Infeksi
oportunistik adalah infeksi yang terjadi karena penurunan imunitas tubuh. Infeksi
ini terjadi ketika jumlah CD4
<500 mm="" sel="" sup="">3500>
. Infeksioportunistik terjadi akibat organisme non
patogen (flora normal) maupun organisme patogen yang mengalami reaktivasi dalam
tubuh.Ada beberapa jenis infeksi oportunistik yang sering terjadi pada
penderita HIV (+), antara lain :
a.
Pneumonia
pneumosistis karinii ( PPK )
Infeksi oportunistik jenis ini merupakan infeksi awal yang
sering terjadi pada penderita AIDS. Hal ini terjadi karena organisme kecil
(protozoa) penyebab infeksi ini, terdapat pada sebagian besar paru-paru
seseorang (Crofton et al., 2001). Pada
manusia sehat organisme ini tidak menimbulkan PPK. Hal ini di karenakan daya
tahan tubuh yang baik dapat melawan organisme ini. Pada penderita AIDS, daya tahan
tubuh rusak berat sehingga organisme ini dapat menimbulkan penyakit. Gejala
awal PPK hampir menyerupai gejala umum AIDS, yaitu penurunan berat badan,
keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening, lelah, kehilangan nafsu makan,
diare kronik dan sariawan yang hilang timbul. Terkadang gejala ini tidak ada, tetapi
timbul gejala lain seperti batuk kering, demam dan sesak nafas, terutama bila
jalan jauh atau naik tangga. Demam hampir selalu ada dengan suhu yangtidak
terlalu tinggi, dan biasanya timbul pada sore hari. Gejala tersebut dapat
timbul bertahap dan dalam jangka waktu 2-6 minggu menjadi berat. Pleuritis
dengan gejala sakit dada dibagian tengah, pernafasan dangkal, dan tidak dapat
menarik nafas juga sering dijumpai pada 30% pasien PPK.
PPK dapat diatasi dengan pengobatan yang efektif. Banyak kemajuan
yang telah ditemukan mengenai diagnosis awal dan pengobatan penyakit ini. Sebagian
besar pasien dapat disembuhkan, namun penyembuhan PPK ini tidak diikuti dengan kembalinya
kekebalan tubuh pasien. Diagnosis penyakit ini dipastikan dengan menggunakan
foto rontgen paru, analisa gas darah, dan sputum. Cara terbaik diagnosis
penyakit ini adalah dengan menggunakan pemeriksaan bonkoskopi disertai dengan
biopsi dan bilasan (Crofton et al.,2001).
b. Kandidiasis
Kandidiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur candida dan sering menimbulkan masalah
serius pada penderita AIDS ataupun penderita yang masih dalam tahap HIV. Infeksi
ini biasanya terjadi di mulut dan tenggorokan. Kandisiasis mulut sering
mendahului infeksi oportunistik lain seperti sarkoma kaposi, sedangkan
kandidiasis esofagus sering ditemukan pada pasien AIDS (Crofton et
al.,2001).
c. Sarkoma
Kaposi
Gejala klinik sarkoma kaposi yaitu kelainan pada mulut dan kulit
atau pembesaran kelenjar getah bening. Biasanya kelainan berawal dari daerah
langit- langit mulut atau muka. Sarkoma kaposi dapat ditemukan juga di kaki,
lengan dan badan. Kelainan di kulit bisa dilihat dari adanya palpasi, tetapi
jarang menonjol dan berwarna ungu. Bentuk lesi penyakit ini adalah bulat lonjong,
tetapi dapat juga berupa garis memanjang bila terletak di lipatan kulit. Pada
tingkat awal penyakit tidak disertai rasa nyeri, tetapi pada tingkat lanjut
dapat disertai nyeri terutama di kaki dan tungkai bawah. Sarkoma kaposi yang menyerang
saluran pencernaan menunjukkan gejala ringan dan tidak ditemukan adanya
perdarahan. Penyakit ini juga menyerang paru-paru dengan gejala yang lebih
berat dan progresif, jika dibandingkan dengan serangan pada saluran cerna (Crofton
et al.,2001).
d.
Tuberculosis
HIV merupakan faktor risiko yang paling potensial untuk
terjadinya TB aktif. TB yang didapat pada penderita HIV bisa berasal dari
infeksi laten maupun infeksi baru dan bisa juga terjadi di setiap perjalanan
penyakit(Crofton et al.,2001).
Penyakit TB ditimbulkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Sepertiga dari penduduk dunia pernah terpajan oleh jenis
bakteri ini. Risiko orang sehat untuk mengalami penyakit TB adalah sebesar
5-10%, sedangkan pada penderita HIV, risiko untuk mengalami TB adalah sebesar
50 % (Crofton et al.,2001).
Kategori
pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV pasien TB tetapi mengikuti Buku
Pedoman Nasional Program Pengendalian TB (BPN PPTB). Pada prinsipnya pengobatan
TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus diberikan segera. Pengobatan ARV baru dimulai
setelah pengobatan TB dapat ditoleransi dengan baik, dianjurkan diberikan
paling cepat 2 minggu dan paling lambat 8 minggu.
1.
Pengobatan TB
pada ODHA yang belum dalam pengobatan ARV
Pasien yang
belum dalam pengobatan ARV, maka pengobatan TB dapat segera dimulai. Jika pasien
dalam pengobatan TB, maka pengobatan TB-nya diteruskan sampai dapat ditoleransi
dan setelah itu diberi pengobatan ARV. Keputusan untuk memulai pengobatan ARV
pada pasien dengan pengobatan TB sebaiknya dilakukan oleh dokter yang telah
mendapat pelatihan tata laksana pasien
TB-HIV.
2.
Pengobatan TB
pada ODHA yang sedang dalam pengobatan ARV
Pasien yang
sedang dalam pengobatan ARV, sebaiknya memulai pengobatan TB di RS yang petugasnya
telah dilatih TB-HIV. Ini bertujuan agar pengobatan yang diterima pasien sesuai
dengan aturan medis untuk pengobatan ko-infeksi TB-HIV. Hal ini penting karena
ada banyak kemungkinan masalah yang harus dipertimbangkan, antara lain:
interaksi obat (Rifampisin dengan beberapa jenis obat ARV), kegagalan
pengobatan ARV, immune
reconstitution syndrome (IRIS) atau
perlu substitusi obat ARV.
3.
Memulai
pengobatan ARV pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB Terapi ARV diberikan
untuk semua ODHA yang menderita TB tanpa memandang jumlah CD4. Namun pengobatan
TB tetap merupakan prioritas utama untuk pasien dan tidak boleh terganggu oleh
terapi ARV. Seperti telah dijelaskan di atas, pengobatan ARV perlu dimulai
meskipun pasien sedang dalam pengobatan TB. Perlu diingat, pengobatan TB di
Indonesia selalu mengandung Rifampisin. Oleh karena itu pasien yang menjalani
pengobatan TB dan mendapat obat ARV bisa mengalami masalah interaksi obat dan
efek samping obat. Pengobatan ARV yang mengandung Efavirenz (EFV) perlu
diberikan pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB. Jadi, jumlah obat yang
digunakan bertambah banyak sehingga diperlukan beberapa perubahan dalam paduan
ARV. Setiap perubahan tersebut harus dijelaskan secara seksama kepada pasien
dan pengawas menelan obat (PMO).
EFV
tidak dapat digunakan pada trimester I kehamilan, sehingga penggunaan pada
wanita usia subur (WUS) harus mendapat perhatian khusus. Jika seorang ibu hamil
trimester ke-2 atau ke-3 sakit TB, paduan ART yang mengandung EFV dapat
dipikirkan untuk diberikan. Paduan yang mengandung NVP dapat digunakan bersama
dengan paduan OAT yang mengandung Rifampisin bila tidak ada alternatif lain.
Pemberian NVP pada ODHA perempuan dengan jumlah CD4 >250 sel/mm3 harus
hati-hati karena dapat menimbulkan gangguan fungsi hati yang lebih berat atau
meningkatnya hipersensitifitas.
NVP
dapat diberikan kembali setelah pengobatan dengan Rifampisin selesai. Waktu
mengganti kembali (substitusi) dari EFV ke NVP tidak memerlukan loading dose (langsung dosis penuh). Mengingat
hal tersebut di atas, rencana pengobatan ko-infeksi TB-HIV seharusnya dilakukan
minimal oleh dokter di RS yang telah dilatih TB-HIV. Pasien yang akan mendapat
pengobatan ko-infeksi TB-HIV perlu diberi pengetahuan tentang efek samping
pengobatan baik ringan maupun berat dan tindakan yang harus dilakukan
selanjutnya. Petugas kesehatan di Puskesmas dapat melanjutkan pengobatan
ko-infeksi TB-HIV setelah paduan pengobatan yang diberikan oleh dokter di RS
dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.
Pasien
HIV yang akan memulai pengobatan ARV perlu mendapatkan konseling tentang pengobatan
ARV dan implikasinya. Pasien juga perlu difasilitasi untuk mendapatkan akses
dukungan nutrisi dan psikososial dari keluarga dan kelompok dukungan sebaya
(KDS). Hal ini penting untuk menjamin kesinambungan perawatan dan pengobatan ARV(KemenKes RI, 2012).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar