling dekat dengan akseptor adalah suami atau istrinya yang berpengaruh besar dan sangat berperan dalam kehidupan rumah tangga serta seluruh anggota keluarga. Dalam kehidupan suami istri, terjadi komunikasi antar manusia atau antar individu sehingga dapat menyampaikan perasaan, pikiran, maksud, gagasan, dan pengetahuan secara timbal balik.
Berdasarkan keadaan ini diharapkan kawan hidup yang berpendidikan dan punya pengetahuan tentang KB dan kontrasepsi dapat memberikan informasi kepada pasangannya.
Penghambat pemberian informasi adalah kurangnya intensitas komunikasi antar suami dan istri (Pengkula, 1987). Istri biasanya menempatkan dirinya dibawah suami dalam pengambilan keputusan keluarga (Sukirna, 1985). Menurut falsafah Jawa Kuno dikenal istilah “Swarga nurut, neroko katut” dengan suaminya, yang artinya seorang istri harus menurut tanpa membantah kepada apa yang dikatakan suaminya, jika tidak maka neraka imbalannya.
- Lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat adalah orang-orang lain yang berpengaruh pada sikap seseorang dalam menghadapi obyek tertentu. Khusus mengenai program KB, seseorang dapat memperoleh pengertian dan pengetahuan dari tempat pelayanan KB, PLKB, tetangga dan teman, petugas non kesehatan, media massa, dll.
Banyak sedikitnya pengertian dan pengetahuan tentang KB yang didapat seseorang tergantung pada kesempatan, kemampuan dan pergaulan seseorang terhadap sarana pada lingkungan tersebut.
Peranan para petugas non kesehatan (ulama, kyai, pendeta, pastur, camat, kepala desa, ketua adat, dan sebagainya) punya peranan penting pada tingginya pengetahuan seseorang tentang KB dan kontrasepsi.
- Keinginan punya anak
Nilai yang mendorong orang tua untuk punya anak adalah berdasarkan keuntungan atau fungsi anak dalam keluarga (Prayitno, 1986 ; Ancok, 1987). Yaitu :
- Kebutuhan Emosional
Kebahagiaan akan mengurangi ketegangan dan kesepian. Ada yang beranggapan banyak anak sebagai bukti dia berhasil dan berprestasi dalam hidupnya.
- Sebagai penerus keturunan
Anak adalah pengikat suami istri, sebagai pelengkap keluarga dan penerus keturunan.
- Pengembangan diri
Orang tua akan mendapat pengalaman pada waktu mendidik dan mengasuh anak
- Identifikasi dengan anak
Anak adalah sebagian dari kehidupan orang tua, anak sebagai anugrah dan amanat Tuhan.
- Keuntungan ekonomi
Anak bisa menjadi sumber tenaga kerja, membantu keluarga terutama dihari tua.
- Sosial budaya
Masih adanya pandangan bersahaja yang kuat dari masyarakat yang selama ini bertentangan dengan tujuan penurunan angka kelahiran adalah adanya suatu anggapan “banyak anak banyak rezeki”. Anggapan sebagian masyarakat itu didukung oleh penafsiran akan terjadinya pengakumulasian tenaga dalam fungsionalnya bagi kelangsungan keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar