Dari penelitian Parasuraman (1990),
ada 10 dimensi umum yang mewakili kriteria penilaian yang digunakan pengguna
jasa untuk menilai kualitas pelayanan. Adapun ke-10 dimensi umum tersebut
disajikan didalam tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2 - 1. 10 Dimensi penilaian konsep kualitas
pelayanan
Menurut
Parasuraman (1990).
|
No.
|
Dimensi
|
Keterangan
|
|
1.
|
Tangibles
|
Perihal dari fasilitas fisik,
peralatan personil dan alat-alat komunikasi.
|
|
2.
|
Reliability
|
Kemampuan untuk memberikan pelayanan
yang telah dijanjikan dengan tepat.
|
|
3.
|
Respon siveness
|
Kemampuan untuk membantu pengguna
jasa dengan memberikan pelayanan yang tepat.
|
|
4.
|
Competence
|
Penguasaan pengetahuan dan
ketrampilan yang diperlukan salam memberikan pelayanan
|
|
5.
|
Courtesy
|
Sikap hormat, sopan dan ramah tamah
yang diberikan dalam memberikan dalam memberikan pelayanan.
|
|
6.
|
Credibility
|
Kepercayaan yang diberikan kepada
pemberi jasa.
|
|
7.
|
Security
|
Rasa bebas dari bahaya, resiko, atau
keragu-raguan.
|
|
8.
|
Acess
|
Kemudahan dijangkau dan kemudian
dihubungi.
|
|
9.
|
Camunication
|
Kemudahan berkomunikasi dengan
pengguna jasa, termasuk kesediaan untuk mendengarkan keluhan dan keinginan
pengguna jasa.
|
|
10.
|
Understanding the customer
|
Usaha untuk mengerti kebutuhan dan
keinginan pengguna jasa
|
Berdasarkan konsep kualitas pelayanan dan 10 dimensi penilaian
diatas maka parasuraman (1990) mengembangkan alat untuk mengukur kualitas
pelayanan yang disebut “servqual”.
Pada tool servqual, tujuan dimensi umum yang
terakhir digolongkan dalam dua dimensi yang lebih luas yaitu : assurance dan empathy, sehingga dimensi-dimensi dalam servqual disederhanakan menjadi :
a.
Tangibles
Penampilan
fasilitas-fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material-material
komunikasi.
b.
Reliability
Kemampuan
untuk melaksanakan service yang telah dijanjikan secara akurat dan dapat
diandalkan.
c.
Responsiveness
Kemampuan
untuk membantu pengguna jasa dan penyediaan service yang cepat.
d.
Assurance
Pengetahuan
dan kesopanan dari karyawan dan kemampuan mereka untuk mendapatkan kepercayaan
pengguna jasa.
e.
Empathy
Sikap
peduli, perhatian secara individu yang diberikan oleh perusahaan kepada
pengguna jasanya.
a.
Kinerja (performance), karakteristik pokok dari produk inti.
b.
Ciri-ciri atau keistimewaan
tambahan (features), yaitu karakteristik
sekunder atau pelengkap.
c.
Kehandalan (realibility), yaitu kemungkinan kecil
akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.
d.
Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications), yaitu
sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standard-standard yang
telah ditetapkan sebelumnya.
e.
Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa
lama produk tersebut dapat terus digunakan.
f.
Serviceability, meliputi kecepatan,
kompetensi, kenyamanan, mudah diperbaiki, penanganan keluhan yang memuaskan.
g.
Estetika (aesthetics), yaitu daya tarik produk terhadap panca indra.
h.
Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan
reputasi produk atau jasa serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.
Meskipun beberapa dimensi diatas dapat
diterapkan pada bisnis jasa, tetapi sebagian besar dimensi tersebut dimensi
tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman dan penelitian terhadap perusahaan
manufaktur. Sementara itu ada beberapa pakar pemasaran, seperti Parasuraman,
Zeithaml, dan Berry
yang melakukan penelitian khusus terhadap beberapa jenis jasa dan berhasil
mengidentifikasi sepuluh faktor utama yang menentukan kualitas jasa. Kesepuluh
faktor tersebut meliputi (Parasuraman, et. al; 1985) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 69) :
a.
Reliability, mencakup dua hal pokok,
yaitu konsistensi kerja (performance)
dan kemampuan untuk dipercaya (dependability).
Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat semenjak saat
pertama (right the first time).
Selain itu juga berarti bahwa perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya,
misalnya menyampaikan jasanya sesuai dengan jadwal yang disepakati.
b.
Responsiveness, yaitu kemauan atau
kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan.
c.
Competence, artinya setiap orang dalam
suatu perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar
dapat memberikan jasa tertentu.
d.
Access, meliputi kemudahan untuk
dihubungi dan ditemui. Hal ini berarti lokasi fasilitas jasa yang mudah
dijangkau, waktu menunggu yang tidak terlalu lama, saluran komunikasi
perusahaan mudah dihubungi, dan lain-lain.
e.
Courtesy, meliputi sikap sopan santun,
respek, perhatian, dan keramahan yang dimiliki para contact personnel (seperti resepsionis, operator telepon, dan
lain-lain).
f.
Communication, artinya memberikan
informasi kepada pelanggan dalam bahasa yang mereka pahami, serta selalu
mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.
g.
Credibility yaitu sifat jujur dan dapat
dipercaya. Kredibilitas mancakup nama perusahaan, reputasi perusahaan,
karakteristik pribadi (contact personnel),
dan interaksi dengan pelanggan.
h.
Security, yaitu aman dari bahaya,
risiko, atau keragu-raguan. Aspek ini meliputi keamanan secara fisik (physical safety), keamanan finansial (financial security), dan kerahasiaan (confidentiality).
i.
Understanding/Knowing the Customer,
yaitu usaha untuk memahami kebutuhan pelanggan.
j.
Tangibles, yaitu bukti fisik dari jasa,
bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan, representasi fisik
dari jasa (mis: kartu kredit plastik)
Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu
pada tahun 1988, Parasuraman dan kawan-kawan (dalam Fitzmmons dan Fitzmmons, 1994;
Zeithaml dan bitner, 1996) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 70) menemukan bahwa
10 (sepuluh) dimensi yang ada dapat dirangkum menjadi hanya 5 (lima ) dimensi pokok. Kelima dimensi pokok itu
meliputi :
a.
Bukti langsung (tangibles), meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana
komunikasi.
b.
Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan
dengan segara, akurat, dan memuaskan.
c.
Daya tanggap (responsivenass), yaitu keinginan para
staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
d.
Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat
dapat dipercaya yang dimiliki para staf; bebas dari bahaya, risiko atau
keragu-raguan.
e.
Empati (empathy), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.