Sabtu, 05 November 2022

Dimensi Hardiness (skripsi, tesis, disertasi)

Menurut Kobasa, 1979 (dalam Rahmawan, 2010) dimensi dari hardiness adalah: a. Commitment Vs Alienation Commitment Commitment adalah kecenderungan individu untuk melibatkan diri ke dalam apapun yang dilakukan individu. Individu yang mempunyai commitment mempunyai kepercayaan yang dapat mengurangi ancaman yang dapat dirasakan dari peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres. Individu yang tangguh memiliki rasa bertujuan (a sense purpose) dalam hidup. Karena itu hidupnya mempunyai arah dan tujuan untuk dijalanin dengan keyakinan serta gairah. Rasa bertujuan tersebut membuat individu tangguh tidak mudah menyerah, mundur, dan putus asa. Demi tujuan hidup, segala hambatan, halangan, dan masalah dengan berbagai cara, dengan kekuatan sendiri atau dengan bantuan orang lain, dicoba diatasi dan diselesaikan (Hardjana, 1994). Individu yang tinggi pada dimensi commitment ini akan berkomitmen dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan interpersonal, keluarga, dan rendah diri. Dengan tidak adanya alienated, komitmen tercermin dalam kemampuan seseorang untuk terlibat, dari pada merasa terasing. Dari titik pandang eksistensial, dimensi ini merupakan rasa dasar seseorang layak, tujuan, dan akuntabilitas, yang melindungi terhadap kelemahan sementara di bawah kesulitan (Bigbee, 1985; Pollock, 1989; Sullivan, 1993 dalam Bissonnette, 1998). Sebaliknya, individu yang alienated akan mudah merasa bosan atau merasa tidak berarti, karena mereka memandang hidup sebagai suatu yang membosankan dan tidak berarti, menarik diri dari tugas yang harus dikerjakan, pasif dan lebih suka menghindar dari berbagai aktifitas. Individu yang alienated akan menilai kejadian yang menimbulkan stres sebagai sesuatu yang hanya dapat ditahan dan tidak dapat diperbaiki, (Kobasa dalam Rahmawan 2010). b. Control Vs Powerlessness Kontrol (sebagai kontras dengan ketidakberdayaan) merangkum keyakinan dalam kemampuan seseorang untuk mempengaruhi jalannya 17 peristiwa (Kobasa, Maddi, & Courington, dalam Waysman, Schwarzwald, Solomon, 2001). Aspek kontrol muncul dalam bentuk kemampuan untuk mengendalikan diantara beragam tindakan yang dapat diambil. Individu yang memiliki aspek kontrol tinggi juga memiliki kendali kognitif atau kemampuan untuk menginterpretasikan, menilai, menyatukan berbagai peristiwa kedalam rencana kehidupan selanjutnya. Individu yang kuat dalam kontrol percaya bahwa mencoba mempengaruhi hasil penyelesaian masalah sehingga membuat individu lebih cenderung mengarah pada hasil yang berarti dari pada tenggelam oleh ketidakberdayaan dalam menghadapi tekanan (Maddi, Kobasa, Harvey, Fazel, Resurreccion, 2010). Powerlessness adalah perasaan pasif dan akan selalu disakiti oleh hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dan kurang memiliki inisiatif serta kurang dapat merasakan adanya sumber- sumber dalam dirinya, sehingga individu merasa tidak berdaya jika menghadapi hal-hal yang dapat menimbulkan ketegangan atau tekanan (dalam Rahmawan, 2010). c. Challenge Vs Threatened Keluwesan kognitif menjadikan individu terlatih untuk merespon kejadian yang tidak terduga sebagai suatu masalah atau tantangan yang perlu diatasi. Dengan demikian individu memandang hidup sebagai suatu tantangan yang menyenangkan. Menurut Maddi dan Kobasa (dalam Soderstrom, Dolbier, Leiferman, Steinhardt, 2000) tantangan mencerminkan jangka pandangan hidup yang memungkinkan individu 18 untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan daripada ancaman rasa keamanan atau kelangsungan hidup seseorang. Individu yang tangguh melihat kesulitan dan masalah bukan sebagai hambatan tetapi sebagai tantangan. Bagi orang yang tangguh, pasang surutnya kehidupan, bukan merupakan kekacauan melainkan kesempatan untuk tumbuh. Perubahan bukan faktor pengguncang keamanan, melainkan kemungkinan untuk menjadi lebih baik (Hardjana, 1994) Individu yang kuat dalam tantangan percaya bahwa ia berhak untuk kenyamanan dan keamanan. Sebaliknya, individu melihat perubahan sebagai alam dan kesempatan untuk, terus tumbuh dengan apa yang dipelajari melalui pengalaman negatif maupun pengalaman positif (Maddi, Harvey, Kobasa dkk, 2006). Sedangkan, individu yang threatened menganggap bahwa sesuatu itu harus stabil karena kestabilan adalah kewajaran dan ia khawatir dengan adanya perubahan karena dianggap merusak dan menimbulkan rasa tidak aman dan menganggap bahwa perubahan itu sebagai ancaman. Selain itu individu yang threatened tidak bisa menyambut dengan baik perubahan atau memandang perubahan sebagai ancaman daripada sebagai tantangan, dan selalu mengaitkan dengan penekanan dan penghindaran (Kobasa 1979, dalam Rahmawan, 2010).

Tidak ada komentar: