Minggu, 15 Oktober 2023

Komitmen Afektif


Salah satu bentuk komitmen organisasional adalah komitmen afektif, yaitu
keinginan kuat seseorang untuk tetap menjadi anggota organisasi. Keinginan
tersebut akan membuat seseorang berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya
terhadap organisasi selain berupa pemenuhan tugas utamanya dengan baik, tetapi
lebih dari itu dapat mengabdikan diri pada organisasi dengan menunjukkan 
kesediaan menerima tanggung jawab lain yang diwewenangkan kepadanya dan
menjalankannya dengan baik serta penuh tanggung jawab (Niehoff, B. and
Moorman, 1993).
Komitmen afektif merupakan keterikatan emosional pegawai terhadap
organisasi yang menjadi penentu dedikasi dan loyalitas pegawai. pegawai yang
memiliki komitmen afektif tinggi, mempunyai perasaan memiliki dan identifikasi
yang kuat yang kemudian akan meningkatkan keterlibatan pegawai tersebut dalam
aktivitas organisasi, kemauan untuk berusaha mencapai tujuan organisasi dan
kemauan untuk menjaga organisasi (Rhoades L., R. Eisenberger, dan S. Armeli,
2001).
Salah satu bentuk komitmen organisasional adalah komitmen afektif, yaitu
keinginan kuat seseorang untuk tetap menjadi anggota organisasi. Keinginan
tersebut akan membuat seseorang berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya
terhadap organisasi selain berupa pemenuhan tugas utamanya dengan baik, tetapi
lebih dari itu dapat mengabdikan diri pada organisasi dengan menunjukkan
kesediaan menerima tanggung jawab lain yang diwewenangkan kepadanya dan
menjalankannya dengan baik serta penuh tanggung jawab (Badiroh & Azizah,
2020).
Meyer, J. P., & Allen, (1991) Komitmen afektif (affective commitment)
menekankan pada keterikatan individu secara emosional terhadap organisasinya.
Keterikatan emosional terjadi karena pengalaman yang terjadi di dalam organisasi.
Komitmen afektif terjadi ketika karyawan merasa senang berada di dalam
perusahaan, percaya dan merasa nyaman terhadap organisasi dan yang menjadi 
tujuan organisasi, dan mau melakukan sesuatu untuk kepentingan organisasi
(George, Jennifer M., Jones, 2007).
Karyawan yang memiliki komitmen afektif lebih benar-benar ingin menjadi
bagian atau keinginannya untuk mendukung pada perusahaan yang bersangkutan.
Hal tersebut dilakukan oleh karyawan demi tercapainya tujuan perusahaan. Berbeda
dengan karyawan yang mempunyai komitmen kontinuan, akan lebih cenderung
melakukan tugasnya dikarenakan adanya faktor-faktor tertentu, sehingga
komitmennya tersebut dilakukan guna menghindari kerugian finansial dan kerugian
lain.(Hanung Eka Atmaja1 & Email, 2019)
Hal tersebut senada dengan yang dikemukanan oleh George, Jennifer M.,
Jones, (2007) tiga dimensi komitmen organisasional, adalah:
1. Komitmen afektif (affective commitment): perasaan emosional untuk organisasi
dan keyakinan dalam nilai-nilainya.
2. Komitmen normatif (normative commitment): kewajiban untuk bertahan dalam
organisasi untuk alasan-alasan moral atau etis.
3. Komitmen berkelanjutan (continuance commitment): nilai ekonomi yang dirasa
dari bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan
organisasi tersebut. Seorang karyawan mungkin berkomitmen kepada seorang
pemberi kerja karena ia dibayar tinggi dan merasa bahwa pengunduran diri dari
perusahaan akan menghancurkan keluargany

Tidak ada komentar: