Senin, 26 April 2021
Culture Shock (skripsi dan tesis)
Definisi culture shock pertama kali dikemukakan oleh Oberg yang
mendefinisikan culture shock sebagai kecemasan yang timbul akibat hilangnya
sign dan simbol hubungan sosial yang familiar. Gambaran culture shock
lainnya di kemukakan oleh Gudykunst dan Kim (2003) yang mengatakan
bahwa pada umumnya individu tidak menyadari secara nyata budaya yang
mengatur dan membentuk kepribadian dan perilakunya. Ketika individu
dipisahkan dari budayanya, baik secara fisik maupun psikis, dan menghadapi
kondisi yang berbeda atau bertolak belakang dengan gambaran dan asumsi
yang dipercaya sebelumnya maka pada saat itulah individu menjadi
sepenuhnya sadar akan sistem kontrol dari budayanya yang selam ini
tersembunyi. Defnisi lain tentang culture shock dikemukakan oleh Pedersen
(1993) yang mendefinisikan culture shock sebagai proses penyesuaian awal
pada lingkungan sosial yang tidak familiar. Selain dari pada itu Samovar
(2010) mengatakan bahwa reaksi culture shock bervariasi antara satu individu
dengan individu lainnya dan dapat muncul pada waktu yang berbeda pula,
reaksi-reaksi yang terjadi dalam culture shock adalah benci terhadap
lingkungan sosial yang baru, mengalami disorientasi diri, rasa penolakan,
gangguan lambung dan sakit kepala, rindu lingkungan sosial yang lama,
merasa kehilangan status dan pengaruh sosial, menarik diri dan menganggap
orang-orang dalam budaya baru tidak peka.
Harris dan Moran (dalam Rakhmat, 2005) mengatakan bahwa culture
shock adalah trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang
baru dan berbeda karena ia harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai
budaya dan pengharapan baru, sementara nilai budaya dan pengharapan
budayanya yang lama tidak lagi sesuai. Culture shock sangat identik dengan
fenomena memasuki budaya baru seperti lingkungan sekolah atau universitas
yang baru, lingkungan kerja baru, atau keluarga besar baru yang dimasuki
lewat perkawinan. Bila perbedaan budaya tidak terlalu besar dan kita
mempunyai kepribadian yang positif, seperti tegar dan toleran, kita mungkin
tidak akan mengalamai gegar budaya yang berarti. Sebaliknya, bila perbedaan
budaya bersifat ekstrem, sementara kita lemah, penakut, dan kurang percaya
diri, kemungkinan besar kita akan mengalami gegar budaya. Berbagai
penelitian empiris menunjukkan bahwa gegar budaya sebenarnya merupakan
titik pangkal untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan budaya kita,
sehingga kita dapat menjadi orang-orang yang luwes dan terampil dalam
bergaul dengan orang-orang dari berbagai budaya, tanpa harus mengorbankan
nilai-nilai budaya kita sendiri
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar