Menurut Kobasa, 1979 (dalam Rahmawan, 2010) dimensi dari
hardiness adalah:
a. Commitment Vs Alienation Commitment
Commitment adalah kecenderungan individu untuk melibatkan diri
ke dalam apapun yang dilakukan individu. Individu yang mempunyai
commitment mempunyai kepercayaan yang dapat mengurangi ancaman
yang dapat dirasakan dari peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres.
Individu yang tangguh memiliki rasa bertujuan (a sense purpose) dalam
hidup. Karena itu hidupnya mempunyai arah dan tujuan untuk dijalanin dengan keyakinan serta gairah. Rasa bertujuan tersebut membuat individu
tangguh tidak mudah menyerah, mundur, dan putus asa. Demi tujuan
hidup, segala hambatan, halangan, dan masalah dengan berbagai cara,
dengan kekuatan sendiri atau dengan bantuan orang lain, dicoba diatasi
dan diselesaikan (Hardjana, 1994).
Individu yang tinggi pada dimensi commitment ini akan
berkomitmen dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan
interpersonal, keluarga, dan rendah diri. Dengan tidak adanya alienated, komitmen tercermin dalam kemampuan seseorang untuk terlibat, dari
pada merasa terasing. Dari titik pandang eksistensial, dimensi ini
merupakan rasa dasar seseorang layak, tujuan, dan akuntabilitas, yang
melindungi terhadap kelemahan sementara di bawah kesulitan (Bigbee,
1985; Pollock, 1989; Sullivan, 1993 dalam Bissonnette, 1998). Sebaliknya, individu yang alienated akan mudah merasa bosan atau
merasa tidak berarti, karena mereka memandang hidup sebagai suatu
yang membosankan dan tidak berarti, menarik diri dari tugas yang harus
dikerjakan, pasif dan lebih suka menghindar dari berbagai aktifitas.
Individu yang alienated akan menilai kejadian yang menimbulkan stres
sebagai sesuatu yang hanya dapat ditahan dan tidak dapat diperbaiki,
(Kobasa dalam Rahmawan 2010).
b. Control Vs Powerlessness
Kontrol (sebagai kontras dengan ketidakberdayaan) merangkum
keyakinan dalam kemampuan seseorang untuk mempengaruhi jalannya
17
peristiwa (Kobasa, Maddi, & Courington, dalam Waysman, Schwarzwald, Solomon, 2001). Aspek kontrol muncul dalam bentuk
kemampuan untuk mengendalikan diantara beragam tindakan yang dapat
diambil. Individu yang memiliki aspek kontrol tinggi juga memiliki
kendali kognitif atau kemampuan untuk menginterpretasikan, menilai,
menyatukan berbagai peristiwa kedalam rencana kehidupan selanjutnya.
Individu yang kuat dalam kontrol percaya bahwa mencoba
mempengaruhi hasil penyelesaian masalah sehingga membuat individu
lebih cenderung mengarah pada hasil yang berarti dari pada tenggelam
oleh ketidakberdayaan dalam menghadapi tekanan (Maddi, Kobasa,
Harvey, Fazel, Resurreccion, 2010). Powerlessness adalah perasaan pasif
dan akan selalu disakiti oleh hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dan
kurang memiliki inisiatif serta kurang dapat merasakan adanya sumber- sumber dalam dirinya, sehingga individu merasa tidak berdaya jika
menghadapi hal-hal yang dapat menimbulkan ketegangan atau tekanan
(dalam Rahmawan, 2010).
c. Challenge Vs Threatened
Keluwesan kognitif menjadikan individu terlatih untuk merespon
kejadian yang tidak terduga sebagai suatu masalah atau tantangan yang
perlu diatasi. Dengan demikian individu memandang hidup sebagai suatu
tantangan yang menyenangkan. Menurut Maddi dan Kobasa (dalam
Soderstrom, Dolbier, Leiferman, Steinhardt, 2000) tantangan
mencerminkan jangka pandangan hidup yang memungkinkan individu
18
untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan
daripada ancaman rasa keamanan atau kelangsungan hidup seseorang.
Individu yang tangguh melihat kesulitan dan masalah bukan sebagai
hambatan tetapi sebagai tantangan. Bagi orang yang tangguh, pasang
surutnya kehidupan, bukan merupakan kekacauan melainkan kesempatan
untuk tumbuh. Perubahan bukan faktor pengguncang keamanan,
melainkan kemungkinan untuk menjadi lebih baik (Hardjana, 1994)
Individu yang kuat dalam tantangan percaya bahwa ia berhak untuk
kenyamanan dan keamanan. Sebaliknya, individu melihat perubahan
sebagai alam dan kesempatan untuk, terus tumbuh dengan apa yang
dipelajari melalui pengalaman negatif maupun pengalaman positif (Maddi,
Harvey, Kobasa dkk, 2006). Sedangkan, individu yang threatened
menganggap bahwa sesuatu itu harus stabil karena kestabilan adalah
kewajaran dan ia khawatir dengan adanya perubahan karena dianggap
merusak dan menimbulkan rasa tidak aman dan menganggap bahwa
perubahan itu sebagai ancaman. Selain itu individu yang threatened tidak
bisa menyambut dengan baik perubahan atau memandang perubahan
sebagai ancaman daripada sebagai tantangan, dan selalu mengaitkan
dengan penekanan dan penghindaran (Kobasa 1979, dalam Rahmawan,
2010).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar