Faktor-faktor yang mempengaruhi OCB cukup kompleks dan saling terkait
satu sama lain. Diantara faktor-faktor tersebut yang akan dibahas antara lain adalah
budaya dan iklim organisasi, kepribadian dan suasana hati (mood), persepsi terhadap
dukungan organisasional, persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan, masa
kerja dan jenis kelamin (gender) memberikan dampak yang cukup signifikan
sehingga perkembangannya perlu untuk diperhatikan, yaitu (Soegandhi dkk., 2013) :
1. Budaya dan Iklim Organisasi.
Menurut Organ (2006), terdapat bukti-bukti kuat yang mengemukakan
bahwa budaya organisasi merupakan suatu kondisi awal yang utama memicu
terjadinya OCB. Sloat (1999) dalam Soegandhi dkk. (2013), berpendapat
bahwa karyawan cenderung melakukan tindakan yang melampaui tanggung
jawab kerja mereka apabila mereka:
1) Merasa puas akan pekerjaannya
2) Menerima perlakuan yang sportif dan penuh perhatian dari
para pengawas.
3) Percaya bahwa mereka diperlakukan adil oleh organisasi.
Iklim organisasi dan budaya organisasi dapat menjadi penyebab kuat
atas berkembangnya OCB dalam suatu organisasi. Di dalam iklim organisasi
yang positif, karyawan merasa lebih ingin melakukan pekerjaannya melebihi
apa yang telah disyaratkan dalam uraian pekerjaan, dan akan selalu
mendukung tujuan organisasi jika mereka diperlakukan oleh para atasan
dengan sportif dan dengan penuh kesadaran serta percaya bahwa mereka
diperlakukan secara adil oleh organisasinya.
2. Kepribadian dan suasana hati (mood).
Kepribadian dan suasana hati (mood) mempunyai pengaruh terhadap
timbulnya perilaku OCB secara individual maupun kelompok. George dan
Brief (1992) dalam Soegandhi dkk. (2013) berpendapat bahwa kemauan
seseorang untuk membantu orang lain juga dipengaruhi oleh mood. Meskipun
suasana hati sebagian dipengaruhi oleh kepribadian, ia juga dipengaruhi oleh
situasi, misalnya iklim kelompok kerja dan faktor-faktor keorganisasian. Jadi
jika organisasi menghargai karyawannya dan memperlakukan mereka secara
adil serta iklim kelompok kerja berjalan positif, maka karyawan cenderung
berada dalam suasana hati yang bagus. Konsekuensinya, mereka akan secara
sukarela memberikan bantuan kepada orang lain.
3. Persepsi terhadap Perceived Organizational Support.
Studi Shore dan Wayne (1993) dalam Soegandhi dkk. (2013)
mengemukakan bahwa persepsi terhadap dukungan organisasional (Perceived
Organizational Support/ POS) dapat menjadi prediktor OCB. Pekerja yang
merasa didukung organisasi , akan memberikan timbal baliknya (feed back)
dan menurunkan ketidakseimbangan dalam hubungan tersebut dengan terlibat
dalam perilaku citizenship
4. Persepsi terhadap kualitas hubungan atau interaksi atasan-bawahan.
Miner (1988) dalam Soegandhi dkk. (2013) mengemukakan bahwa
interaksi atasan bawahan yang berkualitas akan berdampak pada
meningkatnya kepuasan kerja, produktifitas, dan kinerja karyawan.
5. Masa Kerja.
Greenberg dan Baron (2000) dalam Soegandhi dkk. (2013)
mengemukakan bahwa karakteristik personal seperti masa kerja dan jenis
kelamin berpengaruh pada OCB.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh
Sommers et al. (1996) dalam Soegandhi dkk. (2013) Masa kerja dapat
berfungsi sebagai prediktor OCB karena variabel-variabel tersebut mewakili “
pengukuran” terhadap “ investasi” karyawan di organisasi.
Penelitian- penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa masa kerja
berkorelasi dengan OCB. Karyawan yang telah lama bekerja akan memiliki
kedekatan dan keterikatan yang kuat dengan organisasi tersebut. Masa kerja
yang lama juga akan meningkatkan rasa percaya diri dan kompetensi
karyawan dalam melakukan pekerjaannya, serta menimbulkan perasaan dan
perilaku positif terhadap organisasi yang mempekerjakannya.
6. Jenis Kelamin (gender)
Konrad et al. (2000) dalam Soegandhi dkk. (2013) mengemukakan
bahwa perilaku-perilaku kerja seperti menolong orang lain, bersahabat dan
bekerja sama dengan orang lain lebih menonjol dilakukan oleh wanita
daripada pria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar