Sabtu, 30 Desember 2023

Teori Stock Split


Secara teoritis ada dua alasan yang memotivasi manajer memutuskan
untuk melakukan stock split, yaitu signaling theory dan trading range theory.
a. Signaling Theory
Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh
manajemen kepada para pelaku pasar bahwa perusahaan memiliki prospek
yang baik di masa depan. Ikenbery et al. (1996) dalam Khomsiyah dan
Sulistiyo (2001), menjelaskan signaling theory pemecahan saham dengan
menggunakan informasi asimetri. Manajemen memiliki informasi lebih
tentang prospek perusahaan dibandingkan pihak luar (investor).
Hanafi (2004) juga memiliki pendapat yang sama, konsep signaling dan
asimetri informasi berkaitan erat. Teori asimetri menjelaskan bahwa pihakpihak yang berkaitan dengan perusahaan memiliki informasi yang tidak sama
mengenai prospek dan risiko perusahaan. Pihak tertentu memiliki informasi
lebih baik dari pihak lainnya. Manajer biasanya memiliki informasi yang lebih
baik dibandingkan dengan pihak luar (investor). Oleh karena itu, bisa
dikatakan terjadi asimetri informasi antara manajer dengan investor. Dalam
kondisi ini investor akan berusaha menginterpretasikan perilaku manajer
karena perilaku manajer bisa dianggap sebagai sinyal oleh investor.
Signaling Theory menyatakan bahwa pemecahan saham memberikan
sinyal mengenai prospek perusahaan yang bagus di masa yang akan datang
kepada investor. Meskipun pemecahan saham tidak memiliki nilai ekonomis
namun pasar tetap bereaksi terhadap pengumuman tersebut karena mengetahui
adanya prospek perusahaan yang menguntungkan di masa yang akan datang.
Salah satu gambaran yang bagus adalah kinerja keuangan yang bagus.
perusahaan yang melakukan pemecahan saham memerlukan biaya, oleh
karena itu hanya perusahaan yang memiliki prospek bagus saja yang mampu
melakukannya (Copeland, 1979).
b. Trading Range Theory
Alasan dilakukannya stock split berkaitan dengan likuiditas perdagangan
saham adalah “optimal range” harga saham. Alasan yang lain adalah bahwa
stock split akan menciptakan pasar yang lebih luas (Copeland, 1979).
Baker dan Gallagher (1980) dalam Widayanto (2005) menyatakan bahwa
tujuan manajer yang melakukan aktivitas pemecahan saham (stock split) yaitu
untuk menjaga harga saham agar tetap berada dalam skala penjualan yang
optimal sehingga dapat meningkatkan daya tarik investor dan juga mampu
meningkatkan likuiditas saham. Hal ini didukung oleh hasil penelitian
Ikenberry et al. (1996) yang menemukan bukti bahwa stock split
mengakibatkan terjadinya penataan kembali harga saham pada tingkat yang
lebih rendah.
Trading Range Theory menyatakan bahwa harga saham yang terlalu tinggi
menyebabkan kurang aktifnya perdagangan saham sehingga mendorong
perusahaan untuk melakukan pemecahan saham. Dengan melakukan
pemecahan saham diharapkan akan semakin banyak investor yang melakukan
transaksi. Sedangkan Mc. Nicholas dan Brawn dalam Marwata (2001)
menyatakan bahwa pemecahan saham merupakan upaya manajemen untuk
menata kembali harga saham pada rentang harga tertentu. Dengan demikian
teori ini menjelaskan bahwa pemecahan saham akan menigkatkan likuiditas
saham tersebut.

Tidak ada komentar: