Person-Organization Fit (P-O fit) dihubungkan secara positif dengan
komitmen organisasional (Valentine, Godkin & Lucero, 2002; Kristof, 1996;
Chatman, 1991; O’Reilly, 1991). Komitmen organisasional didefinisikan tingkat
kekerapan identifikasi dan keterikatan individu terhadap organisasi yang
dimasukinya, dimana karakteristik komitmen organisasional antara lain adalah
loyalitas seseorang terhadap organisasi, kemauan untuk mempergunakan usaha atas
nama organisasi, kesuaian antara tujuan seseorang dengan tujuan organisasi. (William
dan Hazer,1986; Mowday,1987). Komitmen karyawan terhadap organisasi akan
meningkatkan perasaan karyawan akan kesesuaiannya terhadap organisasi ( Herdorn
et al., 2001).
Menurut Chatman (1991) dalam penelitiannya dengan sampel akuntan publik
membuktikan kompatibilitas antara individu dengan organisasi, menyebabkan
komitmen karyawan terhadap organisasi terjaga serta berkeinginan tetap melanjutkan
aktivitas bersama dengan organisasi.
Pendapat lain mengatakan bahwa para individu
yang memiliki nilai-nilai dan keyakinan yang sama dengan organisasinya dapat
berinteraksi dengan lebih nyaman dengan sistem nilai organisasi, mengurangi
ketidakpastian dan konflik, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan dan
komitmen (Meglino et al., 1989)
Lebih lanjut Kristof (1996) secara empiris membuktikan pengaruh PersonOrganization Fit (P-O fit) terhadap komitmen organisasional. Sedangkan Schneider et al., (1995) menjelaskan bahwa para individu dengan derajat P-O Fit yang tinggi
akan memberikan ide-ide baru dan keunggulan kompetitif bagi perusahaan.
Chaw et al., (2000) menyatakan bahwa kesesuaian yang dekat antara individu
yang dipilih dengan budaya organisasi maka akan semakin tinggi komitmen
organisasional, kepuasan kerja dan kecenderungan untuk bertahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar