Shivering adalah invulentary muscle tremor karena efek vasodilatasi, aktifitas reflek spinal, overaktifitas simpatis, hipotermia operatif yang terjadi akibat inhibidi system termoregulasi yang dicetuskan akibat obat-obatan anestesi. Manipulasi objektif yaitu pasien tampak menggigil pada beberapa kelompok otot atau seluruh tubuh atau anggota badan (Alfonsi, 2001).
Penyebab utama shivering pasca anestesi adalah hypothermia yang terjadi akibat inhibisi system thermoregulasi yang dicetuskan oleh obat-obat anestesi. Tapi bagaimanapun tidak semua shivering pasca anestesi dan operasi berhubungan dengan respon thermoregulasi (non thermoregulating shivering) dimana diketahui antara lain: nyeri pasca operasi, reaksi transfuse, sepsis, alergi obat dan lain-lain.
Angka insidennya sangat bervariasi antara 5-65%. Tidak ditemukan adanya perbedaan insiden berdasarkan gender. Pasien dewasa muda sepertinya kelompok yang paling rentan terhadap shivering dibandingkan kelompok umur lainnya. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah durasi anestesi dan pembedahan serta obat-obatan yang dipakai selama anestesi.
Patofisiologi terjadinya shivering pasca anestesi masih belum jelas. Beberapa hipotesis dikemukakan untuk menjelaskan kejadian shivering pasca anestesi ini, antara lain: hipotermia operatif, nyeri pasca operasi, kehilangan panas tubuh periopeartif, pengaruh langsung dari obat-obatan anestesi tertentu, hiperkapnia atau alkalosisi respiratory, adanya pyrogen, hipoksia, pemulihan awal dari aktifitas reflek spinal dan overaktifitas simpatis.
Dapat dikatakan bahwa shivering pasca anestesi ada dua yaitu: Pertama, shivering yang berhubungan dengan thermoregulasi yang merupakan respon fisiologis terhadap hipotermia yang terjadi periopeartif. Kedua adalah non thermoregulating shivering dengan penyebab yang belum diketahui adalah nyeri pasca operasi (Alfonsi, 2001; Horn, 1999).
Pusat motorik untuk shivering terletak berdekatan dengan daerah sentral pada hipotalamus posterior dimana impuls-implus dari reseptor dingin datang. Hal ini secara normal dihambat oleh impuls-impuls dari daerah preoptik yang sensitif terhadap panas di daerah hipotalamus anterior tetapi ketika impuls dingin melebihinya, pusat motor untuk shivering ini menjadi teraktivasi dan mengirimkan impuls secara bilateral ke dalam motor neuron antarior spinal cord. Pada awalnya hal ini hanya meningkatkan tonus otot skeletal seleuruh tubuh, tapi ketika tonus otot ini meningkat di atas level tertentu maka terjadilah shivering (Buggy, 2000).
Konsekuensi klinis pertama akibat shivering pasca anestesi adalah rasa tidak nyaman bagi pasien. Rasa tidak nyaman ini berhubungan dengan sensasi dingin yang dirasakan oleh pasien, juga rasa sakit akibat kontraksi otot, teruatam daerah sekitar luka operasi. Efek utama dari shivering pasca anestesi adalah peningkatan konsumsi oksigen karena shivering mencetuskan peningkatan kebutuhan metabolik. Konsekuesni dari hal ini adalah peningkatan produksi karbondioksida vahkan kadang-kadang jika kebutuhan metabolik melampaui kapasitas oksigen delivery ke perifer maka anak terjadi metabolisme anaerob. Peningkatan tekanan intracranial dan tekanan intraokuler akibat shivering tentu perlu mendapat perhatian khususnya pasien bedah bedah saraf dan operasi mata (Tasi, 2001; Piper, 1999).
Menurut derajatnya, shivering dibagi menjadi
Derajat 0 : tidak ada shivering
Derajat 1 : piloereksi atau vasokontriksi perifer tapi tidak tampak shivering
Derajat 2 : ada aktifitas otot tapi terbatas pada satu kelompok otot
Derajat 3 : aktifitas otot terjadai lebih dari satu kelompok otot
Derajat 4 : shivering seluruh tubuh
Pada kebanyakan kasus, hipotermia bertanggung jawab terhadap terjadinya shivering pasca operasi. Mekanisme terjadinya hipotermia perioperatif sudah mulai banyak diketahui dan ternyata ada hubungan yang konsisten antara penghambatan kompetitif respon thermoregulasi oleh obat-obat anestesi, penurunan metabolisme tubuh dan paparan terhadap lingkungan dingin. Temperatur core tubuh biasanya mengalami penurunan 0,5-1,50 C dalam 30 menit pertama setelah induksi anestesi umum. Hipotermia terjadi karena redistribusi internal dari panas dan bermacam-macam faktor penting lainnya yang sangat sukar ditentukan pada tiap-tiap individu pasien sehingga gangguan temperatur core tubuh selama 30 menit pertama anestesi sangat sukar diinterprestasikan. Secara skematis, penurunan temperature core tubuh terjadai dalam tiga fase. Fase pertama terjadi segera setelah induksi anestesi dan merupakan transfer atau redistribusi internal panas tubuh ke perifer. Temperatur tubuh menurun tanpa ada proses kehilangan panas. Fase kedua adalah penurunan temperatur core tubuh akibat kehilangan panas (melalui kulit, paparan organ viscera atau perfusi dari cairan infus dingin) yang lebih besar dari produksi panas. Pada fase ketiga terjadilag vasokontriksi pada kulit. Pada fase ini temperatur core relatif stabil karena terjadinya keseimbangan antara kehilangan panas dan proses pembentukan panas ubuh. Karena hipotermia periopeartif memgang peranan terjadinya hipotermia perioperatif merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah atau mengurangi kejadian shivering pasca anestesi (Sessler, 2000;Sellden, 1996).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar