Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan
perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang
sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada segolongan
orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka. Namun ada
pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan ada
kehidupan lain yang lebih mulia kelak, yaitu kehidupan di akhirat. Maut
merupakan luka paling parah untuk narsisisme insani. Untuk menghadapi frustrasi
terbesar ini, manusia bertindak religius (Dister, 1982). Masalah kematian sangat
menggusarkan manusia. Mitos, filsafat juga ilmu pengetahuan tidak mampu
memberikan jawaban yang memuaskan.
Kekosongan batin akan semakin terasa ketika individu dihadapkan pada
peristiwa- peristiwa kematian. Terutama jika dihadapkan pada kematian orang- orang terdekat dan yang paling dicintai. Rasa kehilangan bersifat individual,
karena setiap individu tidak akan merasakan hal yang sama tentang kehilangan.
Sebagian individu akan merasa kehilangan hal yang biasa dalam hidupnya dan
dapat menerimanya dengan sabar. Individu yang tidak dapat menerima kehilangan
orang yang disayang dalam hidupnya akan merasa sendiri dan berada dalam
keterpurukan.
Berbagai proses yang dilalui untuk kembali dari keterpurukan karena
setiap orang akan mengalami hal- hal yang unik dan khusus, tergantung
bagaimana cara dia ditinggalkan. Sebagian individu yang lebih memilih untuk
tegar karena kesadaran utuk melanjutkan kehidupan. Perasaan kehilangan akan
semakin berat dirasakan jika kadar rasa memiliki itu tinggi hal ini terjadi karena
adanya kedekatan batin yang tinggi.
Kematian juga disikapi manusia mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat
dirinya juga akan mengalami kematian. Masing- masing mulai menakar diri.
Menginvetarisasi semua aktivitas dan lakon hidup. Mengingat kebaikan dan
keburukan yang sudah pernah dilakukan. Khawatir akan balasan yang akan
diterima dihari kebangkitan. Perasaan seperti ini sering dirasakan dan menghantui
manusia yang terjadi semacam kecemasan batin. Sebagai suatu ilmu pengetahuan
empiris psikologi terikat pada pengalaman dunia. Psikologi tidak melihat
kehidupan manusia setelah mati, melainkan mempelajari bagaimana sikap dan
pandangan manusia terhadap masalah kematian dan apa makna kematian bagi
manusia itu sendiri (Boharudin, 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar