Kamis, 20 Februari 2020

Karakteristik Ibu (skripsi dan tesis)

a. Umur
 Umur bagi ibu hamil berkisar antara 20-35 tahun karena akan berdampak pada kondisi bayi yang akan dilahirkan. Apabila kurang dari 20 tahun keadaan ibu masih belum siap secara biologis berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, sehingga lebih banyak untuk kebutuhan diri sendiri. Kondisi rahim maupun organ lainnya juga belum terbentuk secara sempurna.Hal ini dapat menjadi penghambat perkembangan janin. Adapun secara psikologis ibu dengan usia kurang dari 20 tahun memiliki emosi yang labil, sedangkan ibu dengan usia lebih dari 35 tahun memiliki kondisi kesehatan yang rentan terhadap penyakit sehingga berakibat terhambatnya pertumbuhan balita tersebut (UNICEF, 2002). Usia ibu berhubungan secara signifikan dengan status gizi menurut hasil penelitian Khotimah, dkk (2013). Namun Himawan (2006) berkata lain dalam penelitiannya, bahwaumur ibu tidak berhubungan dengan status gizi balita.
 b. Pendidikan 
Pendidikan ibu merupakan factor utama dalam hal menyusun makan keluarga, pengasuhan maupun perawatan anak (Suhardjo, 2003). Peningkatan pendidikan wanita dapat menimbulkan kesadaran akan pengembangan diri dalam melakukan kegiatan sosial. Tuntutan kebutuhan akan ekonomi yang meningkat menimbulkan keharusan ibu akan pekerjaan terkait pendapatan dalam keluarga (Engle, 2000). Hasil penelitian Kristianti (2013), menjelaskan bahwa pendidikan ibu tidak ada kaitannya dengan status gizi, karena sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan tinggi sehingga cenderung memiliki pengetahuan yang luas dan mudah dalam menangkap informasi yang diterima. Namun, dalam penelitian Khaidir (2015) dengan menganalisis data Riskesdas 2010 menjelaskan bahwa status pekerjaan dapat berhubungan dengan status gizi balita. 
 c. Pekerjaan 
Pekerjaan erat kaitannya dengan pendapatan yang diperoleh. Hal yang muncul selain memperoleh materi yaitu penelantaran anak akibat dari kegiatan ibu di luar rumah. Pengasuhan dan keadaan gizi sejak bayiakan mempengaruhi masa-masa penting di usia 5 tahun kebawah. Penurunan berat badan tidak jarang terjadi pada balita karena perilaku ibu yang kurang mempersiapkan makan anak. Pekerjaan diluar rumah maupun didalam rumah akan berpengaruh terhadap kurangnya pemantauan ibu dalam konsumsi makan anaknya. Kristianti dalam penelitianya di Salomo Pontianak menyatakan jikapekerjaan ibu tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi anak.Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan Himawan (2006) yakni ada kaitanpekerjaan dengan status gizi balita. d. Paritas Paritas dikategorikan tinggi apabila melahirkan anak ke-4 atau lebih. Dampak yang ditimbulkan pada ibu dengan paritas tinggi dan masih memberikan ASI pada anak sebelumnya, maka perhatian ibu akan lebih focus pada anak yang baru dilahirkan. Oleh karena itulah, pemberhentian ASI yang dilakukan pada anak sebelumnya akan menjadi faktor pendorong terjadinya gizi buruk (Sjahmien, 2003). Sejalan dengan penjelasan tersebut,  Himawan(2006) dalam penelitiannya juga menjelaskankaitan yang erat paritas ibu dengan status gizi balita. 
e. Jumlah balita 
Jumlah balita yang dilimili dalam keluarga akan mempengaruhi ketersediaan pangan. Ketersediaan pangan dalam keluarga akan berbeda antara keluarga yang satu dengan yang lain, dikarenakan perbedaan penghasilan. Status ekonomi yang rendah didukung oleh jumlah anak dalam keluarga yang besar akan memberikan peluang kepada anak tersebut untuk menderita gizi kurang maupun gizi buruk. Anak yang tumbuh dalam keluarga miskin berpeluang besar untuk mengalami gangguan status gizi. Sama halnya dengan anak yang paling kecil akan berpengaruh terhadap kekurangan pangan. Apabila anggota keluarga bertambah khususnya balita, maka pangan yang akan diterima oleh balita lainnya akan berkurang. Asupan nutrisi yang tidak seimbang mempengaruhi terjadinya penurunan berat badan. Oleh sebab itu, jumlah anak akan menentukan status gizi balita (Faradevi, 2011). Hasil penelitian Karundeng dkk (2015) menyatakan bahwa status gizi balita tidak dipengaruhi oleh jumlah anak dalam keluarga.Hal ini dikarenakan sebagian besar ibu sudah mempunyai pengalaman dalam merawat anak.Namun fenomena yang terjadi dalam penelitian ini, yaitu  masih ditemukannya jumlah anak yang kurang dari 3 tahun berstatus gizi kurang.
 f. Jarak kelahiran
 Jarak kelahiran tidak dapat dipisahkan dari paritas atau jumlah kelahiran. Paritas yang tinggi akan secara langsung berpengaruh pada jarak kelahiran yang semakin pendek.Seorang ibu paling tidak memerlukan sedikitnya 24 bulan untuk pemulihan setelah melahirkan.Adapun kemungkinan yang dapat terjadi adalah lahir premature atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah (UNICEF, 2002). Berdasarkan hasil analisis penelitian Karundeng (2015), membuktikan adanya hubungan jarak kelahiran dengan status gizi balita. Namun penelitian ini menjelaskan ada faktor lain yang mempengaruhi terjadinya status gizi baik pada jarak kelahiran kurang dari 3 tahun.
 g. Status Perkawinan 
Perkawinan menurut Soekanto (2000) merupakan ikatan yang sah antara seorang laki-laki dengan perempuan, sehingga timbul hak-hak dan kewajiban antara mereka.Ikatan lahir dan batin sebagai suami istri menjadi dasar dari status perkawinan. 
h. Tingkat pengetahuan 
Kurang gizi yang banyak didirita oleh balita dikatakan sebagai golongan rawan pada anak. Masa peralihan antara penyapihan dengan 16 waktu pertama makan akan dipengaruhi oleh pola pengasuhan ibu terkait asupan nutrisinya. Pengetahuan ibu terkait status gizi sangat berperan dalam menyiapkan bahan makanan yang akan dberikan, maupun kebiasaan pemberina makanan pada balita (Suhardjo, 2003). Hilmawan (2006) dalam hasil analisinya menyatakan jika pengetahuan ibu berhubungan dengan status gizi balit.Walaupun demikian, usaha untuk meningkatkan pengetahuan terkait status gizi tetap dilakukan melalui penyuluhan maupun kunjungan rumah yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan petugas gizi ke masyaraka

Tidak ada komentar: