Faktor-faktor yang mempengaruhi job crafting menurut (Berg, Dutton, &
Wrzesniewski, 2013) antara lain:
1. Kebutuhan kontrol pribadi
Kebutuhan ini sebagai hal yang mendasar untuk memegang kendali dalam
beberapa aspek pekerjaan. Karyawan terlibat dalam job crafting untuk
mengontrol pekerjaannya. Hal ini berguna untuk mempertahankan minat dalam
pekerjaan dan motivasi di tempat kerja.
2. Citra diri yang positif
Karyawan termotivasi untuk membuat citra diri yang positif ketika bekerja. Hal
ini untuk meningkatkan self image yang positif dalam melakukan aktivitas
kerja. Selain itu, karyawan termotivasi untuk melindungi dan meningkatkan
citra-diri dengan membentuk pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
3. Kebutuhan interaksi sosial
Kebutuhan mendasar yang dimiliki karyawan adalah berinteraksi dengan orang
lain. Hal ini berfungsi untuk membuat identitas kerja yang lebih positif sehingga
meningkatkan makna kerja. Selain itu, dapat meningkatkan pekerjaan yang
sesuai agar bermanfaat bagi perusahaan
Selain itu, terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi job crafting
menurut (Zhang & Li, 2020). yaitu:
1. Financial Orientation (Orientasi pada Keuangan) Individu yang mengutamakan
financial orientation melihat pekerjaan berdasarkan reward. Individu akan fokus
pada pekerjaan yang memiliki reward yang tinggi, sehingga individu lebih
membatasi tugas-tugas dalam pekerjaan. Ketika reward tidak diperoleh
menyebabkan ketidakpuasan dalam diri individu.
2. Career Orientation (Orientasi pada Karir) Individu yang memiliki career
orientation mengutamakan pada kemajuan karir. Individu memenuhi kebutuhan
akan status dan prestasinya dengan cara memperluas interaksi sosial dalam
organisasi. Berbeda dengan individu yang memiliki financial orientation,
individu ini tidak hanya menginginkan imbalan berupa uang namun
menginginkan pengembangan diri dalam pekerjaan sehingga memperoleh
status sosial yang lebih tinggi.
3. Calling Orientation (Orientasi kepada Tuhan) Individu dengan calling
orientation fokus pada kenikmatan dan pemenuhan dalam pekerjaan. Pada
konteks agama individu melakukan pekerjaan untuk memenuhi kewajiban
kepada Tuhan. Individu percaya bahwa Tuhan tidak terpisahkan dalam
kehidupan pribadinya, sehingga individu lebih semangat dan berkualitas dalam
melakukan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar