Konsep kesejahteraan psikologis memiliki enam dimensi pendukung.
Dimensi kesejahteraan tersebut mengacu pada teori kesejahteraan psikologis
dari Ryff (Ryff, 1989; Ryff & Keyes, 1995 dan Keyes, Shmotkin & Ryff,
2002). Enam dimensi tersebut adalah:
a. Penerimaan diri
Konsep integritas ego diperkenalkan oleh Erikson (1959) yang
menunjukkan bahwa orang-orang pernah mendapatkan kegagalan dan
keberhasilan di dalam hidupnya, tetapi mereka tetap menerima kegagalan
dan keberhasilan tersebut. Ciri ini merupakan ciri utama dari kesehatan
mental dan juga sebagai karakteristik utama dalam aktualisasi diri
berfungsi optimal. Penerimaan diri adalah keadaan individu yang memiliki
keyakinan akan karakteristik dirinya, mampu dan mau untuk hidup dalam
keadaan tersebut. Penerimaan diri merupakan tingkat kemampuan individu
dalam bersikap terhadap dirinya sendiri, bertanggung jawab terhadap diri
sendiri, berani mengakui kesalahan dan introspeksi diri.
Seorang individu dikatakan memiliki nilai yang tinggi dalam
dimensi penerimaan diri apabila ia memiliki sikap yang positif terhadap
dirinya sendiri, menghargai dan menerima berbagai aspek yang ada pada
dirinya, baik kualitas diri yang baik maupun yang buruk. Sebaliknya,
seseorang dikatakan memiliki nilai yang rendah dalam dimensi ini apabila
merasa kurang puas terhadap dirinya sendiri, memiliki masalah dengan
kualitas tertentu dari dirinya, dan berharap untuk menjadi orang yang
berbeda dari dirinya sendiri (Ryff, 1995).
Sedangkan Matthews (1993) menjelaskan bahwa indivdu yang
menerima dirinya merasa aman akan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang
dianutnya tanpa terpengaruh oleh kelompok, dapat mengekspresikan
pendapat pribadinya tanpa ada rasa bersalah dan dapat menerima
perbedaan pendapat, tidak merasa cemas akan hari kemarin ataupun esok.
Kemudian individu tersebut percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan
untuk mengatasi semua masalah.
b. Hubungan positif dengan orang lain
Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa memiliki kebutuhan
dasar untuk mengembangkan hubungan yang hangat dengan orang lain
(Baron & Byrne, 2003). Pada dimensi ini terkait dengan hubungan saling
percaya dan hangat dengan orang lain. Dimensi ini juga menekankan suatu
kemampuan yang penting dalam kesehatan mental yaitu kemampuan untuk
mencintai orang lain. Hubungan hangat dengan orang lain merupakan
kriteria kedewasaan. Dalam perkembangan orang dewasa, hal ini
digambarkan dalam kemampuan berhubungan dekat dengan orang lain
(intimacy) dan memberi arahan kepada orang lain (generativity).
Seseorang yang memiliki hubungan positif dengan orang lain
mampu membina hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan dengan
orang lain. Selain itu, individu tersebut memiliki kepedulian terhadap
kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan empati, afeksi dan intimitas
serta memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar
pribadi. Sebaliknya, seseorang yang kurang baik dalam dimensi ini
ditandai dengan tingkah laku yang tertutup dalam berhubungan dengan
orang lain, sulit untuk bersikap hangat, peduli dan terbuka dengan orang
lain, terisolasi dan merasa frustasi dalam membina hubungan
interpersonal, tidak berkeinginan untuk berkompromi dalam
mempertahankan hubungan dengan orang lain (Ryff, 1995). c. Otonomi
Otonomi merupakan kemampuan individu menentukan nasib
sendiri, kebebasan, pengendalian internal, individual, dan pengaturan
perilaku internal. Atribut ini merupakan dasar kepercayaan bahwa pikiran
dan tindakan seseorang berasal dari dirinya sendiri dan tidak ditentukan
oleh kendali orang lain. Individu yang mampu melakukan aktualisasi diri
dan berfungsi penuh memiliki keyakinan dan kemandirian sehingga dapat
mencapai prestasi yang memuaskan.
Ciri utama dari seorang individu yang memiliki otonomi yang baik
antara lain dapat menentukan segala sesuatu seorang diri, dan mandiri. Ia
mampu mengambil keputusan tanpa tekanan dan campur tangan orang
lain, memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan sosial dan dapat
mengatur tingkah laku dari dalam diri. Sebaliknya, seseorang yang kurang
otonomi akan sangat memperhatikan dan mempertimbangkan harapan dan
evaluasi dari orang lain dan berpegangan pada penilaian orang
lain untuk membuat keputusan penting (Ryff, 1995).
d. Penguasaan lingkungan
Penguasaan lingkungan menjadi sumber daya psikologis yang
penting (Knight, 2011). Kemampuan individu untuk memilih atau
menciptakan lingkungan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya dapat
didefenisikan sebagai salah satu karakteristik kesehatan mental.
Penguasaan lingkungan yang baik dapat dilihat dari sejauh mana individu
dapat mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada di
lingkungan.
Individu yang memiliki tingkatan yang baik pada dimensi ini
ditandai dengan kemampuannya memilih atau menciptakan sebuah
lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadinya dan
memanfaatkan secara maksimal sumber-sumber peluang yang ada di
lingkungan. Individu juga mampu mengembangkan dirinya secara kreatif
melalui aktivitas fisik maupun mental. Sebaliknya, individu yang kurang
dapat menguasai lingkungannya mengalami kesulitan mengatur kegiatan
sehari-hari dan merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan
apa yang ada di luar dirinya (Ryff, 1995). Perron (2006) mengatakan
bahwa penurunan penguasaan lingkungan bisa menyebabkan seseorang
merasa tidak berdaya, tidak berguna dan tidak terlibat dalam keputusan
tentang kehidupan mereka sendiri. e. Tujuan hidup
Dimensi ini menggambarkan tentang kesehatan mental karena di
dalamnya terdapat keyakinan individu mengenai tujuan dan makna
hidupnya akan membawa kepada kesehatan mental. Tujuan hidup
mencakup apa yang akan kita capai dalam menjalani hidup, sehingga
membuat hidup lebih bersemangat. Pemahaman yang jelas mengenai
tujuan hidup, pendirian terhadap tujuan, dan tujuan yang telah
direncanakan adalah bagian penting dari pencapaian tujuan hidup.
Cara lain untuk mencapai tujuan hidup adalah dengan cara lebih
mengenal diri sendiri, yaitu apakah kekuatan-kekuatan diri dan apakah
kelemahan-kelemahan diri. Dengan demikian menyadari ‘siapa saya’ dan
‘saya ingin menjadi siapa’, merupakan dasar berpijak dalam menghadapi
masalah yang kompleks. Namun demikian, tidak semua orang dapat
menilai dirinya sendiri dengan tepat dan bahkan ada kecenderungan lebih
mudah untuk selalu menilai orang lain atau mengalami self-serving bias.
Tanpa tujuan hidup yang jelas, individu akan mengalami kesulitan- kesulitan dalam mengarungi kehidupan ini (Handayani, 1998).
Seseorang yang memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi tujuan
hidup memiliki rasa keterarahan dalam hidup, mampu merasakan arti dari
masa kini, memiliki keyakinan yang memberikan tujuan hidup, serta
memiliki tujuan dan target yang ingin dicapai dalam hidup. Sebaliknya,
seseorang yang kurang memiliki tujuan hidup, kehilangan rasa keterarahan
dalam hidup, kehilangan keyakinan yang memberikan tujuan hidup serta
tidak melihat makna yang berkembang untuk hidupnya dari kejadian di
Masa lalu (Ryff, 1995).
f. Pertumbuhan pribadi
Dimensi pertumbuhan pribadi menjelaskan mengenai kemampuan
untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Pertumbuhan
pribadi merupakan tingkat kemampuan individu dalam mengembangkan
potensinya secara terus menerus, menumbuhkan dan memperluas diri
sebagai individu. Kemampuan ini merupakan gagasan dari individu untuk
terus memperkuat kondisi internal alamiahnya.
Seseorang yang memiliki pertumbuhan diri yang tinggi akan
menunjukkan kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan orang yang
memiliki pertumbuhan pribadi yang rendah (Feigelman, 2009). Seseorang
yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan adanya
perasaan mengenai pertumbuhan diri yang berkesinambungan,
memandang diri sendiri sebagai individu yang selalu tumbuh dan
berkembang, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, memiliki
kemampuan dalam menyadari potensi diri yang dimiliki, dapat merasakan
peningkatan yang terjadi pada diri dan tingkah lakunya setiap waktu, serta
dapat berubah menjadi pribadi yang lebih efektif dan memiliki
pengetahuan yang bertambah.
Sebaliknya, individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang
kurang baik akan merasa dirinya stagnasi, tidak melihat peningkatan diri,
merasa bosan dan kehilangan minat terhadap kehidupannya, serta merasa
tidak mampu dalam mengembangan sikap dan tingkah laku yang lebih
baik (Ryff, 1995)
Rabu, 29 Maret 2023
Dimensi Kesejahteraan Psikologis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar