.1. Umur
Kebutuhan energi individu disesuaikan dengan umur, jenis kelamin, dan
tingkat aktivitas. Jika kebutuhan energi (zat tenaga) terpenuhi dengan baik maka
dapat meningkatkan produktivitas kerja, sehingga membuat seseorang lebih
semangat dalam melakukan pekerjaan. Apabila kekurangan energi maka
produktivitas kerja seseorang akan menurun, dimana seseorang akan malas bekerja
dan cenderung untuk bekerja lebih lamban. Semakin bertambahnya umur akan
semakin meningkat pula kebutuhan zat tenaga bagi tubuh. Zat tenaga dibutuhkan
untuk mendukung meningkatnya dan semakin beragamnya kegiatan fisik (Apriadji,
1986).
2. Frekuensi Makan
Frekuensi konsumsi makanan dapat menggambarkan berapa banyak
makanan yang dikonsumsi seseorang. Menurut Hui (1985), sebagian besar remaja
melewatkan satu atau lebih waktu makan, yaitu sarapan. Sarapan adalah waktu
makan yang paling banyak dilewatkan, disusul oleh makan siang. Ada beberapa
alasan yang menyebabkan seseorang malas untuk sarapan, antara lain mereka sedang
dalam keadaan terburu-buru, menghemat waktu, tidak lapar, menjaga berat badan
dan tidak tersedianya makanan yang akan dimakan. Melewatkan waktu makan dapat
menyebabkan penurunan konsumsi energi, protein dan zat gizi lain (Brown et al,
2005).
Pada bangsa-bangsa yang frekuensi makannya dua kali dalam sehari lebih
banyak orang yang gemuk dibandingkan bangsa dengan frekuensi makan sebanyak tiga kali dalam sehari. Hal ini berarti bahwa frekuensi makan sering dengan jumlah
yang sedikit lebih baik daripada jarang makan tetapi sekali makan dalam jumlah
yang banyak (Suyono, 1986).
3. Asupan Energi
Energi merupakan asupan utama yang sangant diperlukan oleh tubuh.
Kebutuhan energi yang tidak tercukupi dapat menyebabkan protein, vitamin, dan
mineral tidak dapat digunakan secara efektif. Untuk beberapa fungsi metabolisme
tubuh, kebutuhan energi dipengaruhi oleh BMR (Basal Metabolic Rate), kecepatan
pertumbuhan, komposisi tubuh dan aktivitas fisik (Krummel & Etherton, 1996).
Energi yang diperlukan oleh tubuh berasal dari energi kimia yang terdapat
dalam makanan yang dikonsumsi. Energi diukur dalam satuan kalori. Energi yang
berasal dari protein menghasilkan 4 kkal/gram, lemak 9 kkal/gram, dan karbohidrat 4
kkal/ gram (Baliwati, 2004).
4. Asupan Protein
Protein merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh.
Fungsi utama protein adalah membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh
(Almatsier, 2001). Fungsi lain dari protein adalah menyediakan asam amino yang
diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme, mengatur
keseimbangan air, dan mempertahankan kenetralan asam basa tubuh. Pertumbuhan,
kehamilan, dan infeksi penyakit meningkatkan kebutuhan protein seseorang
(Baliwati, 2004)Sumber makanan yang paling banyak mengandung protein berasal dari bahan
makanan hewani, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sedangkan
sumber protein nabati berasal dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Catatan Biro
Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1999, menunjukkan secara nasional konsumsi
protein sehari rata-rata penduduk Indonesia adalah 48,7 gram sehari (Almatsier,
2001). Anjuran asupan protein berkisar antara 10 – 15% dari total energi (WKNPG,
2004).
5. Asupan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi kehidupan manusia yang
dapat diperoleh dari alam, sehingga harganya pun relatif murah (Djunaedi, 2001).
Sumber karbohidrat berasal dari padi-padian atau serealia, umbi-umbian, kacangkacangan dan gula. Sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi oleh
masyarakat Indonesia sebagai makanan pokok adalah beras, singkong, ubi, jagung,
taslas, dan sagu (Almatsier, 2001).
Karbohidrat menghasilkan 4 kkal / gram. Angka kecukupan karbohidrat
sebesar 50-65% dari total energi. (WKNPG, 2004). WHO (1990) menganjurkan agar
55 – 75% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang
tidak mencukupi di dalam tubuh akan digantikan dengan protein untuk memenuhi
kecukupan energi. Apabila karbohidrat tercukupi, maka protein akan tetap berfungsi
sebagai zat pembangun (Almatsier, 2001).
Faktor-faktor..., Desy Khairina, FKMUI, 2008
.6. Asupan Lemak
Lemak merupakan cadangan energi di dalam tubuh. Lemak terdiri dari
trigliserida, fosfolipid, dan sterol, dimana ketiga jenis ini memiliki fungsi terhadap
kesehataan tubuh manusia (WKNPG, 2004). Konsumsi lemak paling sedikit adalah
10% dari total energi. Lemak menghasilkan 9 kkal/ gram. Lemak relatif lebih lama
dalam sistem pencernaan tubuh manusia. Jika seseorang mengonsumsi lemak secara
berlebihan, maka akan mengurangi konsumsi makanan lain. Berdasarkan PUGS,
anjuran konsumsi lemak tidak melebihi 25% dari total energi dalam makanan seharihari. Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan, seperti minyak kelapa,
kelapa sawit, kacang tanah, jagung, dan sebagainya. Sumber lemak utama lainnya
berasal dari mentega, margarin, dan lemak hewan (Almatsier, 2001).
7. Tingkat Pendidikan
Pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka sangat diharapkan semakin tinggi pula
pengetahuan orang tersebut mengenai gizi dan kesehatan. Pendidikan yang tingggi
dapat membuat seseorang lebih memperhatikan makanan untuk memenuhi asupan
zat-zat gizi yang seimbang. Adanya pola makan yang baik dapat mengurangi bahkan
mencegah dari timbulnya masalah yang tidak diinginkan mengenai gizi dan
kesehatan (Apriadji, 1986).
Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, akan mudah dalam
menyerap dan menerapkan informasi gizi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan
perilaku dan gaya hidup yang sesuai dengan informasi yang didapatkan mengenai gizi dan kesehatan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat
kesehatan (WKNPG, 2004).
Pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan status gizi
seseorang. Pada umumnya tingkat pendidikan pembantu rumah tangga masih rendah
(tamat SD dan tamat SMP). Pendidikan yang rendah sejalan dengan pengetahuan
yang rendah, karena dengan pendidikan rendah akan membuat seseorang sulit dalam
menerima informasi mengenai hal-hal baru di lingkungan sekitar, misalnya
pengetahuan gizi. Pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi sangat diperlukan oleh
pembantu rumah tangga. Selain untuk diri sendiri, pendidikan dan pengetahuan gizi
yang diperoleh dapat dipraktekkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan.
8. Pendapatan
Pendapatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi,
Pembantu rumah tangga mendapatkan gaji (pendapatan) yang masih di bawah UMR
(Gunanti, 2005). Besarnya gaji yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan
banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan. Pendapatan seseorang akan menentukan
kemampuan orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan makanan sesuai dengan
jumlah yang diperlukan oleh tubuh. Apabila makanan yang dikonsumsi tidak
memenuhi jumlah zat-zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan
perubahan pada status gizi seseorang (Apriadji, 1986).
Ada dua aspek kunci yang berhubungan antara pendapatan dengan pola
konsumsi makan, yaitu pengeluaran makanan dan tipe makanan yang dikonsumsi.
Apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka dia dapat memenuhi
kebutuhan akan makanannya (Gesissler, 2005).
Faktor-faktor..., Desy Khairina, FKMUI, 2008
26
Meningkatnya pendapatan perorangan juga dapat menyebabkan perubahan
dalam susunan makanan. Kebiasaan makan seseorang berubah sejalan dengan
berubahnya pendapatan seseorang (Suhardjo, 1989). Meningkatnya pendapatan
seseorang merupakan cerminan dari suatu kemakmuran. Orang yang sudah
meningkat pendapatannya, cenderung untuk berkehidupan serba mewah. Kehidupan
mewah dapat mempengaruhi seseorang dalam hal memilih dan membeli jenis
makanan. Orang akan mudah membeli makanan yang tinggi kalori. Semakin banyak
mengonsumsi makanan berkalori tinggi dapat menimbulkan kelebihan energi yang
disimpan tubuh dalam bentuk lemak. Semakin banyak lemak yang disimpan di dalam
tubuh dapat mengakibatkan kegemukan (Suyono, 1986).
9. Pengetahuan
Tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi tingkat
pengetahuannya akan gizi. Orang yang memiliki tingkat pendidikan hanya sebatas
tamat SD, tentu memiliki pengetahuan yang lebih rendah dibandingkan orang dengan
tingkat pendidikan tamat SMA atau Sarjana. Tetapi, sebaliknya, seseorang dengan
tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun belum tentu memiliki pengetahuan gizi
yang cukup jika ia jarang mendapatkan informasi mengenai gizi, baik melalui media
iklan, penyuluhan, dan lain sebagainya. Tetapi, perlu diingat bahwa rendah-tingginya
pendidikan seseorang juga turut menentukan mudah tidaknya orang tersebut dalam
menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan hal
ini, kita dapat menentukan metode penyuluhan gizi yang tepat. Di samping itu,
dilihat dari segi kepentingan gizi keluarga, pendidikan itu sendiri amat diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan
dapat mengambil tindakan secepatnya (Apriadji, 1986).
Pengetahuan gizi sangat penting, dengan adanya pengetahuan tentang zat
gizi maka seseorang dengan mudah mengetahui status gizi mereka. Zat gizi yang
cukup dapat dipenuhi oleh seseorang sesuai dengan makanan yang dikonsumsi yang
diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan. Pengetahuan gizi dapat memberikan
perbaikan gizi pada individu maupun masyarakat (Suhardjo, 1986).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar