Senin, 30 Oktober 2023

Batik Madura


Seiring berkembangnya sejarah, orang Madura juga sudah mengenal dan
akrab dengan batik. Batik dipergunakan kaum perempuan madura dalam
kesehariannya yang berupa kain panjang atau sarung yang disebut dengan
“samper” atau “sarong bine‟ “. Sedangkan untuk laki-laki motifnya berbeda yaitu
identik dengan motif “kotak-kotak” yang disebut “sarong plekat” atau kembangkembang yang disebut “sarong guyur”. Kaum lelaki Madura jelas berbeda dengan
kaum lelaki Jawa lainnya yang biasa memakai sarung bermotif batik.
Batik Madura sebagaimana di jawa, mempergunakan bahan kain mori
bukan tenun. Pada masa selanjutnya sebagaimana di daerah lainnya, batik
berkembang menjadi “multifungsi” dan bercorak “uni-sex”. Kain batik tidak lagi
dipakai hanya untuk kain panjang dan sarung kaum perempuan, melainkan juga
untuk rok , blus dan baju begitu pula kaum lelaki. Para pengrajin batik kemudian
mengembangkan kerajinan batik untuk taplak, sprei dan bantal kursi. Batik
semakin menjaadi ekspresi seni yang tidak lagi anonimus, berfungsi tidak sebagai
kostum semata, namun juga sebagai dekorasi, barang seni, ataupun cindera mata.
Batik tulis Madura mulai masuk pasar dalam negeri yang dipelopori oleh batik
yang berasal dari Kecamatan Tanjung Bumi.
Menurut Az. Alim dalam buku terbitan Humas dan Protokol Setda
Kabupaten Pamekasan (2016), menjelaskan batik Tanjung Bumi yang identik
dengan batik Madura, mulai dikenal dunia luar sekitar 1970-an. Ciri khas batik
Tanjung Bumi sebagai batik pesisiran adalah warnanya yang tampil berani dan
memikat serta coraknya yang bebas. Batik Madura eksotik dan memiliki pesona
tersendiri. Mengiringi majunya batik Tanjung Bumi, batik juga ada di tiga
Kabupaten lainnya. Di Sampang, batik tulis berkembang dengan baik dengan
memiliki pola tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Demikian halnya di Sumenep,
batik tulis juga berkembang yang kemudian berpusat di Desa Pakandangan,
Kecamatan Prenduan yang memperoleh binaaan dari Pemerintah Kabupaten
Sumenep.
Di Pamekasan, sentra batik merupakan lahan yang subur dan berkembang
hampir diseluruh wilayah kabupaten batik menjadi komoditas andalan bahkan
menjadi ikon industri kecil. Keunggulan batik Madura ada pada permainan warna
yang ekspresif. Batik madura identik dengan warna yang mencolok adalah
“merah” dan warna “kelenteng” yaitu dominasi warna merah, hitam dan parada
emas, pada perkembangannya karena respon permintaan pasar muncul warna
lembut, akan tetapi dominasi masih tetap pada warna yang menantang. Kelebihan
lainnya dijelaskan oleh Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Pamekasan
(2016) adalah dipertahankannya pengerjaan dengan tangan langsung dan cara
menggambar secara spontan. Maksudnya, motif tetap ada akan tetapi para
pembatik ketika membatik, tidak memakai pola, karena itu tidak akan ditemukan
dua lembar kain batik Madura yang persis sama meskipun motifnya sama, kecuali
memang khusus dipesan.
Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, prospek perkembangan
Batik Madura ke depan diperhitungkan akan cerah. Dalam kaitannya batik
Madura juga memperoleh sambutan yang baik dari para pencinta busana batik.
Salah satu hal yang harus untuk memastikan batik madura mempunyai posisinya
sendiri adalah membuka pasar yang lebih luas lagi, termasuk pasar luar negeri.
Untuk itu dibutuhkan hubungan dengan para eksportir yang sudah memiliki
pengalaman dalam perdagangan dalam negeri. Hal penting lainnya adalah
menjaga mutu terkait dengan penggunaan bahan ataupun waktu pemrosesan. Hal
berikut juga tidak kalah pentingnya adalah mempertahankan keunggulan yang
berupa kekhasan corak batik Madura

Tidak ada komentar: