Dalam beberapa keadaan, pengalaman masa kanak-kanak seseorang sangat
menentukan dalam mengatasi stres. Modal paling kuat bagi individu adalah orang
tua. Adanya perbedaan pola asuh dapat menyebabkan perbedaan kepribadian pada anak. Misalnya Rohner (dalam Triandis, 1994) menemukan bahwa orangtua yang
hangat terhadap anak-anak mereka memiliki anak-anak yang optimis dan baik
dalam hal penyesuaian. Orangtua yang acuh tak acuh dan menolak terhadap anak- anak mereka, memiliki anak-anak yang pesimis, secara emosional tidak responsif,
terganggu dalam hal membangun hubungan dengan orang lain.
Perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya itu akan memberikan dampak
bagi perilaku anak nantinya. Laki-laki akan berusaha menyikapi berbagai masalah
yang dihadapinya dengan cara berfikir tenang atau mencari kesibukan atau
menyibukkan dirinya dengan berbagai macam cara serta perilaku laki-laki
cenderung agresif (Davidoff, 1991). Hal ini dikarenakan pada saat kanak-kanak,
laki-laki dituntut untuk dapat menahan dan menangani emosinya. Di lain pihak,
perempuan akan merasa terbebani dan memikirkan semua masalahnya, sehingga
perempuan akan merasa perlu mendapatkan seseorang untuk diajak berbicara.
Perempuan telah beradaptasi dengan peranannya sebagai pengasuh dan telah
belajar mengatasi perasaan dan masalahnya dengan jalan berbicara atau berbagi
dengan orang lain. Menurut Buddulph dan Biddulph (2006) ada yang istimewa dan berharga
dalam diri anak laki-laki setiap orangtua punya anak laki-laki dan perempuan
tentu bisa melihat perbedaan pembawaan di antara keduanya. Anak laki-laki
punya sifat loyal, mampu menahan diri saat berhadapan dengan sesuatu yang
menyenangkan, dan memiliki rasa keadilan yang kuat. Mereka suka humor,
optimis, dan senang berada di posisi paling depan. Kaum laki-laki lebih banyak menggunakan pikirannya, laki-laki senantiasa
memegang inisiatif, sifatnya progresif dan hampir memberikan stimulus.
Sehubungan dengan ini laki-laki senantiasa berusaha agar dunianya bisa dijadikan
area kerja. Segenap keberadaan dirinya dilibatkan pada proyek-proyek tertentu
dan pada material dari pekerjaanya (Kartono, 1992).
Biddulph dan Biddulph (2006) menyebutkan orangtua yang menerapkan
gaya pengasuhan bersyarat biasanya sangat cermat serta kaku, menerapkan
standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri dan bagi semua orang yang berada
bersamanya. Anak perempuan yang menerima asukan ini akan merasakan dirinya
selalu kurang, merasa tak pernah bisa memenuhi apa yang dituntut dari dirinya
karena siapapun tak akan pernah sempurna. Kemungkinanya, anak perempuana
kan tumbuh menjadi seorang dewasa yang selalu ingin lebihdan lebih dan selalu
memaksa diri untuk meraih apa yang ia inginkan.
Pada hakekatnya perempuan mampu bekerja yang sama baiknya dengan
laki-laki, namun cara kerja perempuan berbeda dengan kaum laki-laki yaitu khas
dengan sifat keperempuannya. Pada umumnya perempuan cenderung untuk
mengeluarkan energi yang lebih atau cenderung bekerja dengan berat karena di
dorong oleh kesadaran yang dalam akan tugas-tugas dan kewajiban yang
membuat perempuan lebih tangguh ketika menghadapi hambatan dan tekanan dari
lingkungannya (Kartono, 1992).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar