Minggu, 27 Maret 2022

Metode Promosi Kesehatan (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Menurut Effendy (2003)  dalam penyuluhan kesehatan terdapat dua metode, yaitu metode didaktik dan sokratik.

1). Metode didaktik :  metode ini merupakan jenis metode dimana penyuluhan dilakukan secara searah  dari pemberi materi kepada pendengarnya,  tanpa memberi kesempatan kepada pendengar untuk memberikan pendapatnya.

2). Metode sokratik :  metode ini merupakan jenis metode dimana penyuluh memberikan kesempatan kepada pendengarnya untuk memberikan pendapat secara aktif

Sedangkan Notoatmodjo (2007)  membedakan metode berdasarkan sasarannya,  yaitu penyuluhan individual dan kelompok.

1). Penyuluhan Individual :  tujuan dari metode ini adalah untuk mengubah perilaku individu  yang disesuaikan dengan kebutuhannya dan kemampuan  individu tersebut

2).  Penyuluhan kelompok

  1. Kelompok besar

Dapat dikatakan sebagai kelompok besar jika jumlah pesertanya lebih dari 15 orang.  dalam kelompok besar ini,  metode yang dapat dilaksanakan adalah seperti ceramah, seminar dan demonstrasi

  • Ceramah : ceramah dilakukan dengan cara pembicara memberikan materi secara lisan kepada pendengar dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab setelahnya. ciri khas dari metode ceramah adalah kelompok pendengar sudah ditentukan, ada pesan yang harus disampaikan, adanya pertanyaan yang bisa disampaikan walaupun jumlahnya dibatasi, serta ada alat peraga Jika jumlah kelompok pendengar sangat banyak.  keuntungan dari metode ceramah adalah hemat biaya serta mudah untuk dilakukan, serta waktu yang dibutuhkan juga dapat menyesuaikan dari  kebutuhan kelompok pendengar  dan materi yang diberikan dapat diterima oleh hampir semua kelompok masyarakat, walaupun  kelompok yang tidak bisa membaca maupun menulis.
  • Seminar : seminar dilakukan  oleh pembicara yang merupakan ahli dalam bidang isu yang sedang dibicarakan
  • Demonstrasi : demonstrasi dilakukan oleh pembicara dengan lebih mengutamakan peningkatan kemampuan yang dilakukan secara langsung menggunakan alat peraga
  1. Kelompok kecil

Dikatakan sebagai kelompok kecil Jika jumlah peserta diskusi 5-15  peserta yang dipimpin oleh satu pembicara yang membahas tentang suatu topik. dalam kelompok kecil ini, metode yang dapat dilaksanakan adalah seperti curah pendapat, panel, dan bermain peran.

  • Curah pendapat : metode curah pendapat dilakukan untuk mencari sebuah solusi serta mengevaluasi bersama solusi tersebut,  dan diikuti oleh semua peserta diskusi.
  • Panel : metode panel dilakukan dengan melibatkan setidaknya 3  orang panelis yang dihadirkan di depan penonton menyangkut dengan topik yang  sudah ditentukan
  • Bermain peran : metode ini dilakukan dengan tujuan memberikan gambaran perilaku dari pihak-pihak terkait dengan isu tertentu yang lalu digunakan oleh penonton sebagai bahan pemikiran topik.

Selain itu, menurut Kemenkes RI, Promosi Kesehatan (2011), salah satu metode pendekatan promosi kesehatan adalah dengan diadakannya bina suasana. Bina Suasana adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan  untuk menciptakan lingkungan sosial yang dapat mendukung individu anggota masyarakat untuk melakukan perilaku sesuai dengan perilaku yang diperkenalkan.  Seseorang akan terdorong untuk melakukan suatu kebiasaan apabila lingkungan sosial dimana ia berada ( keluarga, rumah,  organisasi siswa/ mahasiswa,  karyawan,  selebriti/idola/ seseorang yang dijadikan panutan,   kelompok arisan,   majelis  agama,  masyarakat umum dan lain-lain) melakukan,   mendukung,  atau menyetujui perilaku tersebut.  Karenanya untuk memperkuat proses pemberdayaan, khususnya dalam usaha atau upaya meningkatkan perubahan kebiasaan perilaku para individu dari fase tahu ke fase mau,  perlu dilakukan Bina suasana.  Pada jenisnya dapat dibedakan menjadi tiga,  yaitu individu, kelompok dan publik.

  1. Bina Suasana Individu

Pada Bina suasana individu, dilakukan oleh individu- individu yang mempunyai pengaruh besar di masyarakat. dalam kategori ini dapat disebut juga sebagai tokoh masyarakat,  tokoh  masyarakat  dipilih sesuai dengan perilaku yang sedang diperkenalkan. Tugas tokoh masyarakat adalah mempraktikkan perilaku yang sedang diperkenalkan tersebut dalam kehidupan sehari-hari ( misalnya seorang kepala sekolah atau pemuka agama yang tidak merokok).  Pada tahap lebih lanjut bahkan jika bersedia para tokoh masyarakat dapat menjadi kader  dan  turut menyebarluaskan informasi guna mengedukasi masyarakat dan menciptakan suasana yang kondusif bagi perubahan perilaku individu,

  1. Bina Suasana Kelompok

Bina suasana kelompok,  dilakukan Oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat,  seperti pengurus Rukun Tetangga(RT),  pengurus Rukun Warga (RW),  perkumpulan seni,  majelis pengajian,  organisasi wanita,  organisasi profesi,  organisasi  siswa/ mahasiswa,  organisasi  pemuda,  karyawan, dll.  Bina suasana kelompok juga dapat dilakukan bersama dengan pemuka/ tokoh masyarakat yang telah peduli. dalam kategori ini  kelompok- kelompok tersebut menjadi kelompok yang peduli dengan dan pelaku yang sedang diperkenalkan dan menyetujui serta mendukungnya.  Bentuk dukungan yang dapat diberikan an oleh kelompok ini dapat berupa selalu  mempraktikkan perilaku  yang diperkenalkan,  mengedukasi dan mengadvokasi  pihak terkait dan atau melakukan kontrol sosial terhadap individu-individu anggotanya.

  1. Bina Suasana Publik

Bina suasana publik, dilakukan oleh masyarakat umum melalui pengembangan kemitraan dan pemanfaatan berbagai media komunikasi, seperti radio, koran, televisi, situs internet, majalah , dan lain-lain,  sehingga  nampak terciptanya kesepakatan umum. Dalam kategori  ini media-media massa tersebut  peduli dan mendukung atas perilaku yang sedang diperkenalkan. Dengan begitu, media massa merupakan Mitra dalam menyebarluaskan informasi serta  mengedukasi masyarakat tentang perilaku yang sedang diperkenalkan yang kemudian dapat menciptakan pendapat umum/ opini publik yang positif dan mendukung tentang perilaku tersebut. Pendapat umum yang bersifat positif ini akan dirasakan pula sebagai bentuk dukungan atau  “penekan” (social pressure) oleh individu individu anggota masyarakat, sehingga mereka merasa bahwa perilaku yang diperkenalkan tersebut harus dilaksanakan  dalam kehidupan sehari-hari (Kemenkes, 2011).

Tidak ada komentar: