Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh Napitupulu dan Syahyunan,
(2012), dikatakan bahwa volatilitas merupakan ukuran terhadap sebaran/dispersi
di sekitar rata-rata hasil dari sebuah sekuritas. Satu cara untuk mengukur
volatilitas adalah dengan menggunakan standar deviasi, yang akan menjelaskan
seberapa ketat harga suatu saham dapat dikelompokkan di seputar rata-rata
(mean) atau rata-rata bergerak (moving average/MA). Ketika harga-harga
bergerak sangat ketat dalam satu gerombolan, standar deviasinya sangat kecil.
Ketika pergerakan harga sangat tersebar, standar deviasi akan relatif besar.
Volatilitas dari suatu saham atau indeks saham sangat penting untuk
dipahami oleh para investor. Itu dimaksudkan untuk meminimalisir resiko yang
akan dihadapi. Semakin tinggi tingkat volatilitas, semakin tinggi pula tingkat
ketidakpastian dari imbal hasil (return) saham yang dapat diperoleh. Salah satu dari sepuluh prinsip manajemen keuangan menyatakan bahwa investor tidak akan
mau mengambil risiko yang lebih tinggi kecuali apabila dapat memperoleh
kompensasi berupa return yang lebih tinggi (high risk, high return) (Keown et al.,
2003).
Menurut Schwert dan W. Smith, Jr (1992) dalam terdapat lima jenis
volatilitas dalam pasar keuangan, yaitu future volatility, historical volatility,
forecast volatility, implied volatility, dan seasonal volatility.