Tiga peneliti Amerika, Leonard L.
Berry, A. Parasuraman, dan Valerie A. Zeithaml melakukan penelitian, mereka
membentuk model mutu jasa yang menyoroti syarat-syarat utama dalam memberikan
mutu jasa yang tinggi. Misalnya dalam pelayanan jasa taman rekreasi, syarat
utamanya yaitu antara lain tersedianya dokter dan perawat yang sesuai dan
kompeten, memiliki manajemen yang mengelola, kelengkapan fasilitas taman
rekreasi dan lain sebagainya. Model itu mengidentifikasi 5 kesenjangan yang
mengakibatkan menyebabkan kegagalan penyampaian jasa : (Philiph Kotler, 2002 :
499).
Parasuraman, Zeithalm dan Berry (1990 : 45)
membuat sebuah model kualitas jasa yang menekankan pada ketentuan penting yang
harus dipatuhi pemberi jasa supaya bisa memberikan jasa sesuai dengan harapan
konsumen.
Model kualitas jasa pada gambar diatas
mengidentifikasi 5 (lima )
gap (kesenjangan) yang menyebabkan
gagalnya pelayanan jasa yaitu :
1.
Gab 1 :
Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen
Pihak manajemn tidak selalu memahami dengan tepat apa
yang diinginkan konsumen dan bagaimana konsumen menilai masing-masing komponen
jasa tersebut, akibatnya manajemen tidak mengetahui bagaimana suatu jasa
seharusnya didesain, dan jasa-jasa pendukung/sekunder apa saja yang diinginkan
oleh konsumen. Contohnya pengelola catering mungkin mengira para pelanggannya
lebih mengutamakan ketepatan waktu pengantaran makanannya, padahal pelanggan
tersebut mungkin lebih memperhatikan variasi menu yang disajikan.
2.
Gab 2 :
Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen
Kadangkala manajemen mampu
mamahami secara tepat apa yang di inginkan konsumen, tapi mereka tidak menyusun standar kinerja
tertentu yang jelas. Hal ini dapat di
karenakan tiga faktor, yaitu tidak adanya komitmen total manajemen terhadap kualitas
jasa, kekurangan sumber daya atau karena adanya kelebihan permintaan. Sebagai
contoh : manajemen bank meminta para stafnya agar memberikan pelayanan secara
‘cepat’ tanpa menentukan standard atau ukuran waktu pelayanan yg dp
dikategorikan cepat.
3.
Gab 3 :
Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen
a.
Role Ambiguity : terjadinya kebingungan
pada bagian pelaksana untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik karena
tidak memiliki informasi dan ketrampilan yang dibutuhkan.
b.
Role Conflict : adanya persepsi dalam
diri karyawan bahwa mereka tidak dapat memenuhi semua permintaan dari semua
individu yang harus mereka layani. Hal ini dapat terjadi karena jumlah konsumen
yang terlalu banyak dan menginginkan pelayanan pada waktu yang sama.
c.
Adaptasi lingkungan dari
karyawan yang tidak memadai.
d.
Tidak tersedianya sarana dan
prasarana yang dibutuhkan oleh karyawan dalam melaksanakan tugasnya.
e.
Kurangnya pengawasan dan
pengontrolan yang efektif.
f.
Tidak adanya rasa kebersamaan
sebagai satu tim dari pihak pelaksana dan pihak manajemen.
4.
Gab 4 :
Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen
Harapan konsumen dipengaruhi oleh pemberi jasa melalui
komunikasi. Akan menjadi masalah jika pengharapan yang diinginkan konsumen
berbeda dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga menimbulkan kekecewaan
konsumen.
5.
Gab 5 :
Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen
Gap ini timbul apabila pelanggan mengukur kinerja/prestasi perumahan
dengan cara yang berlainan, atau bisa juga keliru mempersepsikan kualitas jasa
tersebut.