Asupan nutrisi berkaitan dengan ketidakcukupan zat gizi yang
diperoleh, apabila hal ini berlangsung lama makan terjadi penurunan berat
badan. Terjadinya perubahan fungsi ditandai dengan ciri yang khas akan
merubah struktur anatomi dengan munculnya tanda yang klasik (Supariasa,
2002).
Masa balita sebagai masa yang paling penting dan memerlukan
perhatian khusus dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pemantauan
dapat dilakukan melalui proses pengaturan pola makan yang baik. hal ini
akan mempengaruhi kecukupan nutrisinya. Kurang gizi yang merupakan
gangguan akibat kesalahan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara
kualitas maupun kuantitasnya. Penyediaan pangan yang kurang, kebiasaan makan yang salah, kemiskinan dan ketidakpahaman akan kebutuhan zat
gizi juga mempengaruhi status gizi seseorang khususnya balita. Pola makan
anak 1-5 tahun terbentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan
lingkungan luar. Kebiasaan makan yang dipelajari lebih awal dalam
keluarga akan lebih bertahan dibandingkan dengan lingkungan luar. Oleh
sebab itu, masa balita merupakan waktu yang tepat untuk membentuk
kebiasaan atau pola makan yang baik (Waladouw dkk, 2013).
Kebiasaan
makan antara satu keluarga berbeda dengan keluarga yang lain akibat dari
perbedaan tempat tinggal, ketersediaan pangan, kondisi kesehatan anak,
selera makan, kemampuan daya beli dan kebiasaan makan keluarga
(Walalangi, dkk, 2015).
Menurut Almatseir (2009), ikatan kimia yang membentuk zat gizi
diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya dalam membentuk energi,
memelihara jaringan dan mengatur metabolisme tubuh. Tubuh memerlukan
zat-zat yang penting bagi tubuh. Karbohidrat sebagai sumber energi dalam
melakukan kegiatan sehari-hari yang dapat diperoleh dari golongan tepung
seperti beras, kentang, dan kelompok gula. Kekurangan protein adalah KEP
(Kurang Energi Protein) merupakan akibat yang dapat ditimbulkan apabila
kekurangan protein.Zat makanan yang berupa protein juga dapat diperoleh
melalui tumbuh-tumbuhan ataupun hewan.Kedua jenis protein tersebut
berfungsi dalam me-regenerasi sel yang rusak, pembentukan enzim dan
18
hormon. Satu gram protein akan menghasilkan sekitar 4,1 kalori.
Tubuh
yang kekurangan protein akan terserang penyakit busung lapar. Protein
dapat ditemukan pada ikan, daging, telur, kedelai, dll. Selain itu, lemak
juga merupakan sumber tenaga yang berfungsi dalam menghasilkan
kalori.Zat makanan vitamin dan mineral juga diklasifikasikan menjadi larut
dan tidak larut.Zat besi sebagai salah satu jenis dari mineral diperlukan
tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit. Pembentukan jaringan, tulang,
hormone, enzim, keseimbangan cairan dan proses pembekuan darah
merupakan beberapa fungsi dari zat besi dalam tubuh. Selain itu, zat besi
juga sebagai komponen penting dalam pernafasan yakni terbentuknya
hemoglobin dalam mengikat oksigen pada sel darah merah.
Asupan nutrisi balita yang disesuaikan dengan umur dan bentuk
makanan yang dimakan menurut DepKes RI (2002), yaitu asi eksklusif pada
umur 0-4 bulan, makanan lumat usia 4-6 bulan, makanan lembek usia 6-12
bulan dan makanan keluarga yaitusatu sampai satu setengah piring
nasi/pengganti, dua sampai tiga potong lauk hewani, satu sampai dua
potong lauk nabati, setengah mangkuk sayur, dua sampai tiga potong buah
dan satu gelas susu usia 12-24 bulan. Adapun bentuk makanan yang
dikonsumsi satu sampai tiga piring nasi/pengganti, dua sampai tiga potong
lauk hewani, satu sampai dua potong lauk nabati, satu sampai satu setengah
mangkuk sayur, dua sampai tiga potong buah-buahan dan satu sampai dua
19
gelas susu usia 24 bulan keatas. Makanan lumat yang dimaksud berupa
makanan yang dihancurkan dan dibuat dari tepung, sedangkan makanan
lunak yaitu dimasak dengan air yang lebih banyak dan tampak berair.
Balita sebagai salah satu anggota keluarga yang sangat membutuhkan
perhatian khusus setidaknya cukup makan perharinya untuk memenuhi
kebutuhan dalam pertumbuhannya. Oleh sebab itu, keluarga membutuhkan
pengetahuan lebih terkait penyediaan gizi yang baik di rumah.Pemerataan
pembagian makanan dalam keluarga juga sangat diperlukan sehingga setiap
anggota keluarga tercukupi kebutuhannya dan keanekaragaman makanan
yang dikonsumsi juga perlu menjadi perhatian khusus (Indarti, 2016).
Hasil penelitian Erni dkk (2008) terkait asupan zat gizi di suku anak
dalam Provinsi Jambi menunjukkan hubungan yang erat asupan energy dan
protein dengan status gizi balita dilihat dari BB/U, TB/U dan BB/TB.Hal ini
berarti balita dengan asupan energy dan protein yang cukup, mempunyai
status gizi yang baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar