Sabtu, 05 November 2022

Dampak pola asuh terhadap perilaku laki-laki dan perempuan (skripsi, tesis, disertasi)

Dalam beberapa keadaan, pengalaman masa kanak-kanak seseorang sangat menentukan dalam mengatasi stres. Modal paling kuat bagi individu adalah orang tua. Adanya perbedaan pola asuh dapat menyebabkan perbedaan kepribadian pada   anak. Misalnya Rohner (dalam Triandis, 1994) menemukan bahwa orangtua yang hangat terhadap anak-anak mereka memiliki anak-anak yang optimis dan baik dalam hal penyesuaian. Orangtua yang acuh tak acuh dan menolak terhadap anak- anak mereka, memiliki anak-anak yang pesimis, secara emosional tidak responsif, terganggu dalam hal membangun hubungan dengan orang lain. Perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya itu akan memberikan dampak bagi perilaku anak nantinya. Laki-laki akan berusaha menyikapi berbagai masalah yang dihadapinya dengan cara berfikir tenang atau mencari kesibukan atau menyibukkan dirinya dengan berbagai macam cara serta perilaku laki-laki cenderung agresif (Davidoff, 1991). Hal ini dikarenakan pada saat kanak-kanak, laki-laki dituntut untuk dapat menahan dan menangani emosinya. Di lain pihak, perempuan akan merasa terbebani dan memikirkan semua masalahnya, sehingga perempuan akan merasa perlu mendapatkan seseorang untuk diajak berbicara. Perempuan telah beradaptasi dengan peranannya sebagai pengasuh dan telah belajar mengatasi perasaan dan masalahnya dengan jalan berbicara atau berbagi dengan orang lain. Menurut Buddulph dan Biddulph (2006) ada yang istimewa dan berharga dalam diri anak laki-laki setiap orangtua punya anak laki-laki dan perempuan tentu bisa melihat perbedaan pembawaan di antara keduanya. Anak laki-laki punya sifat loyal, mampu menahan diri saat berhadapan dengan sesuatu yang menyenangkan, dan memiliki rasa keadilan yang kuat. Mereka suka humor, optimis, dan senang berada di posisi paling depan.   Kaum laki-laki lebih banyak menggunakan pikirannya, laki-laki senantiasa memegang inisiatif, sifatnya progresif dan hampir memberikan stimulus. Sehubungan dengan ini laki-laki senantiasa berusaha agar dunianya bisa dijadikan area kerja. Segenap keberadaan dirinya dilibatkan pada proyek-proyek tertentu dan pada material dari pekerjaanya (Kartono, 1992). Biddulph dan Biddulph (2006) menyebutkan orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan bersyarat biasanya sangat cermat serta kaku, menerapkan standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri dan bagi semua orang yang berada bersamanya. Anak perempuan yang menerima asukan ini akan merasakan dirinya selalu kurang, merasa tak pernah bisa memenuhi apa yang dituntut dari dirinya karena siapapun tak akan pernah sempurna. Kemungkinanya, anak perempuana kan tumbuh menjadi seorang dewasa yang selalu ingin lebihdan lebih dan selalu memaksa diri untuk meraih apa yang ia inginkan. Pada hakekatnya perempuan mampu bekerja yang sama baiknya dengan laki-laki, namun cara kerja perempuan berbeda dengan kaum laki-laki yaitu khas dengan sifat keperempuannya. Pada umumnya perempuan cenderung untuk mengeluarkan energi yang lebih atau cenderung bekerja dengan berat karena di dorong oleh kesadaran yang dalam akan tugas-tugas dan kewajiban yang membuat perempuan lebih tangguh ketika menghadapi hambatan dan tekanan dari lingkungannya (Kartono, 1992).

Tidak ada komentar: