Suksesi merupakan hal yang sangat krusial dalam mempertahankan kelanggengan atau kesinambungan perusahaan keluarga. Suksesi sering diartikan sebagai peralihan pimpinan puncak saja, karena kepemimpinannya akan menjangkau berbagai lapisan manajerial. Pola suksesi manajemen puncak di antaranya adalah :Planned Succesion yaitu perencanaan suksesi yang terfokus pada calon yang telah dipersiapkan untuk menduduki posisi kunci. Sementara itu, Informal Planned Succession, merupakan perencanaan suksesi yang lebih mengarah pada pemberian pengalaman dengan cara memberikan posisi di bawah “orang nomor satu” dan secara langsung menerima perintah dan petunjuk dari orang tersebut, dan Unplanned Succesion, yaitu peralihan pimpinan puncak kepada penerusnya berdasarkan keputusan pemilik dengan mengutamakan pertimbangan-pertimbangan pribadi. Hollinger (2013) menyatakan hal penting perencanaan suksesi adalah keberlanjutan dari pengembangan kepemimpinan. Saan (2013) menyampaikan model tentang kerangka konsepsual perencanaan suksesi dan kesinambungan perusahaan keluarga (conceptual framework of succession planning and FOB continuity) yang mengkaitkan antara pendiri (pemilik) dengan suksesor dan lingkungan, yang mempengaruhi proses suksesi dan keberhasilan suksesi perusahaan keluarga.
Kesediaanpendiri/pemilikuntuk mundurdanmemberikan pilihan untukpengganti,baik di dalamatau di luarkeluargamerupakan indikasiperlunyasuksesi. Kepentingan Founder Owner Willingness to step aside Freference for successor (internal or external C1 C2 C3 Successor Personal Interest Competence/experience Succession Process Communication and Consulitation Training /mentorship Enviroment : External Internal Successful Succession Stakeholder Satisfaction with succession process Stakeholder happiness with choice of successor 46 pribadisuksesordankompetensisertapengalaman akan dapat memfasilitasikesediaannyauntuk mengambil alihsuksesi sesegeramungkin.Lingkunganyang terdiri dariinternal dan eksternal, bersama-samadengan pendiri danpenerusmelalui prosessuksesiakanmenghasilkansuksesisuksesyang mengarah kekontinuitas. Susanto et al. (2007) menyatakan perencanaan suksesi adalah penting karena adanya berbagai proses kebijakan perusahaan yang terlibat, termasuk di dalamnya proses pengembangan perusahaan, kebijakan perencanaan karir, sistem promosi dan mutasi. Suksesi tidak hanya berarti “alih Generasi” di pimpinan puncak, tidak hanya berdasar kriteria usia atau dari pemimpin ke keturunan atau profesional saja. Pandangan mengenai perencanaan dan pelaksanaan suksesi dengan tujuan yang lebih luas juga dapat diartikan suksesi tidak selalu berbicara mengenai tujuan bisnis saja, namun lebih luas dari itu yaitu keharmonisan keluarga yang menjadi alasan utama mengapa bisnis keluarga dibangun. Penerapan succession planning dapat berjalan dengan baik bila proses pemilihan suksesor dan persiapan suksesornya juga berjalan dengan lancar. Proses pemilihan suksesor berbicara mengenai nilai komunikasi dalam proses pemilihan tersebut dan nilai objektivitas dalam proses pemilihan suksesor. Sedangkan proses persiapan suksesor berbicara mengenai Successor Development Programme (program yang berisi tahap-tahap pengembangan suksesor) dan allowance from previous Family Business Leadership (FBL) atau restu yang diberikan oleh FBL sebelumnya (Fishman, 2009). Miller &Le Breton-Miller (2005) menyatakan bahwa perencanaan suksesi bisnis yang baik merupakan indikator yang valid sebuah kinerja bisnis. Dalam masa peralihan kepemimpinan dalam bisnis keluarga akan lancar bila suksesor (pengganti) telah disiapkan dengan lebih baik. Persiapan tersebut diantaranya dengan mempersiapkan suksesor dengan ramah (affable) dan 47 diikutkan dalam proses perencanaan suksesi termasuk di dalamnya adalah proses perpindahan kekayaan dan hak kepemilikan serta hal-hal yang berpotensi mendatangkan kekayaan (wealthtransfer). Suksesi dan karakteristik dari penerus juga ditentukan oleh tingkat hubungan yang terjadi dalam keluarga atau sistem dan tata nilai keluarga yang dianut (Lee, 2003). Dalam perusahaan keluarga terdapat saling ketergantungan antara keluarga dan perusahaan. Sebagaimana sifat perusahaan keluarga, sistem keluarga (family system) memiliki saling ketergantungan yang sangat dekat dan mendalam antara sistem keluarga dan sistem perusahaan (Kepner, 2013). Perusahaan keluarga merupakan keterpaduan dua sistem yang saling bersinggungan (Beckard & Dyer, 1983; Lansberg, 1988). Di antara dua sistem tersebut terdapat perbedaan kepentingan, perbedaan norma-norma, nilai-nilai serta perbedaan struktur. Tekanan di antara perbedaan dua sistem tersebut akan berpengaruh pada perilaku individu baik di dalam kerja maupun di luar lingkungan kerja. Chitor &Dass (2007) menggambarkan hubungan lima faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari suksesi perusahaan keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar