Setiap perubahan tidak bisa hanya memilih salah satu aspek struktural atau
kultural saja sebagai variabel yang harus diubah, tetapi kedua aspek tersebut harus
dikelola secara bersama-sama agar hasilnya optimal. Namun demikian dalam
praktek para pengambil keputusan cenderung hanya memperhatikan perubahan
struktural karena hasil perubahannnya dapat diketahui secara langsung, sementara
perubahan kultural sering diabaikan karena hasil dari perubahan tersebut tidak
begitu kelihatan. Untuk meraih keberhasilan dalam mengelola perubahan
organisasi harus mengarah pada peningkatan kemampuan dalam menghadapi
tantangan dan peluang yang timbul. Artinya perubahan organisasi harus diarahkan
pada perubahan perilaku manusia dan proses organisasional, sehingga perubahan
organisasi yang dilakukan dapat lebih efektif dalam upaya menciptakan organisasi
yang lebih adaptif dan fleksibel.
Robbins (2006:217) dalam Rahardian (2013,18) menyatakan, bahwa
perubahan organisasi adalah tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari kondisi
yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang menurut yang di
inginkan guna meningkatkan efektivitasnya. Robbin dan Conter (2012:4)
19
mengemukakan bahwa Perubahan organisasional yakni setiap perubahan
yang terkait dengan orang, struktur atau teknoalogi.
Perubahan organisasi adalah upaya masyarakat dalam organisasi tersebut,
bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan yang sama, dengan melakukan
perubahan-perubahan organisasi dalam berbagai aspek. Atau melakukan berbagai
penyesuaian dengan perkembanagn zaman yang terus berkembang. Agar tujuanya
dapat tercapai, dan dapat bertahan dalam perubahan besar dunia. Perubahan
merupakan suatu kekuatan yang sangat hebat, yang dapat memotivasi atau
mendemotivasi. Perubahan berarti meninggalkan sesuatu yang lama menjadi
sesuatu yang baru. Perubahan dapat dilakukan setelah melihat urgensi pada
organisasi. Brian Clegg (2010:31) dalam Debrike Shiskia (2017: 2860).
Perubahan lingkungan Organisasi dalam bisnis demikian kuat
pengaruhnya terhadap organisasi. Setiap perubahan yang terjadi selalu akan
membawa dampak bagi setiap aspek organisasi seperti : nilai tambah hasil,
struktur kompleks, span of control, manajemen, kelompok kerja, susunan
pekerjaan, proses aktivitas dan bentuk komunikasi atau pendelegasian. Isniar et
al, (2018:55).
Perubahan selalu terjadi, disadari atau tidak. Begitu pula halnya dengan
organisasi. Organisasi hanya dapat bertahan jika dapat melakukan perubahan.
Setiap perubahan lingkungan yang terjadi harus dicermati suatu organisasi
tergantung pada sejauh mana organisasi dapat diri dengan perubahan tersebut.
Robbins (2006:217) dalam Rahardian (2013,18)
20
Perubahan adalah membuat sesuatu menjadi berbeda dari keadaan
sebelumnya. Pemahaman umum seperti ini sesuai dengan pendapat Robbins
sebagai berikut: “Perubahan organisasi adalah membuat sesuatu menjadi lain,
akan tetapi pemahaman demikian tidak dapat diterima karena perubahan mesti
mempunyai tujuan, yaitu terjadi perbaikan atau peningkatan (improvement)
kinerja organisasi yang tidak sekedar melakukan perubahan tetapi juga
menghasilkan perbaikan. (Farlan, 2016:1068).
Perubahan organisasi akan mengarah pada opsi maju apabila ada
kesinambungan yang harmonis antara system dan pelaksananya. Suasana yang
berlangsung pada sisterm tersebut tertata dan dilaksanakan sesuai dengan
prosedur atau membuat inovasi yang koorperatif satu sama lain. Contohnya,
apabila sebuah perusahaan mengalami kenaikan saham pada suatu periode hal itu
tidak lepas dari rancangan POAC (Planning, Organizing, Actuatin, dan
Controlling) yang mapan. Apabila perencanaan sebuah organisasi mapan, namun
kontrolingnya lemah, maka kenaikan saham akan terjadi kalau ada keberuntungan
saja.
Perubahan organisasi diperlukan dengan tujuan :
1. Meningkatkan kemampuan organisasi untuk menampung akibat daripada
perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan dan terjadi di luar
organisasi.
2. Meningkatkan peranan organisasi dalam turut menentukan arah perubahan
yang mungkin terjadi 3. Melakukan penyesuaian- penyesuuaian secara intern demi peningkatan
kemampuan.
4. Meningkatkan daya tahan organisasi, bukan saja mampu tetap bertahan akan
tetapi juga untuk terus bertumbuh dan berkembang.
5. Mengendalikan suasana kerja sedemikian rupa sehingga para anggota
organisasi tetap merasa aman dan terjamin meskipun terjadi perubahanperubahan di dalam dan di luar organisasi.