Manajer bisa terlibat dalam berbagai teknikmanajemen laba. Teknik
Manajemen Laba menurut Scott (2015) :
(1) Taking a bath
Pola ini biasanya terjadi pada periode dimana perusahaan sedang
mengalami masalah organisasi (organizational stress) atau melakukan
retrukturisasi. Pola ini juga terjadi pada periode dimana CEO baru
menjabat karena CEO baru tersebut tidak mau disalahkan atas kinerja
buruk CEO sebelumnya. (Scott, 2015). Pola Taking a bath atau big bath
adalah praktik manajemen laba dengan menghapus aset-aset yang akan
menimbulkan biaya di masa depan.
Pembalikan akrual akan meningkatkan kemungkinan laba yang
dilaporkan di masa depan, dengan kata lain menyimpan cadangan laba
untuk masa depan. Cadangan laba ini bisa dimanfaatkan beberapa waktu
kemudian ketika pengawasan dewan terhadap manajemen laba agresif
sudah berkurang dan hak opsi sudah bisa digunakan. Pemanfaatan
cadangan laba pada periode ini akan memaksimalkan keuntungan yang
diperoleh CEO.
(2) Income minimization
Manajemen laba dilakukan dengan penghapusan aset kapital dan aset
tak berwujud, serta membebankan pengeluaran R&D. Salah satu
pertimbangan dalam menurunkan laba adalah peraturan pajak dan motivasi
politis.
Menurut Hu et al.(2015) manajer cenderung konservatif di awal masa
jabatannya. Upaya untuk meminimalkan laba ini bisa dilakukan CEO
diawal masa jabatnnya untuk menyimpan cadangan laba. Cadangan laba
ini bisa dimanfaatkan CEO ketika memasuki periode dimana pengawasan
dewan terhadap manajemen laba agresif sudah berkurang serta hak opsi
sudah bisa digunakan. Praktik ini akan memaksimalkan keuntungan yang
diperoleh CEO.
(3) Income Maximation
Praktik manajemen laba ini biasanya dilakukan oleh manajer untuk
memaksimalkan perolehan bonus dan menghindari risiko pelanggaran
perjanjian utang. Pemberian bonus berdasarkan besarnya laba akan
mendorong manajer untuk memaksimalkan laba. Salah satu upaya untuk
memaksimalkan laba tersebut adalah dengan memanfaatkan praktik
manajemen laba.
Praktik manajemen laba ini dimanfaatkan CEO beberapa waktu
setelah menjabat, yaitu ketika pengawasan dewan terhadap manajemen
laba agresif sudah berkurang, kemampuan manajer sudah semakin terasah
melalui pengalaman, dan hak opsi sudah bisa digunakan seperti yang
dikemukakan oleh Hu et al. (2015). Periode penggunaan hak opsi ini
merupakan periode dimana masa tunggu atau vesting period sudah
terlewati.
(4) Income Smoothing
Ada berbagai alasan yang mendorong manajer untuk melakukan
praktik manajemen laba ini. Dilihat dari segi kompensasi, manajer yang
tidak menyukai risiko mungkin melakukan income smoothing untuk
mendapatkan kompensasi yang relatif konstan. Dilihat dari segi perjanjian
utang, income smoothing dilakukan untuk mengurangi ketidakstabilan laba
yang dilaporkan sehingga mengurangi kemungkinan pelanggaran terhadap
perjanjian utang.
Manajer juga melakukan income smoothing untuk mengurangi risiko
dipecat karena income smoothing mengurangi kemungkinan laba yang
dilaporkan rendah.Terakhir, income smoothing dilakukan untuk
menyampaikan kekuatan earnings persistentencekepada pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar