Kamis, 20 Februari 2020

Asupan nutrisi (skripsi dan tesis)

Asupan nutrisi berkaitan dengan ketidakcukupan zat gizi yang diperoleh, apabila hal ini berlangsung lama makan terjadi penurunan berat badan. Terjadinya perubahan fungsi ditandai dengan ciri yang khas akan merubah struktur anatomi dengan munculnya tanda yang klasik (Supariasa, 2002). Masa balita sebagai masa yang paling penting dan memerlukan perhatian khusus dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pemantauan dapat dilakukan melalui proses pengaturan pola makan yang baik. hal ini akan mempengaruhi kecukupan nutrisinya. Kurang gizi yang merupakan gangguan akibat kesalahan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara kualitas maupun kuantitasnya. Penyediaan pangan yang kurang, kebiasaan makan yang salah, kemiskinan dan ketidakpahaman akan kebutuhan zat gizi juga mempengaruhi status gizi seseorang khususnya balita. Pola makan anak 1-5 tahun terbentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan lingkungan luar. Kebiasaan makan yang dipelajari lebih awal dalam keluarga akan lebih bertahan dibandingkan dengan lingkungan luar. Oleh sebab itu, masa balita merupakan waktu yang tepat untuk membentuk kebiasaan atau pola makan yang baik (Waladouw dkk, 2013).
 Kebiasaan makan antara satu keluarga berbeda dengan keluarga yang lain akibat dari perbedaan tempat tinggal, ketersediaan pangan, kondisi kesehatan anak, selera makan, kemampuan daya beli dan kebiasaan makan keluarga (Walalangi, dkk, 2015). Menurut Almatseir (2009), ikatan kimia yang membentuk zat gizi diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya dalam membentuk energi, memelihara jaringan dan mengatur metabolisme tubuh. Tubuh memerlukan zat-zat yang penting bagi tubuh. Karbohidrat sebagai sumber energi dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang dapat diperoleh dari golongan tepung seperti beras, kentang, dan kelompok gula. Kekurangan protein adalah KEP (Kurang Energi Protein) merupakan akibat yang dapat ditimbulkan apabila kekurangan protein.Zat makanan yang berupa protein juga dapat diperoleh melalui tumbuh-tumbuhan ataupun hewan.Kedua jenis protein tersebut berfungsi dalam me-regenerasi sel yang rusak, pembentukan enzim dan 18 hormon. Satu gram protein akan menghasilkan sekitar 4,1 kalori. 
Tubuh yang kekurangan protein akan terserang penyakit busung lapar. Protein dapat ditemukan pada ikan, daging, telur, kedelai, dll. Selain itu, lemak juga merupakan sumber tenaga yang berfungsi dalam menghasilkan kalori.Zat makanan vitamin dan mineral juga diklasifikasikan menjadi larut dan tidak larut.Zat besi sebagai salah satu jenis dari mineral diperlukan tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit. Pembentukan jaringan, tulang, hormone, enzim, keseimbangan cairan dan proses pembekuan darah merupakan beberapa fungsi dari zat besi dalam tubuh. Selain itu, zat besi juga sebagai komponen penting dalam pernafasan yakni terbentuknya hemoglobin dalam mengikat oksigen pada sel darah merah. Asupan nutrisi balita yang disesuaikan dengan umur dan bentuk makanan yang dimakan menurut DepKes RI (2002), yaitu asi eksklusif pada umur 0-4 bulan, makanan lumat usia 4-6 bulan, makanan lembek usia 6-12 bulan dan makanan keluarga yaitusatu sampai satu setengah piring nasi/pengganti, dua sampai tiga potong lauk hewani, satu sampai dua potong lauk nabati, setengah mangkuk sayur, dua sampai tiga potong buah dan satu gelas susu usia 12-24 bulan. Adapun bentuk makanan yang dikonsumsi satu sampai tiga piring nasi/pengganti, dua sampai tiga potong lauk hewani, satu sampai dua potong lauk nabati, satu sampai satu setengah mangkuk sayur, dua sampai tiga potong buah-buahan dan satu sampai dua 19 gelas susu usia 24 bulan keatas. Makanan lumat yang dimaksud berupa makanan yang dihancurkan dan dibuat dari tepung, sedangkan makanan lunak yaitu dimasak dengan air yang lebih banyak dan tampak berair. Balita sebagai salah satu anggota keluarga yang sangat membutuhkan perhatian khusus setidaknya cukup makan perharinya untuk memenuhi kebutuhan dalam pertumbuhannya. Oleh sebab itu, keluarga membutuhkan pengetahuan lebih terkait penyediaan gizi yang baik di rumah.Pemerataan pembagian makanan dalam keluarga juga sangat diperlukan sehingga setiap anggota keluarga tercukupi kebutuhannya dan keanekaragaman makanan yang dikonsumsi juga perlu menjadi perhatian khusus (Indarti, 2016). Hasil penelitian Erni dkk (2008) terkait asupan zat gizi di suku anak dalam Provinsi Jambi menunjukkan hubungan yang erat asupan energy dan protein dengan status gizi balita dilihat dari BB/U, TB/U dan BB/TB.Hal ini berarti balita dengan asupan energy dan protein yang cukup, mempunyai status gizi yang baik

Tidak ada komentar: