Salah satu peristiwa hidup yang dihadapi remaja adalah kematian anggota
keluarga dicintai atau kematian sendiri yang akan datang kepada mereka yang
mengancam jiwa. Kematian bukan masalah yang biasa bagi remaja. Sekitar 4%
remaja di Amerika Serikat kehilangan orang tua karena kematian sebelum mereka
mencapai usia 18, dan 1,5 juta remaja tinggal di keluarga orang tua tunggal karena
kematian (US Biro Sensus, 1993).
Koocher dan Gudas (1992) dengan tepat menyatakan bahwa asumsi
remaja tentang kematian yakni tidak nyamannya remaja dengan kematian, bukan
realitas kemampuan remaja untuk memahami dan mengatasi kematian. Sebagai
akibatnya, remaja memiliki kekhawatiran ketika berpikir tentang kematian, dan
kekhawatiran terhadap pertanyaan tentang kematian.
Masa remaja, timbulnya pemikiran operasional formal, kematian dipahami
sepenuhnya, dan ide-ide teologis yang abstrak dapat di masukkan dalam konsepsi
remaja tentang kematian (Gudas & Koocher, 2001). Studi lain menunjukkan
bahwa tidak semua remaja mampu memahami kematian akan tetapi peristiwa itu
akan sangat terkait erat dengan masa perkembangan remaja terutama pada
perkembangan kognitif (Koocher, 1973; Putih, Elsom, & Prawat, 1978).
Tidak
mengherankan, remaja yang telah memiliki pengalaman tentang kematian
tampaknya memiliki pemahaman yang lebih matang dari pada rekan-rekan
mereka yang kurang berpengalaman (Schonfeld& Kappelman, 1990).
Tidak adanya pengalaman tentang kematian membuat remaja kurang
mampu dalam memahami konsep tentang kematian. Pengembangan konsep
kematian tampaknya tergantung sampai batas tertentu pada perkembangan
kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman remaja terhadap kematian
bervariasi secara sistematis dengan usia (dan mungkin dengan tingkat
perkembangan kognitif remaja). Namun, untuk remaja khususnya, pengalaman
tentang kematian anggota keluarga tercinta dapat berfungsi untuk mempercepat
pemahaman tentang kematian.
Peristiwa hidup mungkin mampu memberikan informasi dan pemahaman
tentang kematian yang kemudian akan mampu mempengaruhi karakteristik pola
pikir dan aktivitas sehari-hari dan pengalaman remaja. Pengalaman ditinggal oleh
orang- orang yang mereka sayangi akan memberikan dampak positif maupun
dampak negatif bagi remaja.
Dampak negatif dari pengalaman remaja tentang kematian akan membuat
mereka takut untuk mengenang kematian dan merasa bahwa kematian itu sebagai
hal yang menakutkan. Tapi jika melihat dari sisi positif pengalaman remaja
tentang kematian maka remaja mampu memahami kematian dan lebih mengakui
kebesaran Allah sebagai pemilik semesta alam dan lebih mendekatkan diri pada
sang Khalik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar