Konsep hardiness pertama kali diungkapkan oleh Kobasa (dalam
Priasmawati & Sukhirman, 2009) dalam penelitiannya mengenai peran
kepribadian dalam menjaga kesehatan individu ketika menghadapi stres
(Gebharthdt, Van Doef & Paul, dalam Primaswati & Sukirman, 2009).
Ketangguhan pribadi (hardiness) merupakan keadaan diri individu yang
mampu membuat individu memiliki ketabahan dan daya tahan (Hardjana,
1994).Vogt, Rizvi, Shipherd dan Resick (dalam Fitroh, 2011) menyatakan
bahwa hardiness sebagai konstruksi kepribadian yang merefleksikan sebuah
orientasi yang lebih optimistis terhadap hal-hal yang menyebabkan stres. Hadjam (dalam Mahmudah, 2009) menyatakan ketangguhan pribadi
(hardiness) mengacu pada kemampuan individu yang bertahan dalam
menghadapi stres tanpa mengakibatkan gangguan yang berarti, lebih lanjut
dikatakan bahwa ketangguhan pribadi sangat berperan dalam menentukan
tingkah laku penyesuaian individu dalam menghadapi stres. Hadjam (dalam
Mahmudah, 2009) menunjukkan bahwa ketangguhan pribadi mengurangi
pengaruh kejadian-kejadian hidup yang mencekam dengan meningkatkan
penggunaan strategi penyesuaian, antara lain dengan menggunakan sumber- sumber sosial yang ada di lingkungan untuk dijadikan tameng, motivasi, dan
dukungan dalam menghadapi masalah ketegangan yang dihadapi dan
14
memberikan kesuksesan. Individu yang tangguh mampu menghadapi dan
menerima kesukaran, kesulitan, masalah dengan tabah. Tidak mudah goyah,
bimbang, takut dan kehilangan nyali. Individu yang tangguh tahan mengalami
tekanan, penderitaan, dan kemalangan. Individu tangguh tidak mundur dan
putus asa menghadapi cobaan dan petaka kehidupan (Hardjana, 1994).
Kemampuan individu dalam menghadapi berbagai kejadian hidup
yang menekan tidaklah sama, tetapi tergantung pada banyak hal, salah
satunya adalah kepribadian. Ada tipe kepribadian tertentu yang mudah
mengalami gangguan jika mengalami peristiwa-peristiwa yang menekan dan
menegangkan. Ada juga tipe kepribadian tertentu yang memiliki daya tahan
tinggi terhadap kejadian yang menegangkan. Tipe kepribadian yang
mempunyai kemampuan dan daya tahan terhadap stres adalah hardiness atau
hardy personality yang merupakan gagasan konsep Kobasa. Kobasa (dalam Rahmawan, 2010) mengemukakan bahwa hardiness
merupakan konstalasi dari karakteristik kepribadian yang dapat membantu
untuk melindungi individu dari pengaruh negatif stres. Hardiness menjadi
pertimbangan sebagai suatu bentuk sikap mental yang dapat mengurangi efek
stres secara fisik maupun mental pada individu. Individu dengan hardiness
yang tinggi akan memiliki kepercayaan bahwa semua masalah yang dihadapi,
termasuk segala masalah dan beban yang ada adalah sesuatu yang tidak
mungkin dihindari, sehingga individu dapat melakukan hal yang dianggap
tepat untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, individu dengan hardiness
yang rendah seringkali menganggap banyak hal sebagai suatu bentuk
15
ancaman dan sumber stres, sehingga ketika dirinya merasakan stres maka
konsekuensi negatif yang harus ia hadapi menjadi semakin berat (Vogt, Rizvi,
Shipherd dan Resick, 2008 dalam Fitroh, 2011).
Kepribadian tangguh (hardiness) (Hadjam, dalam Retnowati &
Munawaroh, 2009) terdiri dari tiga dimensi, yaitu: (1). Komitmen untuk
menemukan tujuan hidup yang bermakna (commitment). (2). Keyakinan akan
kemampuan mengontrol lingkungan dan peristiwa yang dihadapi (control).
(3). Keyakinan untuk dapat tumbuh dan berkembang baik dari pengalaman
positif maupun pengalaman negatif yang dialami individu (challenge).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar