Beberapa penelitian mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif antara
Person Organization Fit dengan kinerja yang merupakan employee outcomes
(Tepeci, 2001; Miller, 2001; Bishop, 2000; Wayne et. al., 1997)
Scheineder (1988) mengemukakan bahwa individu tertarik dan merasa
nyaman berada di organisasi dikarenakan adanya kesamaan karakteristik diantara
keduanya. Meglino, (1989) mengemukakan bahwa individu yang mempunyai nilainilai yang sama dengan organisasi, maka mereka akan mudah berinteraksi secara
efisien dengan sistem nilai organisasi, mengurangi ketidakpastian, dan konflik serta
meningkatkan kepuasan dan komitmen serta meningkatkan kinerja. Hasil dari
beberapa penelitian dengan memakai kesamaan nilai yang dirasakan (congruency)
dengan budaya organisasi yang dirasakan sangat jelas mengindikasikan bahwa kesamaan yang dirasakan berhubungan positif dengan outcomes affective seperti
kepuasan, komitmen dan keterlibatan (Cable & Judge, 1996; Chaw et al., 1994).
Penelitian Kristof (1996) secara empiris membuktikan adanya pengaruh
positif Person Organization Fit dengan komitmen organisasional, sedangkan
Sheridan (1992) menyimpulkan bahwa Person-Organization Fit (P-O Fit) akan
meningkatkan koordinasi, komunikasi dan sense of belonging.
Chaw et al., (2000) menghipotesiskan bahwa semakin tinggi kesesuaian
antara individu dengan Person Organization Fit (P-O Fit) akan semakin tinggi
komitmen organisasi, kepuasan kerja dan kecenderungan untuk tetap bertahan.
Kristof (1996) juga mengemukakan hasil empiris yang mendukung bahwa ada
pengaruh positif antara (P-O Fit) dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi, extra
role behavior, kinerja dan menurunkan stress dan turnover. Pendapat ini didukung
oleh Chatman (1991) yang menyimpulkan bahwa Person Organization Fit (P-O Fit)
merupakan prediktor yang baik bagi kepuasan kerja, komitmen organisasi dan
turnove
Tidak ada komentar:
Posting Komentar