Teori agensi adalah dasar teori yang menjadi acuan dalam pelaksanaan praktik bisnis suatu perusahaan. Pada teori agensi ini para pemegang saham (stakeholders)merupakan pihakprincipalsedangkan manajemen merupakan pihak agen (Borolla, 2011). Teori agensi menjelaskan hubungan keagenan antara dua pihak dimana satu atau lebih orang (principal)mempekerjakan orang lain (agent)untuk melaksanakan jasaatas nama mereka yang melibatkan pendelegasian wewenang pembuatan keputusan kepadaagent(Jensen dan Meckling, 1976 dalam Sukasih, 2017). Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan mereka sendiri. Sehingga terjadi konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan kepentingan prinsipal, sehingga memicu biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976) dalam Zaen (2020) membagi biaya keagenan ini menjadi 3 (tiga), yaitu :1.Monitoring costadalah biaya yang ditimbulkan dan ditanggung oleh principal untuk memonitor perilaku agen, yaitu mengukur, mengamati dan mengontrol perilaku dari 2.Bonding costmerupakan biaya yang ditangung oleh agen dalam menetapkan dan mematuhi mekanisme yang dapat menjamin bahwa agen akan bertindak untuk kepentingan principal.3.Residual lossadalah pengorbanan yang berupa berkurangnya kemakmuran principal sebagai akibat dari perbedaan keputusan agen. Hubungan kegenan terjadi antara pemegang saham (principal)dengan manajer (agent).Teori agensi merupakan konsep yang mendasari praktik corporate governance dan fungsinya sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para pemegang saham bahwa pemegang saham akan menerima returnatas dana yang telah diinvestasikan dalam perusahaan. Sehingga dengan adanya komite audit pemilik saham menjadi lebih merasa aman karena adanya pengawasan dari internal perusahaan. Perusahaan dengan kepemilikan manajernyasemakin besar maka semakin produktif tindakan manajer dalam memaksimalkan nilai perusahaan, dengan kata lain biaya kontrak dan pengawasan menjadi rendah.Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi akan menjadi sorotan, sehingga perusahaan akan mengeluarkan biaya-biaya yang berkaitan tanggung jawab sosial untuk mengurangi tekanan dari stakeholder.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar