Pengembangan kawasan minapolitan berkelanjutan bukan tanpa hambatan dan tantangan. Kendala umum yang dihadapi dalam usaha pengembangan kawasan minapolitan diantaranya adanya otonomi daerah, kondisi wilayah yang variasinya tinggi, lemahnya ketersediaan data dan informasi, penataan ruang yang masih belum memadai, dan kerusakan ligkungan hidup (Sekjen KKP,2013).Otonomi daerah berimplikasi pada pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Keberlanjutan kebijakan pembangunan daerah sering menemui kendala ketika terjadi pergantian kepala daerah yang diikuti dengan perubahan personel struktural di tingkat daerah. Sayangnya proses pergantian personel tidak diikuti dengan transfer informasi yang baik dari personel sebelumnya.Adanya variasi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, kelembagaan, dan infrastruktur antar wilayah. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap strategi pengembangan minapolitan yang tentunya berbeda–beda pada masing-masing wilayah. Ketersediaan data dan informasi yang akurat dibutuhkan dalam proses pengembangan kawasan minapolitan. Lemahnya data dan
informasi berujung pada keputusan yang diambil sering tidak efektif, tidak efisien dan tidak tepat sasaran. Keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan membutuhkan kejelasaan konsep tata ruang wilayah pengembangan. Kurang memadainya konsep tata ruang wilayah yang masih sering terjadi pada skala nasional maupun skala regional beresiko mengancam keberlanjutan program pengembangan. Selain itu kerusakan lingkungan hidup yang terjadi, berakibat kepada penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Tanpa adanya kondisi lingkungan yang mendukung, keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan tidak pernah akan terjadi (Sekjen KKP, 2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar