Jumat, 24 April 2020

Infeksi oportunistik (skripsi dan tesis)

                Infeksi oportunistik adalah infeksi yang terjadi karena penurunan imunitas tubuh. Infeksi ini terjadi ketika jumlah CD4 <500 mm="" sel="" sup="">3
. Infeksioportunistik terjadi akibat organisme non patogen (flora normal) maupun organisme patogen yang mengalami reaktivasi dalam tubuh.Ada beberapa jenis infeksi oportunistik yang sering terjadi pada penderita HIV (+), antara lain :
a.    Pneumonia pneumosistis karinii ( PPK )
Infeksi oportunistik jenis ini merupakan infeksi awal yang sering terjadi pada penderita AIDS. Hal ini terjadi karena organisme kecil (protozoa) penyebab infeksi ini, terdapat pada sebagian besar paru-paru seseorang (Crofton et al., 2001). Pada manusia sehat organisme ini tidak menimbulkan PPK. Hal ini di karenakan daya tahan tubuh yang baik dapat melawan organisme ini. Pada penderita AIDS, daya tahan tubuh rusak berat sehingga organisme ini dapat menimbulkan penyakit. Gejala awal PPK hampir menyerupai gejala umum AIDS, yaitu penurunan berat badan, keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening, lelah, kehilangan nafsu makan, diare kronik dan sariawan yang hilang timbul. Terkadang gejala ini tidak ada, tetapi timbul gejala lain seperti batuk kering, demam dan sesak nafas, terutama bila jalan jauh atau naik tangga. Demam hampir selalu ada dengan suhu yangtidak terlalu tinggi, dan biasanya timbul pada sore hari. Gejala tersebut dapat timbul bertahap dan dalam jangka waktu 2-6 minggu menjadi berat. Pleuritis dengan gejala sakit dada dibagian tengah, pernafasan dangkal, dan tidak dapat menarik nafas juga sering dijumpai pada 30% pasien PPK.
PPK dapat diatasi dengan pengobatan yang efektif. Banyak kemajuan yang telah ditemukan mengenai diagnosis awal dan pengobatan penyakit ini. Sebagian besar pasien dapat disembuhkan, namun penyembuhan PPK ini tidak diikuti dengan kembalinya kekebalan tubuh pasien. Diagnosis penyakit ini dipastikan dengan menggunakan foto rontgen paru, analisa gas darah, dan sputum. Cara terbaik diagnosis penyakit ini adalah dengan menggunakan pemeriksaan bonkoskopi disertai dengan biopsi dan bilasan (Crofton et al.,2001).
b. Kandidiasis
Kandidiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur candida dan sering menimbulkan masalah serius pada penderita AIDS ataupun penderita yang masih dalam tahap HIV. Infeksi ini biasanya terjadi di mulut dan tenggorokan. Kandisiasis mulut sering mendahului infeksi oportunistik lain seperti sarkoma kaposi, sedangkan kandidiasis esofagus sering ditemukan pada pasien AIDS  (Crofton et al.,2001).
c. Sarkoma Kaposi
Gejala klinik sarkoma kaposi yaitu kelainan pada mulut dan kulit atau pembesaran kelenjar getah bening. Biasanya kelainan berawal dari daerah langit- langit mulut atau muka. Sarkoma kaposi dapat ditemukan juga di kaki, lengan dan badan. Kelainan di kulit bisa dilihat dari adanya palpasi, tetapi jarang menonjol dan berwarna ungu. Bentuk lesi penyakit ini adalah bulat lonjong, tetapi dapat juga berupa garis memanjang bila terletak di lipatan kulit. Pada tingkat awal penyakit tidak disertai rasa nyeri, tetapi pada tingkat lanjut dapat disertai nyeri terutama di kaki dan tungkai bawah. Sarkoma kaposi yang menyerang saluran pencernaan menunjukkan gejala ringan dan tidak ditemukan adanya perdarahan. Penyakit ini juga menyerang paru-paru dengan gejala yang lebih berat dan progresif, jika dibandingkan dengan serangan pada saluran cerna (Crofton et al.,2001).
d. Tuberculosis
HIV merupakan faktor risiko yang paling potensial untuk terjadinya TB aktif. TB yang didapat pada penderita HIV bisa berasal dari infeksi laten maupun infeksi baru dan bisa juga terjadi di setiap perjalanan penyakit(Crofton et al.,2001). Penyakit TB ditimbulkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sepertiga dari penduduk dunia pernah terpajan oleh jenis bakteri ini. Risiko orang sehat untuk mengalami penyakit TB adalah sebesar 5-10%, sedangkan pada penderita HIV, risiko untuk mengalami TB adalah sebesar 50 % (Crofton et al.,2001).
Kategori pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV pasien TB tetapi mengikuti Buku Pedoman Nasional Program Pengendalian TB (BPN PPTB). Pada prinsipnya pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus diberikan segera. Pengobatan ARV baru dimulai setelah pengobatan TB dapat ditoleransi dengan baik, dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan paling lambat 8 minggu.
1.    Pengobatan TB pada ODHA yang belum dalam pengobatan ARV
Pasien yang belum dalam pengobatan ARV, maka pengobatan TB dapat segera dimulai. Jika pasien dalam pengobatan TB, maka pengobatan TB-nya diteruskan sampai dapat ditoleransi dan setelah itu diberi pengobatan ARV. Keputusan untuk memulai pengobatan ARV pada pasien dengan pengobatan TB sebaiknya dilakukan oleh dokter yang telah mendapat pelatihan  tata laksana pasien TB-HIV.
2.    Pengobatan TB pada ODHA yang sedang dalam pengobatan ARV
Pasien yang sedang dalam pengobatan ARV, sebaiknya memulai pengobatan TB di RS yang petugasnya telah dilatih TB-HIV. Ini bertujuan agar pengobatan yang diterima pasien sesuai dengan aturan medis untuk pengobatan ko-infeksi TB-HIV. Hal ini penting karena ada banyak kemungkinan masalah yang harus dipertimbangkan, antara lain: interaksi obat (Rifampisin dengan beberapa jenis obat ARV), kegagalan pengobatan ARV, immune reconstitution syndrome (IRIS) atau perlu substitusi obat ARV.
3.    Memulai pengobatan ARV pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB Terapi ARV diberikan untuk semua ODHA yang menderita TB tanpa memandang jumlah CD4. Namun pengobatan TB tetap merupakan prioritas utama untuk pasien dan tidak boleh terganggu oleh terapi ARV. Seperti telah dijelaskan di atas, pengobatan ARV perlu dimulai meskipun pasien sedang dalam pengobatan TB. Perlu diingat, pengobatan TB di Indonesia selalu mengandung Rifampisin. Oleh karena itu pasien yang menjalani pengobatan TB dan mendapat obat ARV bisa mengalami masalah interaksi obat dan efek samping obat. Pengobatan ARV yang mengandung Efavirenz (EFV) perlu diberikan pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB. Jadi, jumlah obat yang digunakan bertambah banyak sehingga diperlukan beberapa perubahan dalam paduan ARV. Setiap perubahan tersebut harus dijelaskan secara seksama kepada pasien dan pengawas menelan obat (PMO).
EFV tidak dapat digunakan pada trimester I kehamilan, sehingga penggunaan pada wanita usia subur (WUS) harus mendapat perhatian khusus. Jika seorang ibu hamil trimester ke-2 atau ke-3 sakit TB, paduan ART yang mengandung EFV dapat dipikirkan untuk diberikan. Paduan yang mengandung NVP dapat digunakan bersama dengan paduan OAT yang mengandung Rifampisin bila tidak ada alternatif lain. Pemberian NVP pada ODHA perempuan dengan jumlah CD4 >250 sel/mm3 harus hati-hati karena dapat menimbulkan gangguan fungsi hati yang lebih berat atau meningkatnya hipersensitifitas.
NVP dapat diberikan kembali setelah pengobatan dengan Rifampisin selesai. Waktu mengganti kembali (substitusi) dari EFV ke NVP tidak memerlukan loading dose (langsung dosis penuh). Mengingat hal tersebut di atas, rencana pengobatan ko-infeksi TB-HIV seharusnya dilakukan minimal oleh dokter di RS yang telah dilatih TB-HIV. Pasien yang akan mendapat pengobatan ko-infeksi TB-HIV perlu diberi pengetahuan tentang efek samping pengobatan baik ringan maupun berat dan tindakan yang harus dilakukan selanjutnya. Petugas kesehatan di Puskesmas dapat melanjutkan pengobatan ko-infeksi TB-HIV setelah paduan pengobatan yang diberikan oleh dokter di RS dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.
Pasien HIV yang akan memulai pengobatan ARV perlu mendapatkan konseling tentang pengobatan ARV dan implikasinya. Pasien juga perlu difasilitasi untuk mendapatkan akses dukungan nutrisi dan psikososial dari keluarga dan kelompok dukungan sebaya (KDS). Hal ini penting untuk menjamin kesinambungan perawatan dan pengobatan  ARV(KemenKes RI, 2012).

Tidak ada komentar: