Salah satu alasan umum penggunaan ventilasi mekanis adalah untuk menurunkan WOB pasien. Untuk mencapai tujuan tersebut sering digunakan pelumpuh otot yang menyebabkan pasien bernapas terkontrol. Ventilator bisa memberikan bantuan napas secara total maupun parsial. Pada bantuan napas secara total ventilator menggantikan semua tugas otot respirasi sehingga tidak ada interaksi pasien dengan ventilator. Dengan bantuan napas parsial terjadi interaksi antara pasien dengan ventilator untuk mengurangi kerja otot respirasi. Pelumpuh otot sendiri menimbulkan banyak efek samping yang tidak diinginkan sehingga saat ini lebih banyak digunakan mode ventilasi assisted.
Tidak mudah untuk mengetahui level ideal bantuan napas untuk menurunkan penggunaan otot respirasi selama ventilasi mekanis. Saat ini pengukuran yang digunakan untuk menilai usaha napas pasien adalah inspiratory pressure time product (PTP) yang mengukur perubahan tekanan intratorakal yang berkaitan dengan jumlah oksigen yang dikonsumsi untuk bernapas. Pada pasien yang mengalami kegagalan weaning dari ventilasi mekanis, memiliki PTP rata-rata 388 cmH2O.s/menit, sedangkan pada subyek yang sehat adalah 94cmH2O.s/menit. Dengan memilih setting ventilasi mekanis assisted yang sesuai maka PTP bisa dikurangi sampai kisaran normal (Tobin et al, 2001)
Penelitian 200 pasien dengan pemakaian ventilator jangka panjang didapatkan hasil bahwa hanya 3 dari 19 (16%) pasien dengan trigger asinkroni yang bisa lepas dari bantuan ventilator, sementara 57% pasien tanpa trigger asinkroni bisa lepas dari ventilator dalam waktu yang lebih singkat (Chao DC et al, 1997). Untuk mengurangi kerja otot respirasi secara efektif maka ventilator harus bekerja secara sinkron dengan ritme pernapasan pasien. Hubungan antara ritme pasien dan ventilator sangat rumit, masalah bisa muncul dari berbagai aspek siklus respirasi yaitu onset trigger ventilator, waktu berhentinya inspirasi setelah trigger, perubahan dari inspirasi ke ekspirasi dan akhir ekspirasi.
Sinkronisasi interaksi pasien-ventilator sangat penting untuk mencegah pembebanan otot respirasi akibat “fighting” ventilator, pemberian sedasi, pemakaian ventilator dalam waktu lama, gagal weaning dan lama rawat inap di ICU. Interaksi pasien-ventilator yang sinkron akan menurunkan sensasi tidak nyaman akibat dispnea, mencegah hipokapnia dan meningkatkan periode napas saat tidur (Ramar et al, 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar