Senin, 16 Mei 2022

Teknik Manajemen Laba (skripsi tesis dan disertasi)

Manajer bisa terlibat dalam berbagai teknikmanajemen laba. Teknik Manajemen Laba menurut Scott (2015) : (1) Taking a bath Pola ini biasanya terjadi pada periode dimana perusahaan sedang mengalami masalah organisasi (organizational stress) atau melakukan retrukturisasi. Pola ini juga terjadi pada periode dimana CEO baru menjabat karena CEO baru tersebut tidak mau disalahkan atas kinerja buruk CEO sebelumnya. (Scott, 2015). Pola Taking a bath atau big bath adalah praktik manajemen laba dengan menghapus aset-aset yang akan menimbulkan biaya di masa depan. Pembalikan akrual akan meningkatkan kemungkinan laba yang dilaporkan di masa depan, dengan kata lain menyimpan cadangan laba untuk masa depan. Cadangan laba ini bisa dimanfaatkan beberapa waktu kemudian ketika pengawasan dewan terhadap manajemen laba agresif sudah berkurang dan hak opsi sudah bisa digunakan. Pemanfaatan cadangan laba pada periode ini akan memaksimalkan keuntungan yang diperoleh CEO. (2) Income minimization Manajemen laba dilakukan dengan penghapusan aset kapital dan aset tak berwujud, serta membebankan pengeluaran R&D. Salah satu pertimbangan dalam menurunkan laba adalah peraturan pajak dan motivasi politis. 
Menurut Hu et al.(2015) manajer cenderung konservatif di awal masa jabatannya. Upaya untuk meminimalkan laba ini bisa dilakukan CEO diawal masa jabatnnya untuk menyimpan cadangan laba. Cadangan laba ini bisa dimanfaatkan CEO ketika memasuki periode dimana pengawasan dewan terhadap manajemen laba agresif sudah berkurang serta hak opsi sudah bisa digunakan. Praktik ini akan memaksimalkan keuntungan yang diperoleh CEO. (3) Income Maximation Praktik manajemen laba ini biasanya dilakukan oleh manajer untuk memaksimalkan perolehan bonus dan menghindari risiko pelanggaran perjanjian utang. Pemberian bonus berdasarkan besarnya laba akan mendorong manajer untuk memaksimalkan laba. Salah satu upaya untuk memaksimalkan laba tersebut adalah dengan memanfaatkan praktik manajemen laba. Praktik manajemen laba ini dimanfaatkan CEO beberapa waktu setelah menjabat, yaitu ketika pengawasan dewan terhadap manajemen laba agresif sudah berkurang, kemampuan manajer sudah semakin terasah melalui pengalaman, dan hak opsi sudah bisa digunakan seperti yang dikemukakan oleh Hu et al. (2015). Periode penggunaan hak opsi ini merupakan periode dimana masa tunggu atau vesting period sudah terlewati. (4) Income Smoothing Ada berbagai alasan yang mendorong manajer untuk melakukan praktik manajemen laba ini. Dilihat dari segi kompensasi, manajer yang tidak menyukai risiko mungkin melakukan income smoothing untuk mendapatkan kompensasi yang relatif konstan. Dilihat dari segi perjanjian utang, income smoothing dilakukan untuk mengurangi ketidakstabilan laba yang dilaporkan sehingga mengurangi kemungkinan pelanggaran terhadap perjanjian utang. 
 Manajer juga melakukan income smoothing untuk mengurangi risiko dipecat karena income smoothing mengurangi kemungkinan laba yang dilaporkan rendah.Terakhir, income smoothing dilakukan untuk menyampaikan kekuatan earnings persistentencekepada pasar.

Tidak ada komentar: